Special Plan: Kurs Rupiah Tembus Rp17.500 per USD, Menkeu Purbaya: APBN Masih Relatif Aman
Special Plan: Rupiah Kurs Rp17.500 per USD, Menkeu Yakin APBN Aman
Nilai Tukar Rupiah Terkerek ke Rp17.500 per USD
Special Plan – Dalam situasi nilai tukar rupiah yang terus bergerak, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa pemerintah masih mampu mengelola subsidi dan menjaga kestabilan anggaran nasional. Pada perdagangan Selasa (12/5/2026) pukul 10.20 WIB, kurs rupiah mencapai Rp17.510 per dolar AS, sesuai data dari wise.com. Meski nilai tukar terus turun, Menkeu Purbaya menegaskan bahwa APBN tetap relatif aman dalam rangkaian strategi khusus yang diterapkan.
Analisis dan Strategi Stabilisasi
Ketidakpastian geopolitik global, khususnya di Timur Tengah, menjadi penyebab utama pelemahan rupiah. Dalam perhitungan anggaran 2026, Purbaya mengatakan bahwa nilai tukar rupiah diasumsikan lebih tinggi dari target makro APBN, sehingga dampaknya tidak seheboh yang mungkin terjadi. “Dalam kondisi saat ini, kurs tidak jauh berbeda dari asumsi awal, jadi kita bisa kontrol,” ungkapnya di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta.
“Kita akan kendalikan nilai tukar, bantu stabilkan, dan dukung BI dalam menjaga keseimbangan pasar keuangan,” jelas Purbaya.
Menurut Menkeu, defisit APBN tidak akan melampaui 3 persen meski ada gejolak ekonomi global. Salah satu indikator utama yang dipertimbangkan adalah harga minyak dunia. Dengan asumsi harga minyak tetap di atas USD 100 per barel, Purbaya yakin stabilitas anggaran bisa terjaga. “Special Plan ini dirancang untuk mengurangi tekanan, terutama dari perubahan kebijakan moneter internasional,” tambahnya.
Kebijakan Stabilisasi Rupiah
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa menyerahkan peran utama dalam stabilisasi rupiah kepada Bank Indonesia (BI). “Pemerintah fokus pada sisi kebijakan fiskal, sementara BI mengelola sisi moneter,” terangnya. Dalam Special Plan, pemerintah menyiapkan beberapa langkah, salah satunya adalah intervensi pada pasar obligasi.
Langkah tersebut dilakukan untuk mencegah kenaikan tingkat bunga (yield) yang berlebihan. “Dengan masuk ke bond market, kita bisa turunkan yield dan pastikan investor asing tetap berminat,” kata Purbaya. Selain itu, dana stabilisasi obligasi atau Bond Stabilization Fund (BSF) juga menjadi alat untuk mengamankan aliran dana ke pasar keuangan.
Ekonomi Nasional Tumbuh 5,61 Persen
Dalam penjelasannya, Purbaya menyebutkan pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 mencapai 5,61 persen, meningkat dari 5,39 persen di kuartal sebelumnya. Angka ini menunjukkan bahwa kondisi domestik masih kuat dan bisa menjadi penopang untuk penguatan rupiah. “Dalam dua hari, kita bisa mengatasi pelemahan kurs, terutama dengan dukungan dari aliran modal asing,” jelasnya.
Kondisi ekonomi yang stabil diharapkan dapat menarik investasi asing, terutama setelah pemerintah menerapkan Special Plan. Purbaya menegaskan bahwa kepercayaan investor terhadap pasar keuangan Indonesia tetap terjaga, meski ada tekanan dari luar. “Rupiah masih memiliki daya tahan, dan kita yakin bisa menguat hingga Rp15.000 per dolar AS,” tegasnya.
Peran Komite Stabilitas Sistem Keuangan
Kementerian Keuangan, BI, dan lembaga lain dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) terus bekerja sama untuk menjaga keseimbangan nilai tukar. Purbaya mengungkapkan bahwa pelemahan kurs bisa diatasi dalam waktu singkat, terutama dengan koordinasi yang lebih intensif. “Special Plan ini menjadi alat untuk mengendalikan dinamika ekonomi global,” ujarnya.
Dalam menjaga kestabilan, pemerintah juga memperkuat pilar-pilar ekonomi seperti pertumbuhan investasi, permintaan domestik, dan daya beli masyarakat. “Dengan kebijakan fiskal yang terkendali, kita bisa menopang stabilitas APBN dan kurs rupiah secara bersamaan,” pungkas Menkeu. Selain itu, pertumbuhan ekspor dan kebijakan moneter BI menjadi faktor penting dalam mencapai target Special Plan.
Dengan peningkatan indeks harga saham gabungan (IHSG) ke level 9.133,87 pada penutupan perdagangan hari ini, kondisi pasar keuangan nasional menunjukkan peningkatan. Purbaya menegaskan bahwa indikator ekonomi yang membaik dan aliran modal asing akan menjadi penopang utama untuk kinerja Special Plan. “Kita optimis bahwa rupiah bisa kembali ke level Rp15.000 per USD dalam jangka pendek,” katanya.