Topics Covered: Menkeu Purbaya Jawab Kritik Pedas Pengamat soal Pertumbuhan Ekonomi: Maunya Apa?
Topics Covered: Menkeu Purbaya Jawab Kritik terhadap Pertumbuhan Ekonomi: Maunya Apa?
Topics Covered – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan jawaban atas kritik pedas yang dilontarkan para pengamat terkait pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal pertama tahun 2026. Dalam jumpa pers bersama media, ia menjelaskan bahwa angka pertumbuhan sebesar 5,61 persen tahunan menunjukkan kinerja yang stabil, meskipun beberapa pihak menilai capaian ini hanya dipengaruhi oleh efek basis rendah. Menkeu Purbaya menegaskan bahwa pemerintah telah merancang strategi yang komprehensif untuk memastikan pertumbuhan ekonomi tetap berlangsung secara berkelanjutan.
Pertumbuhan Ekonomi yang Dinilai Konsisten
Dalam menjawab kritik terhadap pertumbuhan ekonomi, Purbaya Yudhi Sadewa menunjukkan bahwa tren peningkatan ekonomi telah terlihat sejak kuartal IV 2025. Pada periode tersebut, pertumbuhan mencapai 5,39 persen, yang menurut Menkeu Purbaya menunjukkan kestabilan makroekonomi. Ia mempertanyakan sikap skeptis dari sejumlah ekonom dalam negeri, mengingat bahwa angka pertumbuhan yang dianggap rendah atau tinggi tetap perlu dinilai secara objektif. Menkeu Purbaya menggarisbawahi bahwa kinerja ekonomi tidak bisa diukur hanya berdasarkan angka di satu periode tertentu.
“Jadi kalau angka jelek ribut, angka tinggi ribut. Jadi teman-teman ekonom tuh maunya apa?”
Kebijakan Fiskal dan Target Pertumbuhan
Dalam menjelaskan kebijakan fiskal, Menkeu Purbaya menyatakan bahwa pemerintah baru akan mempertimbangkan perubahan pajak jika ekonomi Indonesia mampu tumbuh di atas 6% secara konsisten selama beberapa kuartal. Fokus utama saat ini adalah menciptakan lingkungan usaha yang adil, agar sektor konvensional bisa bersaing dengan industri digital. Menurutnya, kebijakan yang diambil telah direncanakan dengan matang untuk mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan. “Pertumbuhan ekonomi yang diharapkan bukan hanya angka, tetapi juga kemampuan struktural untuk memperkuat daya tahan ekonomi,” tegas Purbaya.
Utang Negara: Strategi Terukur dan Produktif
Purbaya juga menjelaskan bahwa utang yang diambil pemerintah merupakan langkah strategis untuk mendukung ekspansi ekonomi. Ia menegaskan bahwa rasio utang Indonesia masih lebih baik dibandingkan banyak negara lainnya. “Utang itu bukan masalah, selama acuan-acuan yang digunakan menunjukkan bahwa pengeluaran tersebut berkesinambungan dan produktif,” tambahnya. Menurut Menkeu Purbaya, utang digunakan untuk membiayai proyek-proyek infrastruktur dan inovasi yang berdampak jangka panjang.
Pembandingan dengan Negara-Negara ASEAN
Dalam penjelasannya, Purbaya menyoroti bahwa rasio utang Indonesia tetap dalam batas yang aman. Ia menyebutkan bahwa di antara negara-negara Asia Tenggara, Indonesia termasuk yang paling baik. Contohnya, Singapura memiliki rasio utang hampir 180 persen terhadap PDB, sementara India meskipun pertumbuhan ekonominya lebih tinggi, defisit anggarannya juga lebih besar. Menkeu Purbaya menegaskan bahwa ekonomi Indonesia berada dalam posisi yang lebih kuat, sehingga dapat menyerap dana luar negeri tanpa merusak keseimbangan keuangan.
Topics Covered – Defisit anggaran APBN 2026 akan tetap dalam batas yang ditentukan. Purbaya menargetkan defisit tersebut bisa ditekan hingga di bawah 2,9 persen dari PDB. Meski ada penambahan utang, menurutnya, langkah ini masih terukur dan tidak membahayakan stabilitas ekonomi. “Ada, kalau defisit tambah kan, dari awal kan nambah sedikit tapi masih dalam limitnya. Ada penambahan utang tapi sebetulnya masih terkendali,” ujarnya.
Dalam rangkaian wawancara dengan media, Purbaya juga menyampaikan rencana untuk bertolak ke luar negeri guna menjelaskan kondisi dan kebijakan fiskal Indonesia kepada lembaga pemeringkat global. Ia yakin ekonomi RI tetap akan tumbuh di atas 5 persen dengan fondasi yang kuat. Purbaya menegaskan bahwa isu negatif tidak mengganggu fokus pemerintah dalam mencapai target pertumbuhan ekonomi yang lebih baik. “Kita tetap optimis, karena faktor-faktor pendukung sudah ada dan akan terus ditingkatkan,” kata Menkeu Purbaya.