Special Plan: 30 WNA di Bali Direkrut untuk Operator Scam Internasional, Ada Atribut FBI saat Guest House Digerebek
30 WNA di Bali Direkrut untuk Operator Scam Internasional, Ada Atribut FBI saat Guest House Digerebek
Special Plan – Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Bali, I Gede Adhi Mulyawarman, mengungkap bahwa kasus ini muncul dari adanya laporan mengenai dugaan penculikan terhadap warga negara asing. Dalam penyelidikan, Polda Bali bekerja sama dengan Polresta Denpasar menemukan fakta baru mengenai kelompok yang terdiri dari 30 orang, yang terbagi menjadi warga negara asing (WNA) dan warga negara Indonesia (WNI), yang sedang dijaga di sebuah penginapan di Kuta, Badung, Bali.
Awalnya, para tersangka diduga menjadi korban penyekapan. Namun, setelah investigasi lebih lanjut, polisi menemukan petunjuk bahwa mereka justru siap menjalankan kegiatan penipuan daring secara internasional. “Dari informasi yang kami peroleh, terjadi penculikan terhadap warga negara asing,” tutur Kombes Adhi Mulyawarman di Mapolresta Denpasar, Rabu (13/4).
Di lokasi kejadian, petugas menemukan sekitar 30 orang berada di dalam penginapan. Mereka terdiri dari 5 WNA dari Tiongkok, 4 WNA dari Taiwan, 1 WNA dari Malaysia, 4 WNA dari Kenya, 12 WNA dari Filipina, serta 4 WNI. “Setelah kita hitung, jumlah mereka mencapai 30 orang di lokasi plus beberapa karyawan. Penginapan ini berlantai dua, dengan beberapa kamar di lantai atas,” imbuhnya.
Dalam proses penyelidikan, tim kepolisian memeriksa apakah ada tindak pidana penculikan, penyekapan, atau perdagangan orang. Namun, hasilnya menunjukkan bahwa mereka sedang mempersiapkan operasi penipuan skala internasional. “Dari olah TKP dan analisis teknis, kami menemukan berbagai barang bukti yang menunjukkan mereka terlibat dalam kegiatan scamming,” jelas Adhi.
Bukan hanya itu, polisi juga menemukan atribut FBI, bendera, perangkat komputer, keyboard, Starlink, telepon genggam, iPad, serta alat komunikasi lainnya. “Dalam komunikasi mereka, ada bukti persiapan operasi yang cukup signifikan,” kata Adhi. Script atau naskah yang diduga digunakan untuk pelatihan dan implementasi penipuan daring juga ditemukan di lokasi tersebut.
Di dalam script, terdapat simulasi dan latihan terkait berbagai skenario kejahatan, termasuk masalah senjata, narkotika besar, dan tindak pidana lainnya. “Kami melihat adanya latihan, script, serta skenario yang telah dipersiapkan untuk kegiatan scamming,” lanjut Adhi.
Polda Bali juga menemukan indikasi rencana perekrutan tambahan dan pembangunan lokasi penampungan lain untuk memperluas jaringan kejahatan. “Kami analisis dan lidik lebih dalam, lalu menemukan bahwa mereka sedang mempersiapkan langkah besar,” ujar Kapolresta Denpasar, Leonardo David Simatupang.
Sejumlah WNA yang diamankan berencana menjadi operator. “Seluruh WNA yang diamankan telah diberikan ke pihak imigrasi untuk diproses lebih lanjut. Dari 26 orang, hanya 15 yang memiliki paspor, sementara 11 lainnya belum bisa menunjukkan dokumen kependudukan,” kata Kabid Intelijen dan Penindakan Keimigrasian Kantor Imigrasi Ngurah Rai, Raja Ulul Azmi Syahwali.