Beritanew
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Waspada Pergerakan Tanah di Gununghalu Bandung Barat: Empat Rumah Rusak Parah – 37 Kepala keluarga Terancam

Published Mei 22, 2026 · Updated Mei 22, 2026 · By Michael Jackson

Waspada Pergerakan Tanah di Gununghalu Bandung Barat: 4 Rumah Rusak, 37 KK Terancam

Waspada Pergerakan Tanah di Gununghalu Bandung - Pergerakan tanah di Gununghalu Bandung Barat kembali menjadi perhatian utama masyarakat setelah empat unit rumah rusak parah dan sejumlah kepala keluarga (KK) terancam kehilangan tempat tinggal. Insiden ini terjadi di Kecamatan Gununghalu, Kabupaten Bandung Barat, yang saat ini berada dalam kondisi kritis akibat tanah yang terus bergerak. Bencana alam ini menggambarkan ancaman serius yang mengintai daerah tersebut, menurut laporan yang diterima dari warga setempat. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) KBB, Asep Sehabudin, mengonfirmasi bahwa pergerakan tanah terjadi dan mengakibatkan kerusakan yang cukup signifikan.

Kerusakan Struktural dan Pengambilan Langkah Darurat

Dalam beberapa hari terakhir, warga mengeluhkan bahwa retakan pada dinding dan lantai rumah mulai berkembang secara signifikan. Sejumlah bangunan yang rusak terlihat dalam kondisi kritis, dengan lebar retakan mencapai 5 hingga 8 sentimeter. Kondisi ini memicu ketakutan di tengah masyarakat, terutama karena pergerakan tanah tidak hanya memengaruhi struktur bangunan tetapi juga berpotensi menyebabkan longsor susulan.

"Ya, benar terjadi pergerakan tanah di Gununghalu. Ada empat rumah yang rusak parah, dengan kerusakan utama terjadi pada bagian dinding dan lantai," terang Asep Sehabudin saat dikonfirmasi, Kamis (21/5). Ia menambahkan bahwa pihaknya sudah mengimbau warga untuk tetap waspada, terutama saat hujan deras melanda daerah tersebut.

BPBD KBB berupaya memperkuat koordinasi dengan pihak terkait guna mengidentifikasi penyebab pasti pergerakan tanah. Meski belum ada hasil resmi, analisis awal menunjukkan bahwa kondisi tanah di wilayah tersebut cenderung rentan akibat faktor cuaca. Mereka juga mengingatkan masyarakat untuk siap mengungsi ke tempat yang lebih aman bila diperlukan, terutama pada malam hari saat hujan mengguyur.

Penyebab dan Upaya Mitigasi

Menurut BPBD, pergerakan tanah di Gununghalu dipicu oleh curah hujan tinggi yang terjadi sejak beberapa minggu terakhir. Curah hujan yang melebihi rata-rata di wilayah tersebut berpotensi memicu pengenduran tanah, sehingga memperparah risiko kerusakan. Dalam situasi darurat, pihak BPBD KBB bersurat ke Badan Geologi untuk melakukan kajian lebih lanjut.

"Kalau dugaan sementara mungkin tanahnya labil, ditambah sekarang masih turun hujan. Cuma untuk memastikan, kami akan bersurat ke pihak terkait (Badan Geologi) agar segera melakukan kajian. Nanti hasilnya akan menjadi penentu penanganan selanjutnya," jelas Asep Sehabudin.

Sejumlah warga yang tinggal di daerah rawan telah memperhatikan gejala pergerakan tanah sejak beberapa waktu lalu. Mereka mengeluhkan bahwa tanah di sekitar rumah mereka mulai bergeser, bahkan terdengar suara gemuruh saat hujan deras. Dengan kondisi yang terus memburuk, BPBD KBB berharap bisa memberikan rekomendasi yang lebih spesifik untuk mengurangi risiko kerusakan di masa depan.

Pergerakan tanah di Gununghalu bukanlah fenomena baru. Sebelumnya, wilayah tersebut sudah pernah mengalami gangguan serupa pada 10 April 2026, saat hujan deras melanda lima kecamatan. Dalam kejadian itu, 20 rumah rusak parah di Kampung Tambakan, Desa Bojong Kunci, Pameungpeuk, dan beberapa daerah lainnya. Namun, insiden terbaru yang terjadi pada 14 Mei 2026 menunjukkan bahwa masalah ini semakin kritis.

Kondisi Umum dan Dampak pada Masyarakat

Kebocoran air dan retakan di berbagai bagian rumah memaksa sejumlah warga mengungsi. Sebanyak 37 kepala keluarga yang tinggal di Kampung Legok Kadu, yang terdampak langsung, kini harus berpindah ke tempat penampungan. Beberapa dari mereka mengungkapkan kekhawatiran akan kondisi rumah mereka yang tidak stabil.

"Kami sudah mengambil langkah mengungsikan keluarga ke desa lain, karena takut tanahnya terus bergerak. Kondisi rumah kami sudah hampir ambruk, terutama bag