PDIP Dorong Prabowo Terapkan Geopolitik Soekarno dalam Special Plan Hadapi Krisis Global
Special Plan – Dalam sebuah kuliah umum di Aula Ir. Soekarno, Universitas Bung Karno (UBK), Jakarta, Kamis (11/6/2026), Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto mengajak Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat strategi nasional dengan menggali ide geopolitik Soekarno. Kebijakan ini, yang disebut sebagai “Special Plan”, bertujuan menjawab tantangan global melalui pendekatan yang menekankan keseimbangan antara diplomasi, kerja sama internasional, dan pertahanan bangsa. Hasto menekankan bahwa pandangan Soekarno tentang geopolitik tetap relevan dan bisa menjadi acuan dalam membentuk kebijakan yang lebih proaktif.
Geopolitik Soekarno: Sebuah Sistem yang Berkelanjutan
Menurut Hasto, geopolitik Soekarno tidak sekadar teori politik, tetapi merupakan siklus yang dapat diterapkan dalam berbagai konteks. Pemikiran ini mencakup tiga tahap utama: identifikasi kepentingan nasional, keterlibatan dalam dinamika internasional, dan penguatan posisi strategis melalui kekuatan pertahanan. “Special Plan ini menggabungkan prinsip Soekarno untuk menjawab tantangan krisis global, baik dalam diplomasi maupun pertahanan,” jelasnya. Dengan pendekatan ini, Indonesia bisa menjadi negara yang tidak hanya membangun hubungan bilateral, tetapi juga mendorong kerja sama multilateral.
“Kita perlu memahami bahwa geopolitik Soekarno adalah alat untuk memperkuat kedaulatan bangsa, sekaligus menyelesaikan konflik secara lebih efektif,” tambah Hasto dalam kuliah umumnya.
Política ini, menurutnya, sangat cocok untuk situasi saat ini karena memungkinkan Indonesia menjadi ‘peace facilitator’ di berbagai wilayah seperti Timur Tengah, Semenanjung Korea, dan Selat Taiwan. Dengan Special Plan, pemerintah dapat merancang langkah-langkah yang selaras dengan aspirasi nasional, sekaligus menjaga keseimbangan dalam peran aktif di panggung global.
Kasus Penerapan: Dari Timur Tengah ke Selat Taiwan
Hasto menyoroti bagaimana Special Plan bisa diaplikasikan dalam konflik di Timur Tengah. Ia mencontohkan bahwa Indonesia bisa menggunakan pendekatan diplomasi yang khas Soekarno untuk mengarahkan negosiasi antara pihak-pihak yang berselisih. Selain itu, ia juga menyebutkan bahwa strategi ini relevan dalam menghadapi dinamika di Semenanjung Korea, khususnya dalam menjaga stabilitas antara Korea Selatan dan Korea Utara.
“Special Plan Soekarno bisa menjadi kerangka untuk menyelesaikan konflik di Selat Taiwan, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam kebijakan luar negeri,” kata Hasto.
Keterlibatan aktif dalam wilayah tersebut, lanjutnya, juga bisa memberikan manfaat ekonomi dan teknologi dari Korea Selatan, sekaligus menguatkan hubungan diplomatik dengan Korea Utara. Dengan pendekatan ini, Indonesia tidak hanya menjadi mediator, tetapi juga pihak yang mendapatkan keuntungan strategis dalam persaingan global.
Penguatan Pemikiran Pendiri Bangsa: Peran UBK dan YPS
Kuliah umum di UBK dihadiri oleh sejumlah tokoh, seperti anggota DPR RI dari Fraksi PDIP Puti Guntur Soekarno, Romy Soekarno, Once Mekel, dan Sofyan Tan. Hadir pula Yayasan Pendidikan Soekarno (YPS) Muhammad Marhaendra Putra serta civitas akademika UBK. Mereka sepakat bahwa perguruan tinggi perlu menjadi mitra strategis dalam menghidupkan kembali ide-ide pendiri bangsa.
“UBK dan YPS harus menjadi pusat pengembangan pemikiran geopolitik Soekarno, sebagai bagian dari Special Plan nasional,” tegas Marhaendra Putra.
Dengan memperkuat pendidikan geopolitik, Indonesia bisa menghasilkan generasi pemimpin yang memahami kepentingan nasional, sekaligus mampu menghadapi dinamika global secara bijak. Hasto menekankan bahwa pendekatan ini adalah kunci untuk membangun kebijakan yang berkelanjutan dan efektif.
Special Plan: Langkah untuk Masa Depan Indonesia
Kebijakan Special Plan, menurut Hasto, tidak hanya menjadi referensi historis, tetapi juga sebagai panduan praktis untuk masa depan. Ia mencontohkan bahwa kebijakan ini bisa digunakan dalam menyelesaikan krisis di berbagai bidang, seperti perubahan iklim, migrasi global, dan ketegangan geopolitik di wilayah Asia Tenggara. “Special Plan Soekarno memberikan solusi yang tidak hanya terfokus pada krisis saat ini, tetapi juga mempersiapkan Indonesia untuk tantangan di masa depan,” jelasnya.
“Dengan memahami geopolitik Soekarno, Prabowo bisa membangun kebijakan yang lebih berimbang, sekaligus menjadi pilar utama dalam diplomasi global,” papar Hasto.
Pendekatan ini, lanjutnya, juga bisa diterapkan dalam perundingan internasional yang terkini, seperti Kesepakatan Iklim Paris atau kerja sama ekonomi di ASEAN. Hasto menegaskan bahwa Special Plan adalah bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat posisi Indonesia di tingkat dunia, sekaligus menjaga keseimbangan antara kekuatan dan keterbukaan.
Kuliah umum ini menjadi momentum penting bagi PDIP untuk menggali kembali ide-ide Soekarno dalam konteks kebijakan modern. Dengan memadukan geopolitik yang relevan dan relevansi masa kini, Special Plan diharapkan bisa menjadi pondasi untuk pertumbuhan ekonomi, stabilitas politik, dan keamanan nasional. Hasto menutup kuliah umum dengan harapan bahwa Prabowo akan menerapkan gagasan ini secara konsisten, sekaligus memperkuat citra Indonesia sebagai pemimpin global yang bijak.