Uncategorized
⚡ Anda membaca versi AMP yang dioptimalkan — Lihat versi lengkap →
Uncategorized

New Policy: Rupiah Melemah di Tengah Penguatan Ringgit dan Dolar Singapura, Ternyata Ini Penyebabnya

David Gonzalez ⏱ 3 min read

New Policy Berdampak pada Pelemahan Rupiah di Tengah Penguatan Ringgit dan Dolar Singapura

Kondisi Pasar Valuta Asing di Asia Pasca-Penerapan New Policy

New Policy – Per 12 Mei 2026, nilai tukar Rupiah terus mengalami tekanan akibat dampak New Policy yang diterapkan pemerintah Indonesia. Kurs Rupiah mencapai Rp17.510 per USD pada pukul 10.20 WIB, menunjukkan penurunan yang lebih dalam dibandingkan mata uang Asia lainnya. Namun, Ringgit Malaysia dan Dolar Singapura justru stabil, menunjukkan kekuatan ekonomi mereka yang berbeda dari Rupiah.

“New Policy memicu ketidakpastian pasar, terutama karena mengubah perspektif investor terhadap ekspektasi inflasi dan pertumbuhan ekonomi,” jelas Josua Pardede, Chief Economist Permata Bank, dalam Media Briefing PIER Economic Review Kuartal I-2026.

Penguatan Ringgit dan Dolar Singapura dapat dijelaskan melalui fondasi ekonomi yang lebih kuat, terutama di bidang transaksi berjalan dan respons terhadap kenaikan harga energi. Josua menambahkan bahwa New Policy juga memperkuat dampak konflik geopolitik di Timur Tengah, yang meningkatkan permintaan Dolar AS dan mengalihkan aliran modal asing ke mata uang lebih stabil.

Pelemahan Rupiah: Faktor Global yang Tidak Bisa Diabaikan

Pelemahan Rupiah dalam konteks New Policy tidak terjadi secara isolasi. Banyak mata uang Asia mengalami penurunan serupa, seperti Rupee India yang turun 5%, Peso Filipina 2,8%, dan Baht Thailand 2,2%. Meski Dolar AS mengalami penurunan di DXY, nilai Rupiah masih bergantung pada dinamika global.

“New Policy memperjelas bahwa Rupiah melemah karena ketergantungan pada Dolar AS yang tetap dominan, meski ada optimisme tentang stabilisasi konflik di Timur Tengah,” tambah Josua.

Kenaikan harga minyak dunia dan ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran menjadi faktor penurunan kepercayaan investor. Dengan adanya New Policy, pelaku pasar semakin memperhatikan risiko yang dihadapi Indonesia dalam menghadapi perubahan dinamika global.

Dalam beberapa sesi perdagangan, Rupiah terpantau melemah, seperti pada Jumat (8/5) sore, dimana nilai tukar mencapai Rp17.382 per USD. Tren ini mencerminkan tekanan yang terus berlangsung akibat New Policy yang mengubah outlook perekonomian. Meski ada sentimen positif dari optimisme, investor tetap mempertahankan preferensi terhadap aset aman.

Analisis Ekonomi: New Policy dan Stabilitas Mata Uang

Berdasarkan data tahunan, nilai tukar Rupiah pada 2023 masih lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, New Policy memicu perubahan tren yang terlihat pada awal April 2024, dimana Rupiah mengalami pelemahan 2,43% setelah menguat 0,77% di awal bulan. Perbedaan ini menunjukkan dampak lebih dalam dari kebijakan baru.

“New Policy menciptakan ketidakseimbangan antara inflasi dan pertumbuhan, sehingga memengaruhi nilai tukar Rupiah,” kata Josua. “Kebijakan ini menarik fokus pada kebutuhan likuiditas dan kepercayaan pasar yang berubah.”

Dalam konteks ekonomi global, New Policy menjadi bagian dari upaya Indonesia menghadapi tantangan inflasi dan kebutuhan devisa. Meski memperkuat prospek jangka panjang, kebijakan ini juga berkontribusi pada pelemahan Rupiah dalam jangka pendek. Faktor internasional seperti kenaikan suku bunga AS dan perpindahan dana ke luar negara berkembang berperan besar.

Kondisi ini membuka peluang bagi mata uang seperti Ringgit dan Dolar Singapura untuk menjadi alternatif yang lebih menarik bagi investor. New Policy memberikan sinyal bahwa Rupiah membutuhkan kebijakan stabilisasi eksternal, yang bisa berdampak pada kepercayaan pasar terhadap nilai tukar Indonesia.

Kenaikan harga energi global dan penegakan New Policy yang memengaruhi kebijakan moneter menjadi dua faktor utama pelemahan Rupiah. Dengan aliran dana ke aset aman dan kenaikan imbal hasil obligasi AS, investor cenderung memilih mata uang yang lebih diuntungkan dalam konteks New Policy.

Bagikan artikel ini