Emiten Ini Raup Untung dari Pelemahan Nilai Tukar Rupiah
Latest Program menjadi salah satu strategi utama yang menarik perhatian investor dan perusahaan terkait dalam kondisi pelemahan nilai tukar Rupiah. PT Intra GolfLink Resorts Tbk (GOLF) mencatatkan keuntungan signifikan dari situasi ini, menurut Ravenal Arvense dari Investor Relation GOLF. Dalam wawancara terkini, ia menjelaskan bahwa depresiasi Rupiah bukanlah musuh, tetapi peluang untuk memperkuat posisi ekspor dan menarik pasar internasional, terutama di destinasi wisata Bali yang menjadi fokus perusahaan. “Latest Program ini mengharuskan kami menyesuaikan strategi bisnis agar tetap relevan dengan dinamika pasar yang terus berubah,” ungkap Ravenal.
Manfaat Pelemahan Rupiah bagi Bisnis Pariwisata
Dalam rangka memanfaatkan Latest Program, GOLF mengambil langkah strategis untuk meningkatkan daya tarik Bali kepada wisatawan mancanegara. Ravenal menjelaskan bahwa dengan Rupiah yang lebih lemah, pengeluaran turis asing untuk menginap di vila eksklusif atau menggunakan fasilitas golf menjadi lebih terjangkau. “Kami telah melihat peningkatan jumlah pengunjung dari luar negeri sejak pelemahan Rupiah terjadi, terutama dari pasar Eropa dan Asia Tenggara,” tambahnya. Selain itu, situasi ini juga memperkuat keuntungan dari transaksi ekspor, karena biaya operasional perusahaan bisa ditekan dengan nilai tukar yang lebih rendah.
“Kami membidik pertumbuhan pendapatan dobel digit hingga sebesar 10 persen pada 2026 ini,”
kata Ravenal, menambahkan bahwa proyek ekspansi yang menjadi bagian dari Latest Program terus berjalan secara bertahap. Perusahaan juga menargetkan pengembangan segmen bisnis baru, seperti wisata kuliner dan event kelas atas, yang memanfaatkan keuntungan dari pelemahan Rupiah. Selain itu, GOLF berupaya