Internasional

Bicara di Sidang PBB, Menlu Rusia Tuduh Eropa Hambat Perundingan Ukraina

menteri-luar-negeri-rusia-sergey-lavrov-berbicara-dalam-sidang-umum-perserikatan-bangsa-bangsa-pbb-ke-81-di-markas-besar-pbb-n-1790451929050_169
Foto : Anthony Taylor - beritanew.com
Daftar Isi
  1. Lavrov Serang Eropa di Forum PBB, Perundingan Ukraina Belum Menemukan Jalan Keluar
  2. Related Reading
  3. Frequently Asked Questions

Lavrov Serang Eropa di Forum PBB, Perundingan Ukraina Belum Menemukan Jalan Keluar

Beritanew.com – Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menggunakan panggung Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk menuduh negara-negara Eropa menghalangi proses perdamaian Ukraina. Dalam pidatonya pada Sabtu, 26 September 2026, ia menyatakan bahwa langkah diplomatik yang didukung pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump sedang mendapat hambatan dari Eropa.

“Eropa melakukan segala yang bisa dilakukan untuk menggagalkan perundingan damai yang diinginkan pemerintahan Trump,” kata Lavrov.

Pernyataan itu muncul saat upaya diplomasi yang dipimpin Amerika Serikat belum menghasilkan kesepakatan antara Moskow dan Kyiv. Trump sebelumnya kembali menyampaikan optimisme di Sidang Umum PBB bahwa perjanjian untuk mengakhiri perang antara Rusia dan Ukraina akan terwujud. Namun, perbedaan posisi kedua pihak masih besar, terutama terkait wilayah Ukraina timur yang tetap ingin direbut Rusia.

Lavrov menegaskan Moskow tetap berkomitmen mencapai sasaran yang disebut pemerintah Rusia sebagai “operasi militer khusus”. Istilah tersebut dipakai Rusia untuk menyebut perang yang dimulai dengan invasi ke Ukraina pada Februari 2022.

“Tujuan operasi militer khusus akan tercapai, ancaman terhadap keamanan Rusia akan dihilangkan dan kehidupan damai akan kembali. Ini akan terjadi apa pun keadaannya,” ujar Lavrov.

Korban Sipil Terus Bertambah

Di tengah saling tuding di forum internasional, serangan dari kedua pihak terus menimbulkan korban jiwa. Rusia dan Ukraina menyatakan sedikitnya 16 orang meninggal dalam serangan selama 24 jam terakhir hingga Sabtu.

Pemerintah Ukraina menyebut serangan Rusia menewaskan setidaknya enam orang di Sumy, wilayah timur laut Ukraina, Zaporizhzhia, serta Dnipropetrovsk. Salah satu korban adalah seorang remaja perempuan berusia 17 tahun. Di Kyiv, serangan pada siang hari Jumat juga menyebabkan tujuh orang tewas.

Sementara itu, Rusia menyatakan empat orang meninggal akibat serangan Ukraina di wilayah Krasnodar dan Belgorod. Pejabat yang ditempatkan Kremlin di kawasan selatan Ukraina yang diduduki Rusia menyebut enam orang lainnya tewas dalam rentang waktu yang sama.

Korban warga sipil menjadi salah satu perhatian utama PBB sepanjang perang. Para pejabat organisasi tersebut telah memperingatkan bahwa dampak konflik terhadap masyarakat sipil terus meningkat. Serangan terhadap kota-kota, infrastruktur, dan wilayah permukiman memperberat situasi penduduk yang telah bertahun-tahun hidup dalam ketidakpastian.

Kyiv juga sedang menghadapi tekanan tambahan menjelang musim dingin. Rusia meningkatkan serangan terhadap ibu kota Ukraina ketika kebutuhan akan keamanan energi dan layanan dasar menjadi semakin penting. Pada saat yang sama, Ukraina memperluas jangkauan serangannya ke dalam wilayah Rusia sepanjang tahun ini, termasuk hingga kawasan Ural dan Siberia.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menilai Rusia meningkatkan intensitas serangan dari hari ke hari. Ia kembali meminta negara-negara mitra Ukraina menjatuhkan sanksi tambahan terhadap Moskow.

