Beritanew
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Pemukul Polisi saat Demo di Mamuju Ditangkap – Aktor Intelektual Diburu

Published Juni 5, 2026 · Updated Juni 5, 2026 · By Michael Jackson

Pemukul Polisi saat Demo di Mamuju Ditangkap, Aktor Intelektual Diburu

Pemukul Polisi saat Demo di Mamuju - Sebuah aksi kekerasan yang terjadi selama demonstrasi di Mamuju akhirnya berujung pada penangkapan pelaku, yaitu AR (37), oleh Polresta Mamuju. Pemukul Polisi saat Demo di Mamuju ini ditangkap setelah kurang dari 24 jam setelah kejadian, menunjukkan tindakan cepat dan komitmen pihak kepolisian untuk mengusut kasus hingga tuntas. Tindakan AR yang memukul petugas kepolisian selama pengamanan unjuk rasa menjadi sorotan, dengan indikasi bahwa aksi tersebut tidak hanya sebagai bentuk penyampaian aspirasi, tetapi juga memiliki motif yang lebih dalam.

Latar Belakang Demonstrasi yang Ricuh

Demo di Mamuju berlangsung di kantor Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi Barat, yang awalnya diharapkan sebagai ajang penyampaian aspirasi masyarakat. Namun, aksi tersebut berubah menjadi kericuhan setelah terjadi konflik antara peserta unjuk rasa dengan petugas kepolisian. Kapolresta Mamuju, Kombes Pol Ferdyan Indra Fahmi, menjelaskan bahwa AR terlibat langsung dalam kekerasan terhadap polisi, dengan aksi yang terekam kamera dan viral di media sosial. Selain AR, penyidik juga menemukan petunjuk adanya pihak ketiga yang diduga menjadi penggerak massa di belakang aksi tersebut.

Menurut Ferdyan, terdapat indikasi bahwa kontraktor atau pengusaha tertentu merasa kecewa karena tidak mendapatkan proyek di kantor BWS Sulbar tahun ini. Kelompok mahasiswa dan elemen masyarakat yang terlibat dalam aksi tersebut dikira sebagai pihak yang terpilih untuk menyuarakan kekecewaan mereka. "Kasus ini tidak hanya tentang kekerasan, tetapi juga terkait penyebab utama yang mendorong masyarakat untuk memicu kerusuhan," ungkap Ferdyan dalam keterangan tertulisnya, Kamis (4/6).

Pengembangan Kasus oleh Penyidik

Penyidikan yang dilakukan Polresta Mamuju menunjukkan bahwa pelaku kekerasan bukan hanya AR, tetapi juga ada koordinator lapangan yang memicu kericuhan. Dalam penyelidikan, Ferdyan menyebut bahwa dana sekitar Rp100 ribu per orang diberikan kepada peserta aksi untuk mendanai tindakan anarkis, termasuk pembuatan bom molotov. "Kami sedang mengembangkan kasus ini hingga ke dalang dan penyandang dana," tegas Ferdyan. Indikasi ini mengungkap bahwa aksi tidak bersifat spontan, melainkan terencana.

Sejumlah saksi menyebut bahwa peserta aksi diberi instruksi untuk menyerang polisi dan menimbulkan suasana kacau di lokasi. Aksi ini sekaligus memicu peristiwa di Gedung DPRD NTB, yang menjadi bahan penelusuran tambahan oleh penyidik. Kapolda NTB Irjen Pol Hadi Gunawan menegaskan bahwa pelaku perusakan akan ditindak tegas, sebagaimana upaya pihak kepolisian untuk memastikan keadilan dan transparansi dalam penyelidikan.

Ketua BWS Sulbar, dalam pernyataan terpisah, menyampaikan bahwa konflik tersebut berdampak pada operasional kantor dan kepercayaan masyarakat terhadap pihak kepolisian. "Kami berharap dengan penangkapan AR, kasus ini bisa diungkap secara menyeluruh," ujarnya. Meski demikian, masyarakat masih menunggu informasi lebih lanjut tentang siapa sebenarnya aktor intelektual di balik aksi tersebut, yang diduga berkaitan dengan kepentingan tertentu.

Proses Penyelidikan dan Perkembangan

Proses penyelidikan yang sedang berlangsung di Mamuju menunjukkan bahwa polisi berupaya mempercepat penemuan aktor intelektual. Dalam penyelidikan, tim investigasi menemukan bukti-bukti seperti surat perintah aksi, bukti keuangan, dan pernyataan dari saksi mata. Ferdyan menjelaskan bahwa semua bukti tersebut akan digunakan untuk memastikan pelaku tidak hanya dihukum, tetapi juga terungkap motif kekerasan yang dilakukan.

Selain AR, ada sekitar lima orang lain yang masih dalam pengejaran penyidik. Mereka dikenai dugaan tindak pidana pemukulan dan perusakan. "Pemukulan terhadap polisi merupakan tindakan yang sangat serius," jelas Ferdyan. Kejadian ini juga memicu reaksi dari pihak-pihak lain, termasuk kelompok masyarakat yang menuntut kejelasan atas penyebab konflik tersebut.

Dalam upaya meningkatkan transparansi, Polresta Mamuju berencana mengadakan jumpa pers untuk memperjelas peran setiap pelaku. Ferdyan menegaskan bahwa hasil pemeriksaan awal mengungkap bahwa aksi demo di Mamuju bukan hanya tentang kepentingan lokal, tetapi juga terkait isu nasional yang berkembang. "Kami yakin semua bukti akan terungkap dan pelaku akan diadili sesuai prosedur hukum," tegasnya.