Uncategorized

Topics Covered: BEM UI Demo di Mabes Polri, Bawa Keranda Mayat

Aksi Mahasiswa di Mabes Polri: Simbol Kritik terhadap Reformasi

Topics Covered – Rabu (1/7/2026), Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Universitas Indonesia menggelar aksi demonstrasi di Gedung Mabes Polri dengan menampilkan simbol-simbol khas sebagai bentuk kekecewaan terhadap proses reformasi Kepolisian Republik Indonesia (Polri). Salah satu atribut utama yang dibawa oleh peserta aksi adalah keranda mayat yang ditutupi kain bertuliskan “Innalillahi wa Inna Ilaihi Rajiun Kepolisian Republik Indonesia.” Simbol ini dipilih untuk menyampaikan pesan bahwa reformasi Polri masih belum mencapai tujuan yang diharapkan. Selain keranda mayat, mereka juga membawa karangan bunga sebagai cara lain untuk menyampaikan aspirasi. Aksi ini mendapat perhatian luas karena merupakan bagian dari rangkaian protes yang dilakukan mahasiswa di berbagai daerah, dengan Topics Covered menjadi inti dari tuntutan mereka.

Perubahan Rencana Aksi

Aksi awalnya difokuskan di sekitar Monas dan Bundaran HI, tetapi kemudian diubah arahnya ke Gedung Mabes Polri untuk menguatkan pesan kritik terhadap reformasi Polri. Ratusan mahasiswa yang terlibat dalam aksi ini juga membagikan lagu-lagu perjuangan untuk membangun semangat kumpulan peserta. Polda Metro Jaya menurunkan sekitar 3.093 personel untuk menjaga ketertiban selama aksi berlangsung. Tidak hanya itu, mereka juga mengajak peserta beribadah sholawatan bersama saat buka puasa sebagai upaya memperkuat keberagaman dalam budaya protest.

“Bayangkan, secara formil dan materil, reformasi Polri ini sudah cacat sekali. Kita sudah melihat fast track legislatif yang sangat besar. Kita merasa, bila kita diam tentang hal ini, ini hanya memperkeruh situasi di dalam demokrasi Indonesia,” ujar Hafidz Haernanda, Koordinator Bidang Sosial Politik BEM UI, kepada wartawan.

Respons Kapolsek dan Pengamanan

Kapolsek Kebayoran Baru, AKBP Nugraha, mengatakan aksi tersebut diizinkan dan berjalan lancar meski terdapat dorongan-dorongan kecil dari peserta. Pihak kepolisian telah menyediakan ruang di depan Museum Polri untuk peserta unjuk rasa, serta mengatur personel secara ketat untuk mengantisipasi potensi gangguan. Pengamanan ekstra dilakukan selama bulan Ramadhan sebagai upaya memastikan ketenangan dan keselamatan publik.

Massa mulai meninggalkan lokasi pukul 17.15 setelah menyelesaikan aksi simbolik di depan Gedung Mabes Polri. Polda Metro Jaya mengerahkan hampir 4.000 personel untuk mengawasi jalannya aksi dan mencegah tindakan provokatif. Sejumlah petugas juga terlibat dalam pembersihan area aksi, sementara peserta tetap menunjukkan sikap tenang dan kooperatif. Hal ini menunjukkan kerja sama antara pihak kepolisian dan masyarakat dalam menjaga harmoni meski dengan Topics Covered yang mencolok.

Kritik terhadap Undang-Undang Reformasi Polri

Hafidz Haernanda menegaskan bahwa aksi ini dilakukan sebagai bentuk kekecewaan terhadap undang-undang reformasi Polri yang baru disahkan. Menurutnya, regulasi tersebut masih memiliki banyak kelemahan, baik dalam bentuk maupun isi. “Kita merasa, reformasi Polri yang semu itu hanya akan memperburuk kondisi demokrasi,” tambahnya. Aksi ini juga menunjukkan perhatian mahasiswa terhadap isu kriminalisasi aktivis, yang merupakan Topics Covered utama dalam kegiatan mereka.

Para mahasiswa terus mendesak pemerintah memperkuat pengawasan dalam penerapan reformasi Polri. Mereka menilai bahwa beberapa kebijakan yang diambil dalam proses reformasi tidak sepenuhnya transparan dan berpotensi memicu ketegangan. Penolakan terhadap undang-undang ini juga didukung oleh organisasi kampus lain yang menilai bahwa reformasi Polri belum mencakup perubahan mendasar dalam struktur dan kebijakan kepolisian. Aksi di Mabes Polri menjadi titik kumpul bagi berbagai kelompok yang ingin menyampaikan kekecewaan mereka terhadap Topics Covered yang dianggap tidak seimbang.

Konteks Aksi dan Tantangan Kemanan

Aksi ini terjadi dalam konteks kekhawatiran masyarakat terhadap penerapan reformasi Polri yang dianggap kurang mumpuni. Sejumlah aksi sebelumnya sempat memicu kekhawatiran, seperti insiden mobil rantis Brimob yang menewaskan Affan Kurniawan. Polda Babel bersama peserta unjuk rasa mengadakan shalat gaib untuk mendoakan korban, yang menunjukkan komitmen kepolisian dalam menjaga hubungan baik dengan masyarakat. Pengamanan ketat juga diterapkan di area sekitar Mabes Polri, dengan pengaturan pagar dan personel yang siap mengantisipasi kemungkinan gangguan.

Dalam pemeriksaan, seorang pelaku mengakui menerima uang Rp 20 juta. Ia menyebut peserta aksi tidak mengetahui isi tuntutan yang disampaikan oleh kelompok lain. Hal ini menunjukkan adanya keragaman alasan di balik aksi yang dipicu oleh Topics Covered. Meski demikian, aksi di Mabes Polri tetap dianggap sebagai bentuk keberanian mahasiswa dalam menyampaikan aspirasi mereka. Keberhasilan aksi ini juga menjadi catatan penting bagi lembaga kepolisian dalam menangani protes secara profesional.

Leave a Comment