Special Plan: Irjen Marzuki Ali Basyah Luncurkan Buku Polda Aceh Meutuah
Special Plan menjadi sorotan utama dalam peluncuran buku karya Polda Aceh berjudul ‘
Meutuah
‘, yang dilakukan Kapolda Aceh, Irjen Pol Marzuki Ali Basyah, di gedung BSI Landmark, Banda Aceh, pada Rabu (3/6). Buku ini dibuat oleh tim internal Polda Aceh dan menyajikan data serta hasil riset menyeluruh tentang kegiatan kepolisian di Aceh. Special Plan yang terkandung dalam buku ini bukan hanya memperkenalkan sejarah institusi, tetapi juga menggambarkan implementasi konsep
Meutuah
dalam mendorong harmoni antara kepolisian dan masyarakat Aceh.
Menjembatani Budaya Lokal dengan Kebijakan Kepolisian
Dalam sambutannya, Irjen Marzuki menekankan bahwa Special Plan ini menjadi alat untuk mengenalkan nilai-nilai kearifan lokal yang diterapkan dalam operasional kepolisian. “Kita tidak hanya berbicara tentang sejarah, tapi juga menyoroti bagaimana
Meutuah
menjadi fondasi dalam menjaga keamanan dan keadilan Aceh,” jelasnya. Konsep ini menggabungkan aspek budaya adat dengan metode modern kepolisian, yang diharapkan bisa menginspirasi generasi muda dalam memahami peran polisi sebagai bagian dari masyarakat.
Buku ini juga menjadi sarana pendidikan bagi warga Aceh, khususnya yang ingin memasuki dunia kepolisian. Wali Nanggroe Aceh, Malik Mahmud Al Haytar, menyatakan bahwa Special Plan ini memberikan wawasan baru tentang bagaimana kepolisian berperan dalam membangun harmoni sosial melalui nilai-nilai lokal. “Meutuah adalah identitas Aceh, dan buku ini membantu menyebarkan konsep tersebut ke berbagai lapisan masyarakat,” tambahnya.
Tim Penulis dan Penyunting Buku Meutuah
Buku berjumlah 250 halaman ini disusun oleh Dr Nurlis Effendi, mantan wartawan TEMPO yang sekarang menjabat Juru Bicara Pemerintah Aceh. Ia juga aktif sebagai dosen di FISIP USK dan Universitas Almuslim Bireuen. Proses penyuntingan dilakukan oleh Prof. Dr. Rustam Effendi, akademisi dari USK, serta Pemimpin Redaksi Serambi Indonesia, Zainal Arifin. Kolaborasi ini bertujuan menghasilkan karya yang akurat, relevan, dan memadukan narasi sejarah dengan prinsip Special Plan yang ingin dijaga.
Penulis buku ini menyatakan bahwa Special Plan Meutuah dihadirkan untuk menjawab tantangan zaman dalam menjaga stabilitas sosial Aceh. “Buku ini tidak hanya mengisahkan kegiatan kepolisian, tetapi juga mengajak masyarakat untuk merenungkan bagaimana nilai tradisional bisa menjadi pelaku perubahan,” ujarnya. Selain itu, buku ini diharapkan bisa menjadi sumber referensi bagi pelaku kebijakan, akademisi, dan masyarakat dalam memperkuat keberlanjutan budaya Aceh.
Kontribusi pada Proyek Pemulihan Pasca Bencana
Kapolda Aceh juga menyampaikan bahwa Special Plan Meutuah menjadi bagian dari upaya memulihkan kehidupan masyarakat setelah bencana. Misalnya, dalam proyek pemulihan akses transportasi, Polda Aceh mempercepat pembangunan jembatan Bailey di Desa Lhok Cut, Aceh Utara, yang melayani sekitar 7.000 warga. Progres pembangunan hunian tetap di Simpang Kanan, Aceh Tamiang, mencapai 45 persen, menunjukkan komitmen untuk menyelesaikan masalah kritis secara terpadu.
Selain itu, Kapolda Aceh menegaskan bahwa Special Plan ini juga menjaga ketersediaan bahan bakar selama arus balik Idul Fitri 1447 Hijriah/2026 Masehi. “Larangan penimbunan BBM adalah bagian dari strategi Special Plan untuk menghindari ketidakseimbangan pasokan dan memastikan kebutuhan warga terpenuhi,” tambahnya. Dengan demikian, buku ini tidak hanya menyajikan sejarah, tetapi juga mengenalkan strategi terbaru dalam pelayanan kepolisian yang menyentuh kebutuhan sehari-hari masyarakat.
Menginspirasi Generasi Muda Aceh
Menurut Nasir Djamil, anggota Komisi III DPR, buku ini menawarkan wawasan yang mendalam tentang Special Plan yang dijalankan oleh Polda Aceh. “Buku ini memberikan gambaran konkret tentang bagaimana kepolisian Aceh beradaptasi dengan tantangan zaman sekaligus menjaga tradisi,” katanya. Buku ini diharapkan bisa menjadi bacaan yang menarik bagi pemuda dan pemudi Aceh, serta menjadikan Special Plan sebagai bagian dari identitas baru kepolisian daerah.
Dengan penulis dan penyunting yang kompeten, buku
Meutuah
dirancang agar tidak hanya membaca, tetapi juga memicu refleksi dan aksi. “Dari konsep Special Plan ini, masyarakat bisa belajar bahwa kepolisian bukan sekadar institusi, tapi juga mitra dalam membangun masyarakat yang lebih harmonis,” pungkas Irjen Marzuki. Peluncuran buku ini menunjukkan komitmen Polda Aceh untuk menyelaraskan kebijakan dengan nilai-nilai lokal yang masih relevan hingga hari ini.