New Policy: BSI Kembangkan QRIS di Arab Saudi, Transaksi Jemaah Haji dan Umrah Kini Jadi Lebih Mudah
New Policy: BSI Kembangkan QRIS di Arab Saudi, Transaksi Jemaah Haji dan Umrah Jadi Lebih Praktis
New Policy – Dalam upaya mendorong digitalisasi layanan keuangan, New Policy yang diumumkan oleh PT Bank Syariah Indonesia (BSI) menargetkan pengembangan QRIS (Quick Response Code for Islamic Services) di Arab Saudi. Inisiatif ini dirancang untuk memberikan kemudahan kepada jemaah haji dan umrah Indonesia yang bertransaksi di Tanah Suci, menjadikan proses pembayaran lebih efisien dan aman. Dengan implementasi QRIS di negara tersebut, BSI berharap memperkuat keterlibatan keuangan nasabah lokal di lingkungan transaksi internasional.
Strategi Ekspansi Berbasis Teknologi
“New Policy ini adalah bagian dari rencana jangka panjang BSI untuk memperluas layanan digital di pasar global,” terang Anton Sukarna, Kepala Divisi Penjualan dan Distribusi BSI, dalam wawancara terbaru. Dalam kurun waktu satu tahun terakhir, QRIS BSI telah mencakup enam negara, termasuk Arab Saudi, yang menjadi prioritas utama dalam pengembangan ekosistem transaksi lintas batas.
Penyederhanaan proses pembayaran melalui QRIS merupakan salah satu elemen kunci dari New Policy yang mendorong BSI menjadi bank syariah terdepan di Asia Tenggara. Antara lain, layanan ini memungkinkan penggunaan uang digital tanpa batasan geografis, termasuk untuk transaksi jemaah haji dan umrah yang sering menghadapi tantangan pembayaran tunai di luar negeri. Dengan demikian, kebijakan baru ini berkontribusi pada peningkatan kenyamanan nasabah dalam menjalankan aktivitas keuangan selama ibadah.
Kemudahan Pembayaran untuk Jemaah Haji dan Umrah
Dalam New Policy, BSI juga mengintegrasikan fitur Soundbox di aplikasi Beyond Merchant Apps, yang mempercepat konfirmasi transaksi melalui notifikasi suara. Teknologi ini tidak hanya meningkatkan efisiensi internal merchant, tetapi juga memudahkan jemaah dalam memantau keuangan mereka secara real-time. Selain itu, QRIS BSI di Arab Saudi akan beroperasi dalam kerja sama dengan Bank Indonesia, yang sebelumnya telah menggalakkan penggunaan QRIS di berbagai kota suci untuk memperkuat ekosistem pembayaran nasional.
Anton menjelaskan bahwa New Policy tidak hanya mencakup ekspansi geografis, tetapi juga peningkatan infrastruktur teknologi. “QRIS cross border BSI saat ini sudah bisa digunakan di Arab Saudi dan beberapa negara lain, yang merupakan langkah strategis untuk memastikan jemaah tidak harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk memproses pembayaran,” tambahnya. Ini mencerminkan komitmen BSI untuk menjawab kebutuhan nasabah dalam konteks global.
Implementasi New Policy di Arab Saudi juga didukung oleh kebijakan pemerintah setempat yang memperbolehkan penggunaan visa umrah dengan berbagai metode pembayaran modern. Dengan QRIS, jemaah dapat melakukan transaksi langsung menggunakan kartu BSI, baik untuk pembelian barang di Mekah, Madinah, maupun pengeluaran lainnya, tanpa harus menukar uang tunai secara rutin. Hal ini tidak hanya menghemat waktu, tetapi juga mengurangi risiko kehilangan dana saat berada di luar negeri.
Perkembangan QRIS di Indonesia
Seiring New Policy, BSI juga memperkuat layanan QRIS di dalam negeri. Fitur-fitur baru seperti Soundbox di aplikasi Beyond Merchant Apps dirancang untuk mempermudah transaksi dalam jumlah besar, baik untuk usaha kecil maupun bisnis besar. Antara lain, sistem ini dapat diakses oleh pedagang maupun konsumen, mempercepat proses pembayaran melalui konfirmasi suara yang langsung dikirimkan ke pihak terkait.
Kepala Divisi Teknologi BSI, Rudi Prasetyo, menegaskan bahwa New Policy merupakan bagian dari strategi untuk menjadikan QRIS sebagai solusi pembayaran andal di berbagai sektor. “Pengembangan ini bertujuan menciptakan ekosistem transaksi yang lebih inklusif, terutama untuk masyarakat Indonesia yang berada di luar negeri,” ujarnya. Dengan peningkatan infrastruktur QRIS, BSI berharap mendorong penggunaan uang digital secara lebih luas, baik di dalam maupun luar negeri.
Penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan QRIS di Indonesia mencapai lebih dari 100 persen dalam setahun terakhir, menunjukkan adanya permintaan yang tinggi terhadap layanan ini. Dengan New Policy yang didorong oleh BSI, transaksi jemaah haji dan umrah tidak hanya menjadi lebih cepat, tetapi juga lebih transparan. Hal ini berpotensi meningkatkan kepercayaan nasabah terhadap layanan keuangan digital, yang menjadi fokus utama pemerintah Indonesia dalam mempromosikan ekonomi berbasis teknologi.