Special Plan: Limbah Sawit Berpotensi Diubah Jadi Sumber Energi, Dukung Target EBT 48 Persen di 2030
Special Plan: Limbah Sawit Berpotensi Jadi Sumber Energi Berkelanjutan untuk Target EBT 48 Persen di 2030
Special Plan - Dalam rangka mendorong transisi energi nasional, Special Plan yang dicanangkan PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) menyoroti potensi pembuatan gas biometana terkompresi (CBG) dari limbah cair kelapa sawit (POME). Special Plan ini bertujuan memanfaatkan sumber daya lokal untuk mengurangi emisi metana serta meningkatkan kemandirian energi Indonesia, sejalan dengan target bauran energi baru terbarukan (EBT) sebesar 44-48 persen pada 2030.
Strategi Ekonomi dan Lingkungan dalam Special Plan
Menurut Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir, Special Plan ini menawarkan solusi yang berkelanjutan dan ekonomis. "Dengan memanfaatkan limbah sawit, kita bisa mengurangi emisi karbon sekaligus mengubah sumber daya yang selama ini dianggap sebagai sampah menjadi energi bernilai tambah," jelasnya dalam forum Climate Policy Initiative (CPI) yang digelar Rabu (17/6). Ia menekankan bahwa Special Plan ini tidak hanya membantu mencapai target EBT nasional, tetapi juga memberikan dampak positif bagi sektor ekonomi lokal dan lingkungan.
“Kalau industri sawit bisa dimanfaatkan untuk energi ekonomis, potensinya sangat besar. Sumbernya ada, teknologinya siap, dan pembiayaan juga terjamin. Kuncinya adalah menyusun skema bisnis yang efektif agar bisa segera diterapkan,” tambah Hokkop.
Indonesia memiliki sekitar 3.000 pabrik kelapa sawit yang menghasilkan limbah cair sebanyak 130 juta meter kubik per tahun. Meski demikian, hingga saat ini hanya sebagian kecil dari total tersebut yang dimanfaatkan sebagai bahan baku energi. Special Plan berupaya memperluas penggunaan limbah sawit melalui pemanfaatan teknologi CBG, yang diprediksi bisa menekan emisi CO2e hingga 20 juta ton per tahun.
Peluang dan Tantangan Implementasi CBG dalam Special Plan
Special Plan ini menekankan pentingnya ekosistem terpadu dalam pengembangan CBG. PLN EPI berperan sebagai aggregator dan off-taker, menghubungkan pabrik sawit, teknologi, lembaga keuangan, dan sektor industri. Dengan pendekatan ini, Special Plan menargetkan peningkatan kapasitas produksi CBG dari 1.000 MMBtu pada 2026 menjadi 2.957 BBTU pada 2030.
Salah satu proyek percontohan yang sedang dijalankan adalah cofiring CBG di PLTGU Belawan, Sumatera Utara. Proyek ini membutuhkan 450 MMBTUD bio-CBG dari 330.000 meter kubik POME per tahun untuk mendukung cofiring 2,5 persen pada satu turbin gas 130 MW. Untuk empat turbin, dibutuhkan empat fasilitas CBG dengan investasi total USD 20 juta. Special Plan berharap proyek ini menjadi model implementasi yang bisa diadopsi di berbagai daerah.
“Implementasi ini diperkirakan mampu mengurangi emisi hingga 500 ribu ton CO2e,” katanya.
Dalam Special Plan, CBG dianggap sebagai jembatan antara keberlanjutan lingkungan dan penguatan sektor energi. Dengan mengeksploitasi limbah sawit, Indonesia tidak hanya mengurangi ketergantungan pada LNG, tetapi juga menciptakan nilai tambah bagi industri kelapa sawit. Menurut Hokkop, pemanfaatan CBG akan mempercepat pencapaian target bauran energi terbarukan tanpa membangun pembangkit baru secara besar-besaran.
Berikutnya, Special Plan juga menyoroti peran pemerintah dalam memastikan keberlanjutan proyek ini. Kebijakan yang didukung oleh Special Plan diharapkan bisa menciptakan regulasi yang mempermudah investasi dan pengembangan teknologi. Selain itu, Special Plan berfokus pada kolaborasi antar sektor, termasuk pertanian, energi, dan lingkungan, untuk memaksimalkan potensi limbah sawit.
Sumatera Utara, sebagai salah satu pusat industri kelapa sawit, dianggap sangat strategis untuk mendorong Special Plan. Wilayah ini memiliki akses mudah ke sumber daya dan infrastruktur yang mendukung pengembangan CBG. Selain itu, Special Plan juga memberikan panduan bagi daerah lain dalam mengeksploitasi limbah sawit secara terpadu.