Key Discussion: Wagub Gorontalo Dorong Orang Tua Percaya Diri Dampingi Anak Tunarungu Raih Potensi Terbaik
Key Discussion tentang peran orang tua dalam mendukung anak-anak tunarungu menjadi fokus utama dalam acara sosialisasi yang digelar di Kota Gorontalo. Wakil Gubernur Gorontalo, Idah Syahidah Rusli Habibie, menekankan bahwa kepercayaan diri ibu dan bapak adalah kunci utama untuk membuka peluang pertumbuhan anak secara optimal. Dalam kesempatan tersebut, Idah Syahidah meminta para orang tua tidak perlu merasa ragu dalam mengajak anak-anak tunarungu berpartisipasi aktif di berbagai lingkungan sosial, karena potensi mereka bisa berkembang secara maksimal dengan dukungan yang tepat. Acara ini diselenggarakan oleh NOBEL Audiology Center dan menyoroti pentingnya terapi dini serta pendidikan kesehatan pendengaran untuk memastikan anak-anak memiliki kemampuan komunikasi yang baik.
Peran Orang Tua dalam Pembentukan Kepribadian Anak
Acara sosialisasi di Kelurahan Moodu, Sabtu lalu, dihadiri oleh sekitar 45 anak tunarungu beserta orang tua mereka. Key Discussion yang diangkat dalam acara ini menekankan bahwa peran orang tua tidak hanya terbatas pada memberikan perawatan medis, tetapi juga pada membangun mental dan emosi anak. Idah Syahidah menyampaikan bahwa anak-anak dengan gangguan pendengaran memiliki kemampuan yang sama dengan anak normal, asalkan diberi lingkungan yang mendukung. “Orang tua harus percaya diri dan tidak minder dalam menjalankan peran pendamping,” katanya, sambil menambahkan bahwa kegiatan bersama komunitas bisa meningkatkan keterampilan sosial dan memperkuat kepercayaan diri anak.
Dalam Key Discussion ini, Idah Syahidah juga mengingatkan bahwa edukasi tentang gangguan pendengaran sejak dini sangat penting. Ia menegaskan bahwa anak-anak tunarungu yang ditemani orang tua dengan percaya diri lebih mungkin meraih kesuksesan di masa depan. Selain itu, para peserta dijelaskan cara mengidentifikasi tanda-tanda gangguan pendengaran sejak bayi, serta teknik komunikasi yang efektif untuk memfasilitasi perkembangan anak. Hal ini menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam memperkuat kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan pendengaran.
Pembinaan Teknologi Pendengaran untuk Anak Kurang Mampu
Key Discussion tidak hanya membahas komunikasi manusia, tetapi juga tentang pemanfaatan teknologi pendengaran untuk meningkatkan kualitas hidup anak tunarungu. Direktur Utama NOBEL, Lewis Brata, menyampaikan bahwa lembaganya memberikan lima unit alat bantu dengar secara gratis kepada keluarga yang kurang mampu. Langkah ini diharapkan mampu mengurangi beban ekonomi orang tua dan memberikan akses yang lebih baik untuk pengembangan kemampuan anak. “Anak-anak ini tidak boleh tertinggal hanya karena keterbatasan fisiknya,” ujarnya, menegaskan bahwa teknologi pendengaran adalah bagian penting dari pendekatan holistik dalam mendukung pertumbuhan anak.
Key Discussion yang disampaikan oleh Wagub Idah Syahidah juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat. Ia menekankan bahwa kesehatan ibu dan anak sejak masa kehamilan adalah fondasi pertama untuk mencegah gangguan pendengaran yang mungkin terjadi di masa depan. Dengan memastikan ibu hamil menerima layanan kesehatan yang lengkap, risiko penyakit yang memengaruhi pendengaran anak bisa diminimalkan. Selain itu, Wagub mengapresiasi upaya pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah dalam mendorong slogan “Dua Anak Lebih Sehat” sebagai bentuk kesadaran keluarga tentang kebutuhan pemanfaatan layanan kesehatan secara optimal.
Key Discussion ini juga menjadi wadah untuk berbagi pengalaman orang tua yang telah berhasil mendampingi anak tunarungu. Salah satu ibu yang hadir bercerita tentang bagaimana kepercayaan diri dirinya berdampak langsung pada kinerja anaknya. “Saat saya percaya diri, anak pun mulai lebih aktif berbicara dan berinteraksi dengan teman-temannya,” ungkapnya. Hal ini memperkuat pesan bahwa kepercayaan diri orang tua adalah bahan bakar utama dalam mengembangkan potensi anak. Selain itu, pihak NOBEL juga menyediakan pelatihan bagi orang tua tentang penggunaan alat bantu dengar dan cara merawat kesehatan telinga anak.
Key Discussion menggambarkan bahwa pemerintah tidak hanya fokus pada perawatan medis, tetapi juga pada pemenuhan kebutuhan psikologis dan sosial anak tunarungu. Dalam pembukaan acara, Idah Syahidah menyatakan bahwa pendidikan inklusi harus diintegrasikan ke dalam sistem pembelajaran sejak dini. Ia menegaskan bahwa anak-anak tunarungu layak menikmati kesempatan pendidikan yang sama dengan anak lainnya. “Pemerintah Gorontalo siap mendukung seluruh lapisan masyarakat agar anak-anak tunarungu tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang,” tuturnya. Pesan ini diharapkan mampu memotivasi orang tua dan masyarakat untuk terus berpartisipasi dalam program peningkatan kesehatan pendengaran.