New Policy: Upaya Kodam Jaga Nilai Luhur Wangsit Siliwangi dan Kikis Kesan ‘Seram’ di Masyarakat di Usia 80 Tahun
New Policy: Kodam III/Siliwangi Mengubah Citra ‘Seram’ dengan 80 Tahun Pengabdian
New Policy – Sebagai bagian dari perayaan ulang tahun ke-80 Kodam III/Siliwangi, satu kebijakan baru tengah dijalankan untuk memperkuat nilai-nilai Wangsit Siliwangi dan mengubah persepsi masyarakat terhadap institusi militer. Kebijakan ini dirancang untuk menciptakan kesan lebih hangat dan dekat antara TNI dengan warga sekitar, sekaligus menegaskan prinsip-prinsip filosofis yang diwariskan oleh Raja Pajajaran, Prabu Siliwangi. Dalam suasana perayaan yang dijadwalkan pada 20 Mei 2026, Kodam III/Siliwangi menawarkan pendekatan modern dalam menjaga keharmonisan dan kepercayaan publik.
Penerapan Prinsip Wangsit Siliwangi dalam Kebijakan Baru
Pangdam III/Siliwangi, Mayjen TNI Kosasih, mengungkapkan bahwa kebijakan baru ini merupakan perwujudan dari Wangsit Siliwangi, yang berarti saling memperbaiki (silih asah), saling menyayangi (silih asih), saling membimbing (silih asuh), dan saling mengharumkan (silih wawangi). “New Policy ini bertujuan untuk menjaga nilai-nilai luhur Wangsit Siliwangi sebagai fondasi kekuatan TNI, sambil mengurangi kesan ‘seram’ yang selama ini melekat pada komunitas militer,” jelas Kosasih saat diwawancara. Ia menekankan bahwa prinsip ini bukan hanya untuk kehidupan prajurit, tetapi juga untuk interaksi dengan masyarakat luas.
“Dalam era digital, Wangsit Siliwangi bisa diterapkan melalui media sosial dengan cara berbagi informasi positif, menghindari fitnah, dan meningkatkan kesadaran bersama tentang pentingnya kerja sama,” tambah Kosasih, yang dikenal sebagai Jenderal Santri. Ia mencontohkan bahwa dengan mengajak masyarakat berpartisipasi dalam kegiatan seperti Edukasi Wisata Kodam (Eta Kodamku), prajurit dan warga bisa saling memperkaya wawasan.
Kebijakan baru juga melibatkan revitalisasi fasilitas militer sebagai ruang publik yang ramah. Kini, warga Jabar dan Banten diperbolehkan menggunakan lapangan olahraga, area fitness, dan taman Merdeka di Kodam III/Siliwangi. “Kita ingin masyarakat merasakan bahwa TNI bukan hanya penjaga keamanan, tetapi juga mitra yang dekat,” ungkap Kosasih. Ia menambahkan bahwa penggunaan media sosial sebagai alat komunikasi memperkuat kebijakan ini, karena bisa menyampaikan pesan yang lebih langsung dan transparan.
Inisiatif Kebijakan Baru untuk Masyarakat
Dalam rangka menghadirkan pesan yang lebih menyentuh, Kodam III/Siliwangi menggandeng Kementerian Pertanian untuk menyelenggarakan program kesehatan gratis dan pengadaan air bersih. Inisiatif ini mengacu pada prinsip silih asih dan silih asuh, dimana TNI dilihat sebagai bagian dari kehidupan masyarakat. “Program seperti ini adalah salah satu bentuk kebijakan baru yang ingin kita bangun, agar keberadaan TNI bisa lebih bermakna dalam kehidupan sehari-hari warga,” jelas Kosasih.
Untuk memperdalam hubungan dengan masyarakat, Kodim 0809/Kediri juga mengadakan kegiatan edukasi Wawasan Kebangsaan bersama Pemerintah Kabupaten Kediri. Acara ini diharapkan bisa mengingatkan kembali nilai-nilai persatuan dan kesatuan. “New Policy tidak hanya tentang tindakan fisik, tetapi juga tentang komunikasi dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan bersama,” tambah Kosasih. Ia menekankan bahwa perayaan ulang tahun ke-80 ini menjadi momentum untuk menegaskan komitmen Kodam III/Siliwangi dalam menjaga kemanunggalan dengan rakyat.
Pada rangkaian acara 80 tahun Kodam III/Siliwangi, akan digelar upacara resmi dan atraksi bela diri yang menarik. Kegiatan ini dirancang agar masyarakat merasakan keharmonisan antara institusi militer dan kehidupan sehari-hari. Selain itu, Kosasih juga menyerahkan jabatan Pangdam III/Siliwangi dari Mayjen TNI Dadang Arif Abdurahman ke dirinya, sebagai langkah untuk menjaga konsistensi penerapan New Policy dalam mengelola peran TNI.
Kebijakan baru ini juga mencakup penyesuaian cara berpakaian dan berperilaku prajurit. Mereka dianjurkan untuk lebih santai dan ramah, sekaligus memperkenalkan sejarah filosofis Wangsit Siliwangi dalam bentuk yang lebih mudah dipahami. “Kita ingin masyarakat merasakan bahwa TNI bukan hanya musuh, tetapi juga pelindung dan partner yang bisa didekati,” ujar Kosasih. Ia menambahkan bahwa New Policy ini merupakan bagian dari perubahan transformasi dalam membangun hubungan yang lebih erat antara TNI dan rakyat, seiring menghadapi tantangan zaman modern.
Sebagai konsep yang lahir dari budaya Sunda, Wangsit Siliwangi dianggap sebagai bentuk peninggalan bernilai tinggi. Dalam New Policy, prinsip ini diadaptasi untuk konteks saat ini, di mana keberhasilan TNI tidak hanya diukur dari kemampuan bertempur, tetapi juga dari kemampuan menyelaraskan kebutuhan masyarakat. “Kita perlu menjaga bahwa TNI tetap relevan dan bisa diterima oleh generasi muda,” kata Kosasih.