Beritanew
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Special Plan: Kolaborasi Indonesia-Australia Uji Kembangkan AI Pantau Kesehatan Ibu dan Anak di NTB

Published Juni 12, 2026 · Updated Juni 12, 2026 · By Anthony Taylor

Kolaborasi Indonesia-Australia Uji Kembangkan AI Pantau Kesehatan Ibu dan Anak di NTB

Special Plan adalah inisiatif riset kolaboratif antara Indonesia dan Australia yang tengah diuji coba di Nusa Tenggara Barat (NTB), khususnya di Lombok Barat dan Kabupaten Garut. Proyek ini bertujuan mengembangkan sistem digital berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan ibu dan anak. Teknologi yang diujicoba di berbagai fasilitas kesehatan ini dirancang untuk membantu tenaga medis mendeteksi risiko kehamilan lebih dini, serta menganalisis data yang tercatat dalam Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) secara lebih efisien.

Pendekatan Inovatif dalam Kesehatan Reproduksi

Special Plan merupakan bagian dari program KONEKSI, kerja sama strategis antara Australia dan Indonesia dalam bidang riset dan inovasi. Proyek ini melibatkan Summit Institute for Development (SID), Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation (CSIRO) Australia, Universitas Mataram, dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Dengan pendekatan multidisiplin, tim peneliti menggabungkan data dari KIA, Posyandu, dan Puskesmas untuk membangun model prediktif yang lebih akurat sesuai dengan konteks masyarakat Indonesia.

“Kami fokus pada bagaimana data yang biasanya dicatat secara manual di layanan kesehatan masyarakat bisa dianalisis menggunakan AI, sehingga prediksi risiko kehamilan lebih tepat dan berbasis bukti,” ujar Yuni Dwi Setiyawati, CEO Summit Institute for Development, saat berbicara di Posyandu Cempaka, Desa Mekarsari, Kecamatan Narmada, Lombok Barat, pada Rabu (10/6/2026).

AI-OCR, teknologi yang diintegrasikan ke dalam proyek, diharapkan mampu mempermudah proses identifikasi masalah kesehatan perinatal. Dengan kemampuan otomatisasi analisis data, sistem ini berpotensi mengurangi beban administratif bagi tenaga kesehatan di tingkat desa. Selain itu, teknologi ini juga membuka peluang untuk mempercepat diagnosis dan memberikan rekomendasi kesehatan yang lebih personalisasi bagi ibu hamil.

“Dengan AI-OCR, kami bisa mengubah data menjadi informasi yang lebih berguna, dan membangun sistem prediksi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat lokal,” tambah Yuni. “Ini bukan sekadar alat teknologi, tetapi langkah strategis untuk memperkuat sistem kesehatan di daerah terpencil.”

Proyek ini menerima dana hibah sebesar 700 ribu dolar Australia (sekitar Rp7,4 miliar), yang merupakan jumlah terbesar dalam skema KONEKSI. Yuni menjelaskan bahwa proposal terpilih karena mencakup bukan hanya konsep teoritis, tetapi juga rencana implementasi konkret di lapangan. Dana tersebut akan digunakan untuk pengembangan alat, pelatihan tenaga medis, dan evaluasi kinerja sistem di beberapa pusat layanan kesehatan.

Menurut Yuni, keberhasilan Special Plan bergantung pada adaptasi teknologi AI terhadap budaya dan pola kehidupan masyarakat NTB. “Data dari Posyandu dan Puskesmas lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat Indonesia dibandingkan data internasional,” tambahnya. Ini menunjukkan pentingnya pendekatan lokal dalam inovasi teknologi kesehatan.

Keberadaan proyek ini juga menunjukkan kemajuan teknologi AI di Indonesia, khususnya dalam bidang kesehatan. Dengan melibatkan institusi riset ternama dari Australia, Special Plan bertujuan menjadi contoh nyata integrasi teknologi canggih ke dalam sistem kesehatan nasional. Diperkirakan bahwa hasil penelitian ini akan menjadi dasar bagi peningkatan layanan kesehatan di wilayah lain, termasuk daerah terpencil yang masih menghadapi keterbatasan sumber daya medis.

Dengan fokus pada pendekatan Special Plan, proyek ini tidak hanya berkontribusi pada peningkatan kesehatan ibu dan anak, tetapi juga memperkuat kerja sama antar negara dalam menghadapi tantangan global di bidang kesehatan. Yuni berharap teknologi ini akan menjadi bagian dari jangka panjang peningkatan kualitas layanan kesehatan di Indonesia, dengan penggunaan AI yang lebih luas dan berkelanjutan.