Main Agenda: Israel Terus Melanggar Gencatan Senjata di Gaza, BoP Malah Minta Hamas Lucuti Senjata
Pernyataan BoP Mengenai Pelanggaran Gencatan Senjata
Main Agenda – Dalam rangka Main Agenda yang diusung oleh Dewan Perdamaian (BoP), perwakilan internasional mengkritik terus-menerus kebijakan Israel yang dianggap mengganggu ketenangan di wilayah Gaza. Wakil tinggi BoP, Nickolay Mladenov, menegaskan bahwa meskipun gencatan senjata telah diresmikan, pelanggaran terhadap perjanjian masih berlangsung. “Kami tidak meminta Hamas untuk lenyap sebagai gerakan politik, namun terus mendorong kelompok bersenjata untuk melucuti senjata,” ujar Mladenov dalam konferensi pers di Yerusalem Timur, Rabu (13/5/2026), menurut laporan TRT.
“Gencatan senjata masih berjalan, tetapi tidak sempurna. Serangan dan tembakan yang tidak berhenti menjadi indikasi bahwa pihak Israel belum sepenuhnya memenuhi komitmen,” tambahnya, sementara mengingatkan bahwa konflik ini mengancam kehidupan ratusan ribu warga sipil di Gaza.
Mladenov menyebut bahwa pelanggaran terhadap perjanjian damai terjadi setiap hari, dengan beberapa kasus dianggap sangat serius. Dia menekankan bahwa Main Agenda harus menjadi fokus utama dalam upaya menstabilkan situasi, meski keberhasilan bergantung pada kerja sama pihak-pihak terlibat.
Komitmen Indonesia dan Pemecahan Konflik
Presiden Prabowo Subianto memberikan klarifikasi mengenai keputusan Indonesia untuk bergabung dengan BoP. Ia menegaskan bahwa tidak ada kepastian pembayaran iuran sebesar US$1 miliar yang dilaporkan sebelumnya, dan komitmen negara tetap berfokus pada kemerdekaan Palestina. “Misi utama kami adalah melindungi warga sipil, bukan mengurangi senjata Hamas,” jelas Prabowo, yang menekankan bahwa Main Agenda tetap menjadi jalan untuk mempercepat resolusi konflik.
“Kami tetap berpegang pada prinsip keutuhan bangsa dan kedaulatan Palestina. Main Agenda ini tidak akan mengubah tujuan kami, yaitu mencapai perdamaian melalui dialog, bukan penekanan kekuasaan,” tambah Prabowo dalam wawancara dengan media internasional.
Menurut data kesehatan Gaza, sejak gencatan senjata dimulai 10 Oktober 2025, lebih dari 850 warga tewas dan 2.400 lainnya terluka akibat serangan Israel. Hal ini memicu kekhawatiran bahwa Main Agenda yang diusung BoP justru memperparah penderitaan penduduk setempat. Beberapa negara Muslim, termasuk Mesir dan Qatar, berusaha menyediakan rancangan gencatan senjata sebagai solusi.
Struktur BoP dan Dinamika Internasional
Dewan Perdamaian (BoP) dibentuk Januari 2026 sebagai inisiatif Presiden AS Donald Trump, dengan tujuan menciptakan kesepakatan damai antara Israel dan Hamas. Meski Indonesia menjadi salah satu anggota, pemerintah mempercepat proses pengambilan keputusan karena tekanan eskalasi konflik di wilayah tersebut. “Main Agenda kami harus selaras dengan kebutuhan masyarakat internasional, termasuk dukungan dari negara-negara anggota BoP,” kata Mladenov dalam pidato terbarunya.
“Dukungan dari negara-negara Muslim sangat penting untuk keberhasilan Main Agenda ini. Kami percaya bahwa gencatan senjata bisa tercapai jika semua pihak menunjukkan keseriusan,” ujarnya, menyoroti peran Mesir dan Qatar dalam mediasi.
Pelanggaran akses bahan makanan oleh Israel ke Gaza selama 37 hari berturut-turut menjadi sorotan. Langkah ini dianggap memperburuk krisis humaniter yang sudah berlangsung sejak 10 Oktober 2025. Menteri luar negeri beberapa negara berkumpul di Istanbul untuk membahas proposal gencatan senjata, sekaligus meninjau komitmen Indonesia dalam Main Agenda.
Pengaruh Main Agenda pada Dinamika Diplomatik
Kebijakan Main Agenda terhadap gencatan senjata juga memengaruhi dinamika diplomatik antar-negara. Prabowo menyebut dukungan dari para ulama sebagai bentuk pengawasan terhadap keputusan Indonesia. “Jika Main Agenda tidak mendukung kemerdekaan Palestina, kami akan mempertimbangkan keluar dari BoP,” jelasnya, menunjukkan peran kritis ulama dalam membentuk kebijakan luar negeri.
“Main Agenda ini harus selaras dengan aspirasi rakyat Palestina. Kami tidak hanya menekankan perlindungan warga sipil, tetapi juga keadilan antara kedua pihak,” ujar Prabowo, menambahkan bahwa negara-negara anggota BoP diharapkan berkontribusi untuk mempercepat perundingan.
Di sisi lain, Pemimpin Dunia Antonio Guterres kembali menekankan perlunya gencatan senjata total. Ia menyatakan bahwa Main Agenda yang diusung BoP bisa menjadi acuan bagi pihak-pihak yang ingin mencapai perdamaian, asalkan ada komitmen nyata dari Israel untuk menghentikan serangan ke wilayah Palestina. Peran BoP sebagai pengatur dan pengawas diperlukan untuk memastikan keberlanjutan gencatan senjata.
Hasil dan Tanggung Jawab Global
Sebagai bagian dari Main Agenda, BoP berupaya menyeimbangkan kebutuhan pertahanan Hamas dengan keamanan warga sipil. Dengan 37 hari akses makanan ke Gaza yang dibatasi, kebutuhan pangan terus meningkat, menyulitkan upaya kehidupan sehari-hari masyarakat. “Main Agenda ini harus mencakup semua aspek, termasuk krisis kemanusiaan,” kata Mladenov, menyoroti pentingnya partisipasi internasional.
“Kami berharap Trump dapat terus memimpin upaya global untuk menekan Israel agar memenuhi Main Agenda gencatan senjata,” tambahnya, menyoroti peran AS sebagai pengaruh utama dalam perundingan.
Angka korban dan kebutuhan bantuan darurat memperkuat argumen bahwa Main Agenda harus menjadi fokus utama dalam kebijakan internasional. Dengan tekanan politik dari berbagai negara, BoP diharapkan dapat mempercepat proses mediasi dan memastikan keadilan bagi kedua pihak. Hal ini menjadi ujian bagi konsistensi komitmen negara-negara anggota BoP, termasuk Indonesia, dalam menyelesaikan konflik ini.
