Uncategorized

Main Agenda: Jelang Muktamar ke-35 NU, Kandidat Ketua Umum PBNU Lengkapi Syarat Kaderisasi dan Intensif Konsolidasi

Main Agenda: Jelang Muktamar ke-35 NU, Kandidat Ketua Umum PBNU Fokus Perkuat Kaderisasi dan Konsolidasi

Persiapan Pemilihan Ketua Umum PBNU Memanas

Main Agenda – Sebelum pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) pada Agustus 2026, sejumlah tokoh yang diperkirakan menjadi kandidat Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) semakin intensif membangun konsolidasi internal. Aktivitas ini mencerminkan upaya untuk menunjukkan komitmen terhadap pengembangan kader dan kesiapan menghadapi proses pemilihan yang akan berlangsung secara terbuka. Persiapan yang matang dianggap krusial untuk memastikan kandidat memiliki basis dukungan yang kuat sebelum proses resmi pencalonan dimulai.

Para kandidat ketua umum PBNU saat ini sedang fokus memenuhi syarat administratif sesuai Anggaran Rumah Tangga (ART) NU dan Peraturan Perkumpulan (Perkum) NU. Dalam ART NU Bab XIII Pasal 39, dijelaskan bahwa calon ketua umum harus memiliki pengalaman signifikan di struktur organisasi dan telah menyelesaikan pendidikan kaderisasi. Hal ini diperkuat oleh Perkum Nomor 3 Tahun 2025 yang menetapkan kriteria menjadi fungsionaris kepengurusan NU. Syarat ini bertujuan memastikan kepengurusan yang mengemban tanggung jawab besar memiliki kapasitas memimpin organisasi dalam era baru.

Kegiatan PMKNU Menjadi Pilar Kaderisasi

Salah satu upaya memperkuat kaderisasi adalah melalui Pendidikan Menengah Kepemimpinan Nahdlatul Ulama (PMKNU). Sejumlah kandidat ketua umum PBNU telah mengikuti program ini dalam beberapa minggu terakhir. Contohnya, KH Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf, KH Imam Jazuli, dan KH Miftah Maulana Habiburrahman atau Gus Miftah yang menghadiri PMKNU wilayah Cirebon Raya pada 13–17 Mei 2026. Program ini tidak hanya memberikan pelatihan kepemimpinan, tetapi juga mempererat hubungan antar kader dari berbagai wilayah, sehingga membangun solidaritas yang bisa menjadi kekuatan dalam pemilihan nanti.

Sementara itu, KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam tercatat sebagai peserta PMKNU Soloraya yang diadakan 10–14 Juni 2026 di UIN Raden Mas Said Surakarta. Kegiatan tersebut juga dihadiri oleh tokoh akademik dan pengurus NU di berbagai daerah. Peserta PMKNU Soloraya, H. Syaifuloh Yusuf, menilai kehadiran Gus Salam memberikan dampak positif dalam suasana pelatihan. Bagi sebagian peserta, keikutsertaannya menjadi simbol generasi muda NU yang aktif dalam proses perekrutan kader.

“Keikutsertaan Gus Salam dalam PMKNU Soloraya menjadikan suasana pendidikan selama lima hari tambah hidup dan bersemangat, baik di dalam kelas, diskusi kelompok maupun saat rehat,” kata Syaifuloh Yusuf.

Syaifuloh menyatakan, sejak awal pelaksanaan pendidikan, Gus Salam dipilih secara aklamasi menjadi ketua kelas. Ia disebut konsisten mengikuti semua agenda pelatihan, termasuk kegiatan fisik pagi hari. Selain itu, Gus Salam juga aktif memimpin yel-yel dan menyanyikan mars kader PMKNU. Aktivitas tersebut menunjukkan sikap proaktif dan komunikasi yang baik dalam membangun kepercayaan antar peserta serta instruktur.

Regenerasi NU dan Konsolidasi Internal

Meski tahapan resmi pencalonan belum dimulai, proses kaderisasi dan konsolidasi organisasi mulai menjadi perhatian utama. Peserta PMKNU Soloraya menilai kehadiran kiai muda berpengaruh mengisyaratkan era baru dalam Regenerasi NU. Masyayikh Sarang menyampaikan dukungan dan doa agar Gus Salam sukses memimpin PBNU pada Muktamar ke-35 mendatang. Dengan adanya generasi muda yang aktif, NU diharapkan bisa menghadirkan perubahan yang lebih relevan dengan tuntutan zaman.

Sekretaris Jenderal PBNU Saifullah Yusuf mengatakan, organisasi terus memperkuat konsolidasi internal serta melakukan verifikasi administrasi peserta. Fokus utama adalah pembentukan panitia dan persiapan penyelenggaraan Muktamar. Ia juga menekankan pentingnya gerakan nahdliyyin berkembang mandiri melalui inisiatif dan inovasi berbasis kearifan lokal. Saifullah menambahkan, pelaksanaan kaderisasi bukan hanya untuk memenuhi syarat, tetapi sebagai bentuk membangun kapasitas kepengurusan jangka panjang.

Proses Pemilihan dan Target Pemimpin Baru

Konsolidasi internal NU dianggap sebagai bagian penting dari Main Agenda dalam menjelang Muktamar ke-35. Proses pemilihan ketua umum PBNU diharapkan bisa menghasilkan pemimpin yang memiliki kemampuan menghadapi tantangan kekinian, sekaligus mewariskan kekuatan ideologi NU. Saifullah Yusuf menjelaskan, selain kaderisasi, konsolidasi juga mencakup komunikasi intensif dengan kelompok-kelompok strategis dalam NU. Hal ini bertujuan memastikan semua pihak memiliki visi sama mengenai arah pengembangan organisasi.

Pelatihan PMKNU menjadi salah satu alat untuk membangun hubungan antar kader. Syaifuloh Yusuf menambahkan, sikap dan pengalaman Gus Salam selama pendidikan menjadi indikator kepemimpinan yang relevan untuk masa depan organisasi. Dalam sambutan penutupan, Gus Salam menyatakan nazar untuk mengajak peserta, instruktur, dan tim PMKNU mengunjungi Pondok Pesantren Al-Ittifaq di Ciwidey, Bandung, jika terpilih sebagai Ketua Umum PBNU. Nazar ini menunjukkan komitmen untuk terus melibatkan seluruh elemen kader dalam gerakan NU.

Leave a Comment