Uncategorized
⚡ Anda membaca versi AMP yang dioptimalkan — Lihat versi lengkap →
Uncategorized

Key Discussion: Dubes Djauhari Dorong Hubungan Dagang RI-China Jangka Panjang, Bukan Sekadar Pembeli-Penjual

Charles Jones ⏱ 3 min read

Key Discussion: Dubes Djauhari Dorong Hubungan Dagang RI-China Jangka Panjang

Key Discussion menjadi fokus utama dalam Forum Bisnis Indonesia-China yang diadakan di Shanghai, Selasa, di mana Dubes RI untuk Tiongkok dan Mongolia, Djauhari Oratmangun, mengajak pelaku usaha kedua negara untuk memperkuat kemitraan ekonomi secara berkelanjutan. Tidak hanya sebatas transaksi jual beli, hubungan dagang ini dinilai perlu menjadi jembatan kolaborasi strategis, investasi, dan pertukaran teknologi. Pernyataan Djauhari disampaikan dalam acara yang dihadiri Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri serta sekitar 30 perwakilan bisnis dari Indonesia dan Tiongkok.

Transformasi Tiongkok Menjadi Mitra Teknologi

Dubes Djauhari menegaskan bahwa Tiongkok kini tidak hanya dianggap sebagai “pabrik dunia”, tetapi telah menjadi “laboratorium inovasi global”. Hal ini menuntut para pengusaha Indonesia untuk menempatkan negara tetangga sebagai mitra teknologi, produksi, dan akses ke rantai pasok internasional. Dalam Key Discussion, ia menyoroti bahwa transaksi ekonomi antara kedua negara harus diarahkan ke kolaborasi jangka panjang, bukan sekadar sekali jual beli.

“Saat ini adalah momen yang tepat untuk berinvestasi dan berkolaborasi,” ujar Djauhari, yang menambahkan bahwa produk Indonesia memiliki peluang besar untuk menembus pasar internasional. Dengan menaruh Tiongkok sebagai mitra strategis, keberlanjutan hubungan dagang bisa tercapai, sekaligus menciptakan nilai tambah bagi ekonomi kedua negara.

Keberhasilan Ekspor Produk Lokal di Tiongkok

Partisipasi produk lokal Indonesia di Tiongkok, seperti buah, kopi, rempah-rempah, dan makanan ringan, menjadi bukti komitmen Indonesia dalam meningkatkan daya saing ekspor. Dukungan insentif pemerintah diharapkan memperkuat posisi Indonesia sebagai mitra dagang utama Tiongkok sejak 2011. Forum ini juga berperan sebagai ajang dialog yang mendorong transaksi skala besar, sejalan dengan Key Discussion yang ingin mewujudkan kemitraan ekonomi yang lebih dalam.

Perdagangan RI-China telah mencatat pertumbuhan signifikan, dengan nilai total sebesar 167,5 miliar dolar AS pada 2025. Angka ini melebihi perdagangan dengan Uni Eropa (sekitar 30 miliar dolar AS) dan Amerika Serikat (kisaran 50 miliar dolar AS). Pemerintah Indonesia aktif menawarkan insentif menarik untuk hilirisasi industri, yang menjadi prioritas utama dalam pembangunan ekonomi nasional. Key Discussion dalam forum ini menyoroti pentingnya mengubah paradigma hubungan dagang menjadi kerja sama yang saling menguntungkan.

Potensi UMKM dalam Membuka Pasar Global

Sehari sebelum forum utama, potensi UMKM Indonesia dalam perdagangan internasional kembali terbukti. Dalam pameran makanan internasional SIAL Shanghai 2026, produk unggulan seperti keripik tempe, abon ikan, dan kopi mencatatkan transaksi sebesar 3,5 juta dolar AS. Partisipasi ini diinisiasi oleh Bank Indonesia setelah seleksi ketat dari ratusan peserta di sektor makanan dan minuman. Key Discussion menekankan bahwa UMKM perlu diperkuat sebagai pilar utama dalam mengeksplorasi peluang ekspor ke pasar global.

Keberhasilan UMKM di SIAL Shanghai menunjukkan daya saing produk lokal di kancah internasional, serta antusiasme pasar terhadap inovasi pangan. Acara seperti SIAL sangat krusial untuk memperluas jangkauan usaha dan mendorong ekspor yang lebih masif. Dengan memperkuat hubungan dagang jangka panjang, Indonesia dan Tiongkok bisa menggarisbawahi potensi ekonomi yang saling menguntungkan, sesuai dengan Key Discussion yang diusung.

Dubes Djauhari menegaskan bahwa kemitraan ekonomi RI-China harus dibangun berdasarkan kepercayaan dan visi bersama. Hal ini melibatkan peran aktif pemerintah dalam menciptakan kerangka regulasi yang mendukung investasi, sekaligus memberikan perlindungan bagi pelaku usaha nasional. Dalam Key Discussion, ia juga menyebutkan bahwa keterlibatan pemerintah dalam menyusun kebijakan perdagangan yang lebih inklusif akan mempercepat pertumbuhan ekonomi kedua negara.

Bagikan artikel ini