Beritanew
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Topics Covered: Kementan Pastikan Survei Investigasi Desain Program Cetak Sawah di Kalimantan Terealisasi 100 Persen

Published Juni 7, 2026 · Updated Juni 7, 2026 · By Michael Jackson

Kementan Pastikan Survei Desain Program Cetak Sawah Kalimantan Terealisasi 100%

Topics Covered: Kementerian Pertanian (Kementan) secara resmi mengumumkan bahwa Survei Investigasi Desain (SID) Program Cetak Sawah Kalimantan telah terealisasi secara penuh, mencapai 100% penyelesaian. Total area yang terverifikasi mencapai 16.450 hektare, menjadi dasar untuk pengembangan program pertanian tahun 2026. Realisasi ini menunjukkan komitmen Kementan dalam mempercepat proses ketahanan pangan nasional.

Kesiapan Teknis Lapangan

Proses survei dijalankan secara intensif dengan menggandeng berbagai stakeholder di lapangan. Direktur Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian, Hermanto, menyatakan bahwa SID dilakukan secara terpadu untuk mengidentifikasi lokasi terbaik serta memastikan ketersediaan infrastruktur pertanian. "Kita ingin membangun sawah yang optimal, sehingga mampu meningkatkan produksi pangan secara signifikan," ujarnya.

"Program Cetak Sawah Kalimantan dirancang untuk mempercepat pengembangan lahan pertanian melalui skema swakelola dan paket penyedia. Dengan melakukan SID secara menyeluruh, kita bisa meminimalkan risiko kesalahan alokasi dan mempercepat pemerintah daerah dalam pelaksanaan," tambah Hermanto.

Kementerian Pertanian membagi area program ke dalam dua skema utama: swakelola dan paket penyedia. Skema swakelola mengambil peran dominan, dengan 89,52% dari total 16.450 hektare, yaitu sekitar 14.726,25 hektare. Sementara skema paket penyedia digunakan untuk 10,48%, atau 1.724,70 hektare. Pendekatan ini memungkinkan fleksibilitas dalam penggunaan dana dan efisiensi dalam pengawasan.

Realisasi Wilayah dan Keterlibatan Pemerintah Daerah

Kalimantan Selatan menjadi provinsi pertama yang menyelesaikan seluruh area paket penyedia, dengan 1.724,70 hektare dalam tahap pengadaan lengkap. Di sisi lain, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur terus bergerak dengan mengimplementasikan skema swakelola. Kementan memastikan pemerintah daerah aktif terlibat dalam monitoring dan evaluasi, agar progres program tidak terhambat.

Proses realisasi juga mencakup pengawasan harian terhadap pelaksanaan teknis. "Kita mendorong kerja sama yang lebih kuat antara pusat dan daerah untuk mempercepat pembangunan sawah," jelas Hermanto. Dukungan dari pemerintah daerah dianggap kritis, karena pengadaan lahan dan infrastruktur memerlukan koordinasi yang terpadu.

Program ini bertujuan mengoptimalkan luas lahan pertanian yang ada. Dengan SID yang sempurna, Kementan dapat memastikan pembangunan sawah dilakukan di daerah yang paling potensial, baik secara geografis maupun secara sumber daya. Progres signifikan juga terlihat dari pembangunan lahan PCM dan MC-0, yang mencapai 16.095,34 hektare atau 97,84% dari total area.

Progres Nasional dan Fokus Utama

Program Cetak Sawah Kalimantan merupakan bagian dari upaya nasional Kementan untuk mencapai swasembada pangan. Dengan luas lahan yang diperluas, program ini diharapkan meningkatkan produksi pangan lokal, terutama di daerah-daerah yang terisolasi. "Ini adalah bagian dari perencanaan jangka panjang untuk meningkatkan ketahanan pangan nasional," kata Hermanto.

Kementan juga meninjau Program Cetak Sawah Merauke, Papua Selatan, yang menargetkan ekspansi hingga 50 ribu hektare pada 2026. Progres Kalimantan menjadi contoh nyata bahwa dengan penyelesaian SID secara lengkap, keberhasilan program bisa tercapai lebih cepat. Dukungan dari masyarakat setempat dan pengelolaan lahan secara efektif menjadi faktor utama keberhasilannya.

Topics Covered: Selain Kalimantan, Kementan juga fokus pada pengembangan sawah di daerah lain seperti Sulawesi dan Sumatra. Progres di Kalimantan membuktikan bahwa dengan SID yang matang, keberhasilan program bisa direalisasikan. "Kita perlu mengulang metode ini di daerah lain untuk memastikan konsistensi progres," saran Hermanto. Program ini juga menjadi referensi bagi pemerintah daerah lain dalam merancang strategi pertanian mereka sendiri.

Hasil Survei dan Proyeksi Masa Depan

Hasil survei menunjukkan bahwa area yang diverifikasi telah menyelesaikan tahapan awal, seperti pengukuran lahan, penilaian kelayakan, dan penandatanganan kontrak. Proses ini dianggap kritis untuk memastikan program tidak mengalami hambatan di masa depan. Dengan data yang lengkap, Kementan dapat merancang rencana penanaman padi yang lebih terarah.

Proyeksi ke depan menunjukkan bahwa program Cetak Sawah Kalimantan akan menjadi bagian penting dari pembangunan pertanian nasional. "SID ini menjadi dasar bagi pelaksanaan tahap selanjutnya, termasuk pengadaan benih dan pupuk," jelas Hermanto. Dengan penyelesaian 100% sebelum 2026, Kementan optimis bahwa program ini bisa menciptakan dampak signifikan dalam meningkatkan produksi pangan.