Adv Nhl Detikcom

Sido Muncul Latih 100 Pemilik Angkringan di Surakarta untuk Berjualan Jamu

adv-sidomuncul-1788599025108
Foto : Michael Gonzalez - beritanew.com
Daftar Isi
  1. Gerakan Seribu Angkringan Bawa Jamu ke Meja Nongkrong di Surakarta
  2. Related Reading
  3. Frequently Asked Questions

Gerakan Seribu Angkringan Bawa Jamu ke Meja Nongkrong di Surakarta

Beritanew.com – Sebuah langkah tak biasa sedang berlangsung di Kota Surakarta: seratus pedagang angkringan menerima pembekalan langsung tentang cara meracik, menyajikan, dan memasarkan jamu tradisional. Inisiatif ini bukan sekadar program CSR biasa, melainkan bagian dari strategi jangka panjang untuk memastikan warisan ramuan herbal Nusantara tetap hidup di ruang-ruang sosial yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa Tengah.

Kegiatan yang digelar pada Kamis (3/9/2026) di Hotel Novotel tersebut sekaligus menjadi penanda peringatan HUT ke-75 Sido Muncul, perusahaan jamu yang telah beroperasi sejak era Orde Baru. Direktur Marketing Sido Muncul, Maria Reviani Hidayat, menegaskan bahwa pemilihan Surakarta bukan kebetulan geografis, melainkan keputusan yang berakar pada kedalaman tradisi budaya kota itu.

Mengapa Surakarta dan Yogyakarta?

Maria menjelaskan bahwa kedua kota tersebut memiliki akar budaya yang sangat kuat, sehingga menjadi medan yang tepat untuk menanamkan kembali kebiasaan minum jamu ke dalam praktik komersial harian. Tahun sebelumnya, program serupa telah dijalankan di Yogyakarta dengan melibatkan 100 angkringan. Kini, komunitas peserta di Jogja telah berkembang menjadi 200 anggota, sementara Surakarta menjadi titik berikutnya dengan kuota 100 pedagang.

“Tahun lalu sudah diadakan di Jogja dengan 100 angkringan, sekarang anggotanya sudah 200 angkringan. Sekarang tahun ini kita adakan juga di Kota Surakarta dan sekitarnya dengan jumlah 100 angkringan,” kata Maria di Hotel Novotel, Kamis (3/9/2026).

Bagi Maria, misi utamanya bukan sekadar menambah satu item menu, melainkan menjaga agar tradisi minum jamu tidak terpinggirkan oleh arus modernisasi. Angkringan, yang secara historis identik dengan wedang jahe dan kopi tubruk, dinilai memiliki posisi strategis sebagai jembatan antara warisan herbal dan kebiasaan nongkrong masyarakat urban.

“Tujuannya adalah sama, yaitu untuk memberdayakan para pedagang angkringan untuk berjualan jamu dengan juga sambil melestarikan budaya minum jamu itu sendiri,” ungkapnya.

Materi Pelatihan: Dari Racikan hingga Media Sosial

Para pedagang yang hadir tidak hanya menerima teori. Pembekalan mencakup pengenalan produk jamu, penjelasan manfaat dan khasiat bahan-bahan herbal, standar kebersihan serta sanitasi dapur, hingga teknik meracik agar cita rasa akhir tetap nikmat bagi konsumen. Dimensi pemasaran turut mendapat porsi tersendiri: peserta dilatih memanfaatkan media sosial untuk memperluas jangkauan pasar mereka melampaui radius kaki.

“Kami juga memberikan pelatihan media sosial kepada para angkringan agar mereka bisa berpromosi, memasarkan dagangan mereka melalui media sosial,” ujar Maria.

Di sisi operasional, Maria menekankan bahwa mayoritas angkringan sudah menjual wedang jahe sebagai item harian. Penambahan jamu ke dalam daftar menu dianggap langkah logis yang memperkaya pilihan konsumen sekaligus mendekatkan produk herbal ke generasi yang lebih muda.

