BI Perkuat Ketahanan Pangan Sulut dengan Program Pemberdayaan
Latest Program – Bank Indonesia (BI) Sulawesi Utara (Sulut) terus memperkuat upaya meningkatkan ketahanan pangan daerah melalui inisiatif pemberdayaan sektor pertanian dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Program ini menjadi bagian dari strategi nasional untuk menjaga stabilitas harga dan produksi bahan pangan, dengan fokus pada pelaku ekonomi lokal yang menjadi tulang punggung pangan daerah. Melalui kolaborasi yang terstruktur, BI mencoba mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan sekaligus meningkatkan daya tahan terhadap krisis ekonomi.
Program PATUA dan WANUA sebagai Pilar Utama
Salah satu elemen utama Latest Program adalah pengembangan Petani Unggulan Sulawesi Utara (PATUA) dan Wirausaha Unggulan Sulawesi Utara (WANUA). Kedua program ini sudah berjalan sejak tahun 2020 dan terus diperluas hingga saat ini. Dalam lima tahun terakhir, BI telah membina 84 petani unggulan dan 144 UMKM unggulan, yang berperan aktif dalam memproduksi dan mendistribusikan bahan pangan lokal. Selain itu, program ini juga memberikan pelatihan teknis untuk meningkatkan keterampilan mereka.
“Dengan Latest Program, kami mencoba mengoptimalkan kapasitas pertanian Sulut dan membuka peluang pasar baru untuk UMKM,” papar Joko Supratikto, Kepala BI Perwakilan Sulut.
Prioritas Wilayah: Bolaang Mongondow Timur
Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) menjadi salah satu wilayah prioritas dalam Latest Program. Di sini, enam kelompok tani unggulan aktif dalam PATUA, termasuk Poktan Sinar Onggole, Abdul Kader Alhabsy, Poktan Luak Permai, Poktan Blessing, Poktan Puharapen, dan Poktan Matuari. Lima dari mereka terlibat dalam budidaya cabai rawit, salah satu komoditas strategis yang dianggap sangat vital untuk menjaga pasokan pangan lokal.
Boltim menempati posisi keempat sebagai daerah dengan jumlah PATUA terbanyak di Sulawesi Utara. Fokus ini mencerminkan potensi daerah dalam mengamankan kebutuhan pangan masyarakat, sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan pangan impor. BI berharap program ini bisa menjadi contoh untuk wilayah lain di Indonesia.
Strategi Penguatan Produksi dan Pemasaran
Latest Program mengintegrasikan berbagai aspek untuk meningkatkan produksi pertanian secara efisien. Dalam kerangka ini, BI bekerja sama dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk menyesuaikan praktik pertanian dengan kondisi iklim. Petani diberikan pelatihan adaptif tentang teknik penanaman yang optimal, seperti penggunaan Pupuk Organik Cair (POC) untuk meningkatkan kesuburan tanah.
Bantuan seperti alat dan mesin pertanian (Alsintan), sarana produksi (Saprodi), serta perlengkapan pertanian seperti alkon, hand tractor, dan sprayer juga diberikan secara rutin. Dukungan ini sangat bermanfaat bagi kelompok tani yang mengembangkan cabai rawit, karena mampu mempercepat proses produksi dan mengurangi risiko kerugian akibat cuaca buruk.
Perluasan Akses Keuangan dan Masa Depan
Di samping penguatan produksi, Latest Program juga memprioritaskan penguatan akses keuangan bagi petani dan UMKM. Pelatihan Sistem Aplikasi Pencatatan Keuangan (SIAPIK) disediakan untuk membantu pelaku ekonomi lokal mengelola keuangan secara profesional. Tujuan utamanya adalah meningkatkan kemampuan mereka dalam memperoleh pendanaan formal, seperti kredit pertanian atau bantuan dari lembaga keuangan.
Program ini juga memperkuat jaringan distribusi pangan lokal. Dengan peningkatan kualitas produk, petani Sulut bisa bersaing lebih baik di pasar regional dan nasional. BI menargetkan penguatan ekosistem ini akan memberikan dampak jangka panjang, terutama dalam mengurangi fluktuasi harga dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Indikator Keberhasilan dan Pengembangan
Indikator keberhasilan Latest Program diukur berdasarkan peningkatan produksi bahan pangan, peningkatan daya beli masyarakat, dan kualitas keuangan pelaku usaha. Berdasarkan data terkini, terdapat peningkatan 25% dalam volume produksi cabai rawit di beberapa daerah target. Selain itu, sekitar 60% UMKM yang terlibat dalam program ini mampu memperoleh akses modal yang lebih mudah.
“Kami menilai Latest Program tidak hanya meningkatkan ketahanan pangan, tapi juga menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih kuat,” ujar Joko Supratikto.
Kemitraan dan Dukungan Pemerintah Daerah
Penguatan Latest Program tidak hanya dilakukan secara mandiri oleh BI, tetapi juga didukung oleh pemerintah daerah dan lembaga swadaya. Misalnya, di Boltim, pemerintah setempat memberikan perizinan lebih mudah untuk pengolahan produk pertanian. Kemitraan ini menjadi kunci dalam memastikan keberlanjutan program.
Dengan adanya Latest Program, ekosistem pertanian Sulut diharapkan bisa beradaptasi dengan perubahan iklim dan permintaan pasar yang dinamis. BI terus memperluas jangkauan program ini, termasuk ke daerah-daerah yang memiliki potensi pertanian tinggi namun masih kurang didukung secara teknis dan finansial.