Berita

Bendung Karian Lebak Menyusut, ‘Kampung Hilang’ Kini Bisa Dipijak

kondisi-bendungan-karian-menyusut-saat-kemarau-dok-istimewa-1793272682545
Foto : Susan Thomas - beritanew.com
Daftar Isi
  1. Surutnya Bendung Karian Membuka Kembali Jejak Kampung yang Lama Terendam
  2. Related Reading
  3. Frequently Asked Questions

Surutnya Bendung Karian Membuka Kembali Jejak Kampung yang Lama Terendam

Beritanew.com – Permukaan air Bendung Karian di Kabupaten Lebak, Banten, terus mengalami penurunan hingga membuat sejumlah area yang sebelumnya berada di bawah genangan kembali tampak. Di kawasan Kampung Somang, warga kini dapat menginjak daratan di sekitar Masjid Al Mujahidin yang sebelumnya terendam sebagian.

Perubahan kondisi waduk ini terlihat jelas dibandingkan situasi pada Juli lalu. Area yang dahulu hanya dapat didekati menggunakan rakit kini memperlihatkan tanah terbuka dan hamparan rumput yang mulai tumbuh. Bagi warga sekitar, pemandangan tersebut mengingatkan pada lanskap sebelum wilayah itu tergenang akibat pembangunan Bendung Karian.

Masjid Al Mujahidin Kembali Dapat Didatangi

Maman, warga di sekitar Bendung Karian, menyampaikan bahwa penyusutan air telah berlangsung sekitar satu bulan. Ia juga membagikan rekaman kondisi terbaru Kampung Somang, terutama bagian di sekitar Masjid Al Mujahidin.

“Sudah satu bulan seperti ini,” kata Maman, Kamis (29/10/2026).

Bangunan masjid yang sebelumnya setengah tenggelam kini dapat dikunjungi. Tanah di sekelilingnya tidak lagi sepenuhnya tertutup air, sementara vegetasi mulai muncul di beberapa bagian. Kondisi itu memungkinkan warga melihat kembali bentuk kawasan yang selama ini dikenal sebagai kampung tenggelam.

Untuk memudahkan perjalanan menuju area tersebut, Maman bersama sejumlah rekannya menyusun empat rakit menjadi jembatan sederhana. Rakit-rakit itu ditempatkan di dekat masjid sehingga warga tidak perlu lagi menggunakan perahu bermesin untuk menyeberang.

“Makin surut sekarang, penyeberangan nggak pakai mesin. Rakit disambung di dekat masjid. Paling cuma 60 meter,” ujar Maman.

Sebelumnya, perjalanan menyeberangi genangan memerlukan rakit bermesin. Kini, jarak penyeberangan yang tersisa sekitar 60 meter dapat dilalui melalui sambungan rakit. Jembatan darurat tersebut menjadi akses bagi warga untuk mendatangi kembali kawasan yang lama tidak bisa diinjak secara langsung.

Tiga Kampung Muncul di Area Hulu

Selain Kampung Somang, dua kawasan lain yang kembali terlihat ialah Kampung Bondol dan Kampung Taganjing. Ketiganya berada pada elevasi sekitar +62 hingga +75 meter di atas permukaan laut. Kampung Somang berada di wilayah hulu, sehingga dampak turunnya muka air lebih mudah terlihat dibandingkan lokasi lain di sekitar waduk.

Maman menggambarkan situasi saat ini menyerupai keadaan sebelum Bendung Karian dibangun. Area yang masih berisi air, katanya, dahulu merupakan aliran sungai.

“Dulu ya seperti ini. Yang sekarang masih ada air itu dulunya sungai,” ujarnya.

Kembalinya daratan di sejumlah titik memberi gambaran tentang perubahan bentang wilayah setelah bendung dibangun. Saat elevasi air turun, unsur-unsur kawasan lama seperti jalur darat, halaman bangunan, serta bagian-bagian kampung yang sebelumnya tak terlihat kembali muncul di permukaan.

Kemarau dan Kebutuhan Irigasi Mempengaruhi Muka Air

Kepala UPB Karian, Vita Ariesta Fitriana, menjelaskan penurunan muka air terjadi karena pasokan air dari hulu berkurang selama musim kemarau. Pada saat yang sama, waduk tetap menjalankan fungsinya untuk mendukung Daerah Irigasi Ciujung menjelang musim tanam I pada awal November 2026.

Pengelolaan volume air dilakukan dengan pemantauan oleh Unit Pengelola Bendungan. Elevasi muka air Bendung Karian saat ini tercatat di +62,6 meter di atas permukaan laut.

“Penyusutan yang terjadi selalu dipantau oleh Unit Pengelola Bendungan. Elevasi tinggi muka air saat ini berada di +62,6 mdpl. Jika dibandingkan dengan Rencana Tahunan Operasi Waduk 2025/2026, ini adalah normal karena masih berada di Batas Operasi Normal Atas (BON A),” ujarnya.

Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa penyusutan yang terlihat di Kampung Somang tidak dinyatakan sebagai kondisi di luar pola operasi waduk. Meski daratan lama kembali muncul, pengaturan air tetap berkaitan dengan kebutuhan irigasi serta ketersediaan aliran dari bagian hulu selama kemarau.

Bagi warga yang tinggal di sekitar Bendung Karian, perubahan ini menghadirkan pengalaman berbeda dari kondisi genangan sebelumnya. Masjid Al Mujahidin dan bagian-bagian Kampung Somang yang sempat hanya dapat dipandang dari atas rakit kini kembali bisa didatangi. Namun, kondisi tersebut juga bergantung pada elevasi air waduk, debit masuk dari hulu, serta kebutuhan pengoperasian bendung untuk kawasan irigasi.

Daratan yang muncul di Kampung Somang, Kampung Bondol, dan Kampung Taganjing menjadi penanda nyata bahwa muka air waduk sedang rendah. Di sisi lain, keberadaan rakit yang dirangkai sebagai jembatan memperlihatkan bagaimana warga menyesuaikan akses mereka dengan perubahan kondisi Bendung Karian.

Frequently Asked Questions

What is Bendung Karian Lebak Menyusut Kampung Hilang?

Bendung Karian Lebak Menyusut Kampung Hilang is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Bendung Karian Lebak Menyusut Kampung Hilang matter?

Bendung Karian Lebak Menyusut Kampung Hilang matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Leave a Comment