Uncategorized

Key Strategy: Hotel Sahid Jaya International Rugi Rp26 Miliar Sepanjang 2025, Pendapatan Anjlok 20 Persen

Key Strategy: Hotel Sahid Jaya International Rugi Rp26 Miliar pada 2025, Pendapatan Turun 20%

Key Strategy menjadi fokus utama dalam laporan keuangan Hotel Sahid Jaya International Tbk (SHID) untuk tahun 2025, di mana perseroan mencatatkan kerugian sebesar Rp26 miliar. Pendapatan total menurun 20,5 persen dibandingkan 2024, mencapai Rp123,99 miliar dari Rp155,9 miliar sebelumnya. Meski terjadi penurunan, angka ini lebih baik dibandingkan realisasi pendapatan 2023 yang sebesar Rp133,10 miliar. Perseroan tetap berupaya memperbaiki kinerja keuangan melalui strategi efisiensi biaya dan penyesuaian segmen pasar.

Pendapatan dan EBITDA Menurun

Dalam laporan keuangan yang disampaikan dalam Public Expose RUPST pada Jumat (19/6), Direktur PT Hotel Sahid Jaya International Tbk, Dhanadi Kusuma Wardana Sukamdani, menyatakan bahwa pendapatan perseroan pada 2025 mencapai Rp123,9 miliar. Penurunan pendapatan ini berdampak pada EBITDA yang menurun drastis, dari Rp54,45 miliar pada 2024 menjadi Rp34,30 miliar pada 2025. Meski demikian, Key Strategy yang diterapkan masih berupaya meminimalkan dampak negatif melalui manajemen operasional yang lebih ketat.

“Pendapatan perseroan pada 2025 mencapai Rp123,9 miliar,” kata Dhanadi Kusuma Wardana Sukamdani.

Komposisi Pendapatan Berdasarkan Segmen

Dari total pendapatan 2025, segmen kamar hotel tetap menjadi penghasil utama, menyumbang 35,5 persen. Namun, penurunan signifikan dari segmen pemerintah—yang sempat memberi kontribusi 40 persen pada 2024—menjadi faktor utama penurunan pendapatan. Segmen corporate, direct channel, dan individu mengalami peningkatan, masing-masing mencapai 15 persen, 21 persen, dan 11 persen. Meski demikian, Key Strategy yang memprioritaskan diversifikasi sumber pendapatan tetap dijalankan untuk mengimbangi ketergantungan pada segmen tertentu.

“Investor Relation GOLF, Ravenal Arvense menambahkan bahwa depresiasi rupiah tidak selalu menjadi sentimen negatif bagi perusahaan.”

Dampak Kebijakan Pajak dan Pasar

Key Strategy perseroan juga mencakup penyesuaian terhadap kebijakan pajak yang berdampak pada industri perhotelan. Penjualan HMSP (Hotel, Restoran, Kafe, dan Pusat Perbelanjaan) mengalami penurunan menjadi Rp112,17 triliun dibandingkan Rp117,88 triliun pada 2024. Sementara itu, penerimaan Pajak Bali hingga Oktober 2025 mencapai Rp13,07 triliun, tumbuh 10,32 persen dari tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini memberikan harapan positif bagi Direktorat Jenderal Pajak Bali dalam mendukung perusahaan dalam situasi kinerja yang menurun.

Kebijakan tertentu yang berlaku selama 2025, seperti perubahan regulasi atau kenaikan biaya operasional, turut memengaruhi persepsi pasar. Perputaran uang selama musim mudik Lebaran 2025 diperkirakan mencapai Rp137,97 triliun, menunjukkan penurunan signifikan dibanding tahun sebelumnya. Key Strategy yang diambil perseroan mencakup pengoptimalan pendapatan dan pengendalian biaya untuk menjaga stabilitas keuangan.

Strategi Efisiensi dan Langkah Pemulihan

Dalam rangka meningkatkan efisiensi biaya, SHID memperkuat Key Strategy melalui penggunaan dana murah atau current account savings account (CASA). Strategi ini bertujuan untuk menekan biaya produksi dan meningkatkan kinerja keuangan. Selain itu, perusahaan juga melakukan penyesuaian segmen pasar dengan memperbesar kontribusi dari segmen corporate dan direct channel.

Perubahan ini mencerminkan adaptasi terhadap tantangan industri. Dengan Key Strategy yang terfokus pada diversifikasi sumber pendapatan, SHID berharap dapat memperkuat daya tahan bisnis meski menghadapi tekanan dari segmen pemerintah yang mengalami penurunan signifikan. Meski terjadi penutupan beberapa gerai, perusahaan berhasil mempertahankan laba bersih tahun buku 2025 sebesar Rp1,20 triliun, yang menjadi dasar bagi pembagian dividen kepada pemegang saham.

Kinerja Keuangan dan Pemulihan Berkelanjutan

Key Strategy yang dijalankan SHID pada 2025 juga mencakup pengendalian manajemen keuangan yang lebih ketat. Dengan menekan biaya produksi dan meningkatkan pendapatan dari segmen non-pemerintah, perseroan mencoba memperbaiki kondisi keuangan. Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap 371 karyawan menjadi bagian dari langkah-langkah efisiensi tersebut.

Meski pendapatan turun, SHID menunjukkan kemampuan adaptasi dalam menghadapi perubahan pasar. Key Strategy ini menegaskan komitmen perusahaan untuk memulihkan kinerja melalui strategi yang terukur, seperti peningkatan kontribusi segmen corporate dan direct channel. Dengan pendapatan F&B tetap menjadi penopang utama, perusahaan berupaya membangun fondasi yang lebih kuat untuk tahun-tahun mendatang.

Leave a Comment