Netanyahu Klaim Rezim Iran di Ambang Keruntuhan
Daftar Isi
Netanyahu Sebut Pemerintahan Iran Kian Terdesak Saat Meninjau Pasukan di Suriah
Beritanew.com – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa Republik Islam Iran berada pada titik yang menurutnya mendekati keruntuhan. Pernyataan tersebut disampaikan ketika ia meninjau personel militer Israel yang berada di kawasan selatan Suriah, tepatnya di sisi Suriah Gunung Hermon yang berdekatan dengan perbatasan Israel-Suriah.
Dalam kunjungan itu, Netanyahu didampingi Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz. Kehadiran dua pejabat senior Israel di wilayah tersebut kembali menegaskan sikap pemerintah Israel untuk mempertahankan peran militernya di zona keamanan di selatan Suriah.
Netanyahu menggambarkan tekanan terhadap Iran sebagai bagian dari pekerjaan yang, dalam pandangannya, belum selesai. Ia menempatkan perubahan pemerintahan di Teheran sebagai sasaran utama Israel dalam situasi regional yang terus memanas.
“Masih ada pekerjaan yang harus dilakukan. Tugas utamanya adalah menjatuhkan rezim teror di Iran. Kami sangat dekat dengan itu,” kata Netanyahu.
Pernyataan itu mencerminkan posisi keras Israel terhadap Iran, yang selama ini dipandang Israel sebagai pendukung berbagai kelompok bersenjata di Timur Tengah. Netanyahu juga menyebut jaringan kelompok yang memiliki dukungan dari Teheran akan kehilangan kekuatannya pada akhirnya.
“Kami tahu seluruh poros itu pada akhirnya akan runtuh,” ujarnya.
Makna “poros” yang disinggung Netanyahu
Istilah “poros” dalam pernyataan Netanyahu merujuk pada kelompok-kelompok di kawasan Timur Tengah yang mendapat dukungan Iran. Israel secara konsisten mengaitkan jaringan tersebut dengan ancaman keamanan di sejumlah wilayah yang berbatasan atau berada dekat dengan kepentingannya.
Ucapan Netanyahu muncul di tengah ketegangan yang belum mereda antara Teheran dan Washington. Iran serta Amerika Serikat masih berada dalam kebuntuan mengenai Selat Hormuz, jalur laut yang sangat penting bagi perdagangan energi dunia. Dalam sepekan terakhir, kedua pihak juga disebut saling melancarkan serangan.
Konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah memasuki bulan keenam sejak perang terhadap Iran dimulai pada akhir Februari. Situasi itu membuat perkembangan di Suriah, perbatasan Israel, dan kawasan Teluk saling berkaitan dalam peta keamanan regional yang lebih luas.
Israel Pertahankan Kehadiran di Zona Keamanan Selatan Suriah
Pasukan Israel telah berada di wilayah selatan Suriah sejak pemerintahan Bashar al-Assad jatuh pada Desember 2024. Area yang kini dikuasai Israel sebelumnya merupakan zona penyangga yang dipatroli Perserikatan Bangsa-Bangsa. Zona tersebut memisahkan pasukan Israel dan Suriah di sekitar Dataran Tinggi Golan, wilayah yang diduduki Israel sejak 1974.
Bagi Israel, keberadaan pasukannya di kawasan itu dikaitkan dengan kebutuhan mencegah kemunculan kekuatan bersenjata yang dianggap mengancam perbatasannya. Netanyahu menegaskan bahwa Israel tidak akan memberi ruang bagi kelompok yang ia sebut sebagai tentara teroris untuk membangun kekuatan di dekat wilayah Israel.
“Kami tidak akan membiarkan tentara teroris mana pun membangun dirinya di perbatasan kami,” kata Netanyahu.
Posisi tersebut memperlihatkan bahwa Israel tidak memandang penempatan pasukan di selatan Suriah sebagai langkah sementara semata. Para pejabat Israel berulang kali menyampaikan keinginan untuk terus mempertahankan kehadiran militer di zona keamanan itu, sekaligus mendorong terbentuknya kawasan demiliterisasi yang lebih luas.
Wilayah perbatasan Israel-Suriah memiliki arti strategis karena berdekatan dengan Dataran Tinggi Golan dan menjadi salah satu titik sensitif dalam dinamika keamanan Timur Tengah. Perubahan kendali di kawasan itu dapat memengaruhi hubungan Israel dengan pemerintah di Damaskus, serta memperbesar perhatian negara-negara lain yang berkepentingan terhadap stabilitas Suriah.
Kunjungan yang berulang
Kunjungan terbaru Netanyahu bukanlah yang pertama ke lokasi penempatan pasukan Israel di Suriah. Ia setidaknya sudah dua kali mendatangi tentara Israel di wilayah tersebut: pertama pada Desember 2024, tidak lama setelah Israel mengambil alih zona penyangga, kemudian kembali pada November 2025.
Israel Katz juga baru mengunjungi pasukan di selatan Suriah sekitar dua pekan sebelumnya. Kunjungan Katz mendapat kecaman dari Damaskus, yang memandang tindakan Israel sebagai pelanggaran terbuka terhadap kedaulatan serta keutuhan wilayah Suriah.
Perbedaan pandangan mengenai status zona keamanan menjadi salah satu sumber ketegangan yang terus melekat dalam hubungan kedua pihak. Israel menekankan alasan keamanan perbatasan, sedangkan Suriah menilai kehadiran itu sebagai pelanggaran atas wilayahnya.
Perubahan Hubungan Suriah dan Iran
Pada masa kepemimpinan Hafez al-Assad dan kemudian putranya, Bashar al-Assad, Suriah dikenal sebagai sekutu kuat Iran. Negara itu juga menjadi tempat beroperasinya kelompok paramiliter yang memiliki dukungan dari Teheran.
Hubungan tersebut berubah setelah pemerintahan Bashar al-Assad tumbang. Sejak perubahan politik itu, Israel telah menjalankan ratusan serangan udara di Suriah dan beberapa kali melakukan operasi masuk ke wilayah negara tersebut.
Rangkaian langkah Israel di Suriah tidak dapat dipisahkan dari kekhawatirannya terhadap aktivitas kelompok bersenjata yang terkait dengan Iran. Dengan situasi politik Suriah yang berubah, Israel berupaya memastikan tidak ada kekosongan keamanan yang, menurut penilaiannya, dapat dimanfaatkan oleh kekuatan yang memusuhi Israel.
Pernyataan Netanyahu di Gunung Hermon memperlihatkan bahwa konflik di sekitar Suriah kini terkait erat dengan konfrontasi yang lebih besar terhadap Iran. Bagi warga kawasan, perkembangan ini berarti ketegangan tidak hanya berlangsung di satu garis depan, melainkan terbentang dari perbatasan Suriah hingga Selat Hormuz.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Netanyahu Klaim Rezim Iran di Ambang?
Netanyahu Klaim Rezim Iran di Ambang is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Netanyahu Klaim Rezim Iran di Ambang matter?
Netanyahu Klaim Rezim Iran di Ambang matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.