Topics Covered: Bulog Pastikan Harga Ekspor Beras ke Malaysia di Atas HET Domestik, Untungkan Petani
Bulog Pastikan Harga Ekspor Beras ke Malaysia Diatas HET Domestik
Topics Covered – Upaya Perum Bulog meningkatkan kesejahteraan para petani dan mendukung pendapatan negara dilakukan dengan memastikan harga beras yang dijual ke Malaysia tetap di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) lokal. Langkah ini diambil sebagai bagian dari kebijakan pemerintah untuk memperkuat posisi Indonesia dalam pasar pangan internasional. Kebijakan tersebut diperkuat oleh instruksi langsung dari Presiden Prabowo Subianto, yang menekankan pentingnya keuntungan bagi produsen lokal.
Kunjungan Teknis ke Sarawak untuk Finalisasi Perjanjian
Setelah perayaan Idul Adha 1447 H/2026 M, Perum Bulog bersama tim Kementerian Pertanian melakukan kunjungan teknis ke Sarawak, Malaysia, untuk memastikan kesepakatan ekspor beras berjalan lancar. Dalam pertemuan tersebut, fokus utama adalah menegaskan komitmen harga ekspor yang diharapkan mencapai angka lebih tinggi dari HET domestik. Diskusi juga melibatkan Direktur Pemasaran, Menteri Pertanian, dan Kepala Badan Pangan Nasional, Andi Amran Sulaiman, untuk menyamakan persepsi tentang mekanisme perdagangan yang optimal.
Kebijakan harga ekspor yang diusung Bulog bertujuan memberikan insentif bagi petani. Saat ini, HET beras premium di Indonesia berkisar antara Rp14.900 hingga Rp15.800 per kilogram, sementara penawaran ekspor ke Malaysia dijaga di atas angka tersebut. Dengan selisih harga yang signifikan, keuntungan langsung akan dialirkan kepada produsen, sehingga meningkatkan kesejahteraan mereka. Pemerintah juga menilai ini sebagai langkah strategis untuk meningkatkan nilai tambah dari sektor pertanian.
Strategi Ekspor dan Kontribusi bagi Ketahanan Pangan
Langkah strategis ini tidak hanya memperkuat eksportasi beras, tetapi juga memastikan stabilitas harga di pasar dalam negeri. Dengan harga ekspor yang lebih tinggi, Bulog berharap dapat menarik investasi di sektor pertanian dan mendorong pengembangan infrastruktur logistik. Selain itu, pengiriman beras ke Malaysia diharapkan meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global, sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor bahan pokok.
Perum Bulog Cabang Belitung juga menjadi contoh konkret dari implementasi kebijakan ini. Di sana, mereka siap membeli beras dari petani dengan harga Rp12.000 per kg, yang sejalan dengan upaya menjaga keseimbangan pasokan dan harga. Kebijakan ini menjadi bagian dari visi pemerintah mencapai swasembada pangan, sekaligus memperkuat keterlibatan Indonesia dalam perdagangan pangan regional. Topics Covered juga mencakup peningkatan transparansi harga, yang dinilai penting untuk membangun kepercayaan para pelaku usaha.
Kesiapan Infrastruktur dan Sistem Logistik
Persiapan ekspor beras ke Malaysia melibatkan evaluasi berbagai opsi pengiriman, termasuk sistem pelabuhan ke pelabuhan (port to port) dan pembelian langsung di Pelabuhan Priok, Jakarta. Dengan memperkuat sistem logistik, Bulog berupaya meminimalkan biaya distribusi dan mempercepat proses ekspor. Hal ini tidak hanya meningkatkan efisiensi, tetapi juga membantu menjaga kualitas beras yang dikirimkan. Topics Covered menyebutkan bahwa kebijakan ini sejalan dengan upaya peningkatan kualitas produk pangan Indonesia secara keseluruhan.
Dalam pertemuan teknis di Sarawak, Bulog juga berdiskusi tentang potensi ekspor beras premium sebanyak 1 juta ton ke Asia Tenggara mulai 2026. Ini menjadi bagian dari agenda pemerintah untuk membangun ekosistem perdagangan pangan yang lebih mandiri. Dengan harga ekspor yang dijaga di atas HET, keuntungan tidak hanya terdapat di tingkat nasional, tetapi juga memberikan dampak positif pada daerah penghasil beras, seperti Belitung dan sekitarnya.
“Kita siap mengekspor beras premium 1 juta ton ke negara-negara Asia Tenggara mulai 2026, sebagai bagian dari era baru swasembada pangan Indonesia,” ujar Rizal Ramdhani, Direktur Utama Perum Bulog, dalam wawancara dengan media.