Uncategorized
⚡ Anda membaca versi AMP yang dioptimalkan — Lihat versi lengkap →
Uncategorized

New Policy: Mual, Muntah hingga Terkulai Lemas, Puluhan Siswa SD di Surabaya Usai Santap Daging di Menu MBG

Susan Thomas ⏱ 3 min read

New Policy: Puluhan Siswa SD di Surabaya Alami Gejala Keracunan Setelah Makan Daging di MBG

New Policy – Sejumlah siswa SD di Surabaya, Jawa Timur, mengalami gejala keracunan makanan seperti mual, muntah, dan kelelahan setelah menyantap menu daging di program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang baru diterapkan. Kebijakan ini, sebagai bagian dari New Policy, bertujuan meningkatkan akses makanan bergizi bagi anak-anak. Namun, insiden ini menimbulkan kekhawatiran terkait keamanan bahan makanan dalam kerangka kebijakan tersebut.

Deteksi dan Penyelidikan Kasus di Surabaya

Insiden keracunan terjadi pada Senin (11/5) di beberapa sekolah di kawasan Tembok Dukuh. Puluhan siswa yang mengalami gejala seperti mual dan muntah langsung dibawa ke RS IBI Surabaya dan Puskesmas setempat. Dinas Kesehatan Kota Surabaya serta Tim Inafis Polrestabes Surabaya melakukan investigasi mendalam untuk memastikan penyebab pasti. Menurut drg Tyas Pranadani, Kepala Puskesmas Tembok Dukuh, menu MBG yang mengandung daging ayam kemerahan dan berbau amis menjadi fokus penyelidikan.

“Banyak (siswa) ya, sebagian sudah dibawa ke rumah sakit IBI,” ujar Tyas, yang menerima laporan dari orang tua murid. Ia menambahkan bahwa para siswa sebelumnya jarang diberi makan daging, sehingga kemungkinan besar gejala ini terkait dengan bahan yang baru diperkenalkan dalam New Policy.”

Menurut laporan, menu MBG yang diberikan terdiri dari nasi, telur puyuh, acar, pisang, dan susu. Namun, dalam kasus ini, daging ayam yang terlihat tidak segar menjadi perhatian. Dinas Kesehatan mengambil sampel makanan untuk analisis di laboratorium, dan hasilnya akan menentukan apakah kebijakan New Policy memerlukan revisi atau peningkatan standar kualitas bahan.

Kasus Serupa di Wilayah Lain

Gejala serupa juga terjadi di SMKN 11 Semarang, tempat puluhan siswa mengalami mual dan muntah setelah menyantap MBG. Kebijakan New Policy ini, yang ditujukan untuk memastikan makanan bergizi dan sehat, ternyata justru menjadi sumber kekhawatiran. Di Kudus, Dinas Kesehatan mengungkap bahwa sampel MBG dari SPPG Purwosari 01 positif terkontaminasi bakteri E. Coli, yang diduga menyebabkan keracunan massal di SMA Negeri 2 Kudus.

Selain itu, di Saptosari, Kabupaten Gunungkidul, DIY, sekitar 695 siswa diduga mengalami keracunan setelah makan MBG. Gejala seperti mual dan muntah melanda lebih dari seratus siswa, sementara di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, 34 siswa dari lima sekolah mengeluhkan kondisi tidak nyaman. Kebijakan New Policy yang menargetkan kualitas makanan juga mencakup area ini, tetapi tampaknya masih perlu penyesuaian.

Dinas Kesehatan OKU sedang menyelidiki kasus keracunan yang menimpa belasan siswa SMP setelah mengonsumsi MBG. Menu yang diberikan, seperti nasi goreng dan telur ceplok, menjadi objek pemeriksaan. Puluhan siswa menjalani rawat inap di lima rumah sakit dan satu puskesmas, dengan penurunan jumlah pasien dibanding hari sebelumnya. Penyebab pasti masih dalam penyelidikan, tetapi New Policy dianggap sebagai faktor kunci dalam penyebaran gejala ini.

Sejumlah pihak menyoroti pentingnya mengawasi standar kebersihan dan kualitas bahan makanan dalam New Policy. Kebijakan ini seharusnya meningkatkan kesehatan dan nutrisi siswa, tetapi jika tidak dikelola dengan baik, risiko keracunan bisa meningkat. SPPG Mandiri Blado menarik 133 porsi MBG Batang dari SD Kalipancur 02 setelah aduan dari siswa, menunjukkan langkah responsif dalam menindaklanjuti kekhawatiran tersebut.

Kasus ini menimbulkan pertanyaan terkait efektivitas New Policy dalam menyediakan makanan yang aman dan bergizi. Meski program ini bertujuan memperbaiki kondisi gizi murid, kejadian keracunan menunjukkan bahwa komponen kualitas bahan dan proses pengawasan perlu diperkuat. Dinas Kesehatan dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi diharapkan dapat mengeluarkan panduan lebih jelas untuk menghindari insiden serupa di masa depan.

Bagikan artikel ini