Uncategorized

Special Plan: Lombok Diguncang Tiga Gempa Dangkal dalam Tiga Jam, Ini Kata BMKG

Special Plan: Tiga Gempa Dangkal Lombok dalam Tiga Jam, BMKG Terus Analisis

Special Plan – Dalam Special Plan terbaru, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan adanya tiga gempa bumi dangkal yang mengguncang wilayah Lombok dalam kurun waktu tiga jam. Gempa pertama terjadi pada Jumat pagi, dengan magnitudo 3,7 dan kedalaman 11 kilometer. Meski intensitasnya ringan, BMKG mengimbau masyarakat tetap waspada dan memantau informasi terkini terkait fenomena geofisika tersebut.

Analisis BMKG tentang Aktivitas Sesar

Special Plan kali ini juga mencakup penjelasan mengenai sumber potensial dari rangkaian gempa di Lombok. Kepala Stasiun Geofisika Mataram, Sumawan, mengatakan bahwa dua sesar aktif, yaitu Sesar Selat Lombok dan Sesar Batu Jae, berada di sekitar lokasi episentrum. Meski sebelumnya diketahui adanya sesar tersebut, BMKG masih membutuhkan waktu untuk memverifikasi mana yang menjadi pemicu guncangan terakhir.

“Berdasarkan data yang ada, dua sesar aktif berada di sekitar wilayah Lombok, yaitu Sesar Selat Lombok dan Sesar Batu Jae. Namun, analisis lebih lanjut diperlukan untuk memastikan aktivitas sesar mana yang menyebabkan tiga gempa beruntun ini,” ujar Sumawan, Jumat (29/5/2026), seperti dilaporkan Antara.

Gempa pertama, yang terjadi pukul 04.03 WITA, berpusat sekitar 18 kilometer di utara Kabupaten Lombok Barat. Gempa kedua pada pukul 05.43 WITA berlokasi 18 kilometer di barat daya Kabupaten Lombok Utara, dengan kedalaman 13 kilometer. Gempa ketiga, pada pukul 06.13 WITA, juga berpusat di darat, sekitar 18 kilometer di utara Kabupaten Lombok Barat. Semua gempa ini memiliki intensitas II hingga III pada skala MMI, dengan dampak yang relatif kecil.

Kondisi Gempa di Wilayah Lain

Di sisi lain, Special Plan BMKG menunjukkan bahwa aktivitas seismik tidak hanya terfokus di Lombok. Dalam dua hari terakhir, Selat Lombok mencatat 59 gempa kecil. Meski getaran tersebut tidak dirasakan di Bali, warga wilayah timur pulau tetap diminta meningkatkan kewaspadaan karena potensi kejadian gempa yang bisa memicu efek lebih besar.

BMKG juga melaporkan bahwa gempa di Jawa Timur berlangsung akibat aktivitas subduksi lempeng Indo-Australia di bawah lempeng Eurasia. Selain itu, BMKG Stasiun Geofisika Kelas 1 Bandung mencatat 111 gempa di Jawa Barat selama Maret 2026, lima di antaranya terasa oleh masyarakat. Sementara itu, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Barat, khususnya Sintang, mengalami gempa dangkal dengan magnitudo 4,5 dan 5,3 masing-masing.

Special Plan BMKG menegaskan bahwa gempa-gempa tersebut termasuk dalam kategori lokal, dengan risiko tsunami minimal. Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menjelaskan bahwa aktivitas sesar di dasar laut menjadi penyebab utama guncangan di Selat Lombok dan wilayah sekitarnya. “Gempa 4,5 di Kuta Bali adalah contoh dari sesar aktif di dasar laut yang bergerak mendatar, sehingga tidak berpotensi tsunami,” kata Daryono, Sabtu (30/5/2026).

BMKG terus memantau kondisi geofisika di berbagai wilayah, termasuk dalam Special Plan untuk memastikan informasi yang diberikan akurat dan terkini. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang, tidak panik, serta mengikuti arahan dari lembaga resmi terkait. Selain itu, BMKG menekankan pentingnya pengenalan dan penerapan langkah-langkah antisipasi gempa, seperti latihan evakuasi dan pengecekan sistem peringatan dini.

Special Plan ini juga menjadi kesempatan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan potensi bencana alam. BMKG menyebutkan bahwa gempa dangkal seringkali terjadi akibat pergerakan lempeng yang tidak stabil. Dengan memahami mekanisme tersebut, masyarakat dapat lebih siap menghadapi kejadian serupa di masa depan. “Gempa adalah bagian dari siklus geologis bumi, oleh karena itu warga perlu memahami karakteristiknya dan selalu siap menghadapinya,” tambah Sumawan dalam pernyataan resmi.

Leave a Comment