“Mereka hanya ingin memusnahkan bangsa kami,” kata Oleksandr Gorlachov, warga Kyiv berusia 43 tahun.

Pertemuan Langka Rusia dan Jerman

Sebelum menyampaikan pidatonya di PBB, Lavrov bertemu Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul. Pertemuan ini menjadi kontak pertama antara menteri luar negeri Rusia dan Jerman sejak sebelum perang Ukraina dimulai.

Dialog tersebut berlangsung ketika hubungan Berlin dan Moskow berada dalam tekanan tinggi. Jerman menuduh Rusia berada di balik upaya serangan drone terhadap Bandara Leipzig. Kedua negara juga telah memerintahkan penutupan konsulat milik masing-masing pihak.

Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah pemerintah Eropa, termasuk Jerman, menyuarakan kekhawatiran mengenai meningkatnya dugaan sabotase Rusia di wilayah mereka. Berlin menilai insiden semacam itu sebagai bagian dari ancaman yang lebih luas terhadap keamanan Eropa dan NATO.

“Wadephul menyerukan Federasi Rusia untuk meninggalkan jalur eskalasinya yang berbahaya terhadap Jerman, Eropa, dan NATO,” kata seorang diplomat Jerman.

“Dia menegaskan bahwa insiden seperti upaya serangan baru-baru ini di Leipzig atau serangan hibrida lainnya tidak akan menggoyahkan tekad Jerman untuk mendukung Ukraina,” katanya.

Diplomat tersebut juga melontarkan kritik tajam terhadap posisi Rusia dalam perang. Ia menyebut tekanan tambahan tidak akan mengubah masalah yang dihadapi Moskow, termasuk besarnya jumlah korban tentara Rusia dan kondisi ekonomi negara itu.

Lavrov terakhir kali bertemu dengan menteri luar negeri Jerman pada Januari 2022, ketika jabatan itu masih dipegang Annalena Baerbock. Pertemuan tersebut terjadi kurang dari sebulan sebelum pasukan Rusia memasuki Ukraina. Sejak itu, Jerman menjadi salah satu pendukung utama Kyiv di Eropa.

Kritik terhadap Jerman dan Jepang

Selain menyoal perundingan Ukraina, Lavrov mengkritik gagasan reformasi Dewan Keamanan PBB yang dapat memberi ruang lebih besar kepada negara-negara Barat. Ia secara khusus menyebut Jerman dan Jepang, dua negara yang kerap dibicarakan dalam wacana perluasan keanggotaan Dewan Keamanan.

“Reformasi Dewan Keamanan PBB tidak boleh mencakup pemberian kursi tambahan kepada negara-negara Barat, terutama Jerman dan Jepang, yang kini berada di jalur menuju militerisme.”

Lavrov, menteri luar negeri Rusia yang paling lama menjabat, merupakan salah satu pejabat Moskow yang paling vokal mengkritik pemerintah Barat. Ia baru-baru ini juga menuduh Jerman kembali menginginkan perang.

Pertukaran pernyataan keras tersebut memperlihatkan bahwa jalur diplomasi masih dibayangi ketegangan yang dalam. Harapan mengenai kesepakatan Rusia-Ukraina tetap ada di meja internasional, tetapi serangan yang berlanjut, sengketa wilayah, serta memburuknya hubungan Moskow dengan negara-negara Eropa membuat penyelesaian cepat masih sulit dicapai.

Frequently Asked Questions

What is Bicara di Sidang PBB Menlu Rusia?

Bicara di Sidang PBB Menlu Rusia is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Bicara di Sidang PBB Menlu Rusia matter?

Bicara di Sidang PBB Menlu Rusia matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Leave a Comment