Perbedaan Trivalen dan Kuadrivalen: Ini Bedanya Vaksin Influenza yang Perlu Diketahui
Main Agenda – Sebagai bagian dari Main Agenda kesehatan publik, Indonesia tengah beralih ke vaksin influenza trivalen sebagai strategi untuk meningkatkan perlindungan terhadap masyarakat. Meski sering dianggap penyakit biasa yang bisa sembuh tanpa pengobatan khusus, influenza memiliki risiko tinggi menyebabkan komplikasi parah, terutama pada kelompok rentan. Dari data WHO Global Influenza Surveillance and System (GISRS), sekitar 290.000 hingga 650.000 orang meninggal setiap tahun karena virus ini. Dengan demikian, vaksinasi menjadi komponen utama Main Agenda untuk mengurangi beban rumah sakit dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
“Vaksin influenza tahunan adalah salah satu upaya utama dalam Main Agenda kesehatan global, karena menurunkan risiko kematian dan peningkatan pasien rawat inap,” jelas Sukamto, Ketua Satgas Imunisasi PB PAPDI, saat wawancara di Jakarta pada 4 Mei 2026. Ia menekankan bahwa kebijakan ini didasarkan pada pemantauan data selama lebih dari empat tahun terakhir, termasuk perubahan strain virus yang dominan.
Perbedaan Komposisi Vaksin Trivalen dan Kuadrivalen
Vaksin influenza di Indonesia saat ini terbagi menjadi dua jenis utama: trivalen dan kuadrivalen. Kuadrivalen dirancang untuk melindungi dari empat strain virus, yaitu A(H1N1), A(H3N2), B Victoria, serta B Yamagata. Sementara itu, trivalen hanya mencakup tiga strain, di mana salah satu dari mereka (B Yamagata) tidak lagi menjadi penyebab utama penyebaran influenza sejak Maret 2020. Kebijakan ini disesuaikan dengan rekomendasi WHO yang menilai strain B Yamagata sudah tidak signifikan dalam konteks epidemi terkini.
Dalam Main Agenda kesehatan, pemerintah Indonesia memutuskan untuk mengadopsi trivalen sebagai standar baru. Menurut Iris Rengganis, Ketua PERALMUNI, keputusan ini bukanlah tindakan sembarangan. “Rekomendasi WHO berdasarkan data selama lebih dari empat tahun, sehingga kebijakan ini lebih terarah,” katanya saat diskusi di Kalbe Kalventis. Selain itu, kebijakan ini juga diharapkan bisa mengoptimalkan penggunaan sumber daya, karena kuadrivalen dianggap lebih mahal dan memerlukan distribusi yang lebih kompleks.
Implementasi Kebijakan di Indonesia
Transisi ke vaksin trivalen sedang dilakukan secara bertahap di Indonesia. “Kita sudah mengarah ke trivalen karena mengikuti rekomendasi WHO,” ujar Iris Rengganis. Meski demikian, kuadrivalen masih tersedia sebagai pilihan bagi masyarakat yang ingin tetap menggunakan vaksin lama. Vaksinasi dilakukan sesuai kebutuhan, namun tidak gratis karena pemerintah menyesuaikan anggaran dengan kondisi ekonomi nasional.
Kelompok rentan, seperti lansia, anak-anak, dan individu dengan penyakit kronis, tetap menjadi prioritas dalam Main Agenda vaksinasi. Anggota Satgas Imunisasi IDAI, Soedjatmiko, menambahkan bahwa penggunaan trivalen telah mendapat persetujuan dari para ahli. Namun, penyebaran virus influenza A(H3N2) subclade K yang tercatat di delapan provinsi hingga Desember 2025 menjadi perhatian khusus. Pemerintah juga meningkatkan pengawasan terhadap varian ini, yang dianggap sebagai ‘Super Flu’ dengan potensi penyebaran lebih cepat.
Dalam konteks Main Agenda kesehatan nasional, pemerintah bekerja sama dengan BPOM untuk memastikan kualitas vaksin trivalen. Selain itu, kerja sama dengan Singapura ditingkatkan sebagai upaya memperkuat regulasi dan inovasi di bidang imunisasi. “Ini adalah langkah strategis dalam Main Agenda peningkatan kapasitas kesehatan masyarakat,” kata Menteri Kesehatan Budi Gunadi, menyoroti pentingnya adaptasi vaksin sesuai dengan data epidemiologi terbaru.
Program vaksinasi di Indonesia juga memperhatikan kebutuhan daerah. Di negara beriklim musim, vaksin biasanya diberikan sebelum musim dingin. Namun, di Indonesia, jadwal distribusi vaksin masih diatur secara terbatas. Ini memerlukan koordinasi lebih intensif antara pemerintah pusat dan daerah untuk memastikan akses yang merata. “Kami sedang menyusun rencana distribusi vaksin trivalen agar lebih efektif dalam Main Agenda penjangkauan masyarakat,” tambah Soedjatmiko.
Vaksin trivalen dan kuadrivalen tidak hanya menjadi isu teknis, tetapi juga komponen penting dalam Main Agenda kesehatan masyarakat. Dengan adopsi trivalen, Indonesia berupaya mengikuti perkembangan dunia dalam pengendalian flu musiman. Namun, keputusan ini juga memicu diskusi lebih lanjut mengenai efektivitas vaksin, kesadaran masyarakat, dan kebutuhan pendidikan kesehatan yang lebih luas. Dalam Main Agenda ini, upaya edukasi dan promosi vaksin menjadi tantangan utama agar lebih banyak orang memahami manfaatnya.