“Jadi sebetulnya mereka ini kan sudah menjual wedang jahe contohnya, ya. Jadi alangkah baiknya kalau ditambah dengan jamu. Jadi menambah menu juga, supaya mendekatkan diri kepada para konsumen agar masih relevan dengan zaman,” tutur Maria.

Perspektif Praktisi: Menjangkau Generasi Milenial dan Gen Z

Saryanto, S.Farm., Apt, praktisi jamu dari Unit Pelayanan Fungsional Pelayanan Kesehatan Tradisional RSUP Dr. Sardjito Tawangmangu, Yogyakarta, menilai program ini sebagai langkah strategis yang tepat untuk mendekatkan kembali warisan leluhur kepada masyarakat, khususnya anak muda. Ia mengamati bahwa tren wellness dan lifestyle kesehatan kini mendominasi perilaku konsumsi generasi muda, yang lebih sering menghabiskan waktu di kafe modern ketimbang di warung tradisional.

“Anak muda sekarang kan trennya wellness health untuk lifestyle, seringnya nongkrong di kafe. Tapi kalau angkringan ada sesuatu hal yang berbeda, saya kira jamu di angkringan ini akan tumbuh berkembang baik ketika anak muda mau dan sering berada di dalam angkringan dengan ranah jamu,” ujarnya.

Saryanto juga menyoroti inovasi produk sebagai kunci daya tarik. Jamu instan larut tanpa ampas, yang kini tersedia di pasaran, dinilai jauh lebih sesuai dengan ritme hidup anak muda dibanding ramuan tradisional yang memerlukan waktu perebusan panjang.

“Kalau dulu ada jamu komplit, sekarang sudah dibuatlah jamu komplit yang larut, jadi tidak ada ampasnya. Sehingga ketika diseduh, cairan bentuk murni itu bisa dikonsumsi dengan enak dan sesuai dengan lifestyle anak muda sekarang,” bebernya.

Mengubah Citra: Dari Pinggir Jalan ke Standar Estetika

Salah satu hambatan psikologis yang kerap menghalangi generasi muda mendekati angkringan adalah persepsi visual: tempat sederhana, kadang kumuh, berjejer di pinggir jalan. Saryanto meyakini bahwa dengan penerapan standar kebersihan, tata letak yang rapi, dan penataan ruang yang lebih estetik, angkringan berjamu tidak akan kalah saing secara visual maupun fungsional dengan kafe-kafe kontemporer.

“Citra angkringan yang kerap diidentikkan dengan tempat sederhana di pinggir jalan dinilai bisa diubah menjadi lebih estetik,” ucapnya.

Roadmap Ekspansi: Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Kota-Kota Besar

Surakarta bukan titik akhir. Sido Muncul telah memetakan perluasan Gerakan Seribu Angkringan ke sejumlah kota besar di Pulau Jawa. Semarang dan Surabaya masuk dalam daftar prioritas berikutnya, sementara Jakarta belum tercantum dalam jadwal terdekat. Fokus awal tetap di Jawa Tengah, baru kemudian meluas ke Jawa Timur.

“Untuk ke depannya ada Semarang, lalu Surabaya, Jakarta malah belum ya. Jadi yang berikutnya kita akan datang ke Kota Semarang lalu Surabaya, jadi yang utama adalah Jawa Tengah dulu kemudian Jawa Timur,” pungkasnya.

Langkah ini menempatkan Surakarta bukan sekadar satu kota dalam peta ekspansi, melainkan laboratorium budaya di mana tradisi herbal Jawa bertemu dengan ekonomi mikro warung pinggir jalan. Jika model ini berhasil, implikasinya melampaui satu merek jamu: ia berpotensi mengubah lanskap konsumsi herbal di seluruh Jawa, menjadikan angkringan bukan lagi sekadar tempat minum kopi dan wedang jahe, melainkan titik temu antara warisan farmakologi Nusantara dan kehidupan sosial generasi mendatang.

Frequently Asked Questions

What is Sido Muncul Latih 100 Pemilik Angkringan?

Sido Muncul Latih 100 Pemilik Angkringan is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Sido Muncul Latih 100 Pemilik Angkringan matter?

Sido Muncul Latih 100 Pemilik Angkringan matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Leave a Comment