Beritanew
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

New Policy: Mengenal Front Paydari, Kekuatan Politik Garis Keras Baru yang Berusaha Kuasai Iran

Published Juni 11, 2026 · Updated Juni 11, 2026 · By Charles Jones

New Policy: Front Paydari, Kekuatan Politik Garis Keras Baru di Iran

New Policy - Front Paydari, atau Front Pemimpin Konservatif, kembali menjadi pusat perhatian dalam perubahan kekuasaan politik Iran sebagai bagian dari New Policy. Kelompok ini dianggap sebagai salah satu kekuatan garis keras yang aktif mencoba memengaruhi arah kebijakan negara. Dalam wawancara dengan Anadolu Agency (AA) yang disebut merdeka.com, Kamis (11/6/2026), mantan penasihat Presiden Iran Akbar Hashemi Rafsanjani menyoroti bahwa Front Paydari telah mengambil peran signifikan dalam menghadapi transisi kepemimpinan nasional. Meski belum sepenuhnya menguasai seluruh lembaga kekuasaan, mereka memperlihatkan kemampuan strategis dalam membentuk aliansi dan merancang langkah-langkah politik yang selaras dengan New Policy.

Perpaduan Antara Konservatif dan Masyarakat Hojjatiyeh

Menurut Rafsanjani, Front Paydari adalah hasil integrasi antara Masyarakat Hojjatiyeh, yang merupakan kelompok pemimpin spiritual dan politik Iran, dengan elemen-elemen konservatif tradisional. "Front Paydari muncul sebagai kombinasi antara pengaruh Masyarakat Hojjatiyeh dan kekuatan konservatif yang telah lama memegang kendali politik," jelasnya. Gerakan ini dikenal karena upayanya mengendalikan lembaga-lembaga kekuasaan seperti presiden dan eksekutif, namun hubungan internal antara konservatif dan Paydari mulai mengalami ketegangan seiring perbedaan visi politik. Selama masa kepemimpinan Mahmoud Ahmadinejad, Front Paydari berhasil menyebar pengaruhnya, tetapi keberhasilan mereka terhambat karena ketidakcocokan dengan rencana New Policy yang lebih modern.

"Mereka mengantisipasi bahwa Kepemimpinan Kedua (Ali Khamenei) akan berakhir karena faktor alam atau kecelakaan, dan telah menyiapkan kandidat seperti Mohammad Mehdi Mir Bakeri di Qom. Namun, dengan terpilihnya Mojtaba Khamenei, mereka gagal dalam upaya menggantinya," tegas Rafsanjani. Dengan adanya New Policy, Front Paydari berusaha mengakses pendekatan baru untuk mengamankan kekuasaan di masa depan, termasuk memperkuat pengaruhnya dalam peristiwa politik nasional.

Pemilu dan Penguasaan Parlemen

Sampai saat ini, Front Paydari belum bisa menguasai parlemen Iran secara mutlak. Meskipun mereka memiliki basis suara yang cukup signifikan, kekuasaan penuh tetap berada di tangan konservatif tradisional. "New Policy memungkinkan mereka memperoleh suara lebih besar dalam pemilu, tetapi mayoritas suara masih dimiliki oleh pihak-pihak yang berbeda," tambah Rafsanjani. Kesulitan ini terjadi karena Front Paydari harus bersaing dengan partai-partai lain yang juga memiliki agenda politik kuat.

Kekhawatiran utama Front Paydari adalah kurangnya partisipasi pemilih dalam beberapa pemilu terakhir. "Pemilih yang tidak aktif memberikan keuntungan kepada kelompok-kelompok garis keras, tetapi mereka juga membutuhkan dukungan lebih luas untuk memperkuat posisi mereka di parlemen," lanjutnya. Rafsanjani menekankan bahwa meski New Policy memberikan peluang, Front Paydari masih harus menemukan cara mengatasi ketidakseimbangan struktur kekuasaan politik yang ada.

Diplomasi dan Sikap Terhadap Amerika Serikat

Kelompok garis keras seperti Front Paydari memiliki sikap konservatif terhadap diplomasi dengan Amerika Serikat. Rafsanjani mengatakan, meskipun ada perbedaan pendapat dalam kelompok konservatif antara pendukung negosiasi dan penentang, New Policy membantu menyeimbangkan kedua pihak. "Front Paydari percaya bahwa setiap perang akan memberikan keuntungan politik, tetapi mereka juga sadar bahwa diplomasi harus tetap menjadi bagian dari strategi mereka," bebernya. Dalam konteks New Policy, mereka berusaha memperkuat posisi Iran di panggung internasional sambil mempertahankan nilai-nilai konservatif.

"Kita melihat bahwa New Policy memperlihatkan kemampuan Front Paydari untuk beradaptasi dengan perubahan kebijakan luar negeri Iran. Mereka menempatkan kekuatan diplomatik sebagai bagian dari rencana jangka panjang mereka," jelas Rafsanjani. Dengan adanya kebijakan yang lebih terbuka, Front Paydari berharap bisa menarik dukungan dari kalangan internasional sekaligus memperkuat pemerintahan di dalam negeri.

Strategi Kekuatan Politik di Masa Depan

Sebagai bagian dari New Policy, Front Paydari memperkenalkan strategi baru untuk memperkuat kekuasaan mereka. Rafsanjani menyoroti bahwa keberhasilan mereka tergantung pada kemampuan mengorganisir pemilih dan membangun aliansi politik yang luas. "Kekuatan politik baru seperti Front Paydari menghadapi tantangan besar, tetapi mereka punya potensi untuk menjadi pemenang di masa depan jika memperoleh suara yang cukup," katanya. Dalam konteks ini, New Policy menjadi katalisator untuk mengubah dinamika politik Iran.

Front Paydari juga sedang mempersiapkan diri untuk perubahan kepemimpinan, termasuk memilih figur yang memiliki pengaruh besar di kalangan konservatif. "New Policy memberikan keleluasaan bagi mereka untuk merancang strategi yang lebih progresif, tetapi mereka tetap mempertahankan prinsip-prinsip konservatif yang khas," tambah Rafsanjani. Dengan perubahan ini, Front Paydari diharapkan bisa menjaga konsistensi kebijakan di tingkat eksekutif dan legislatif, sambil memperluas pengaruhnya ke seluruh penjuru Iran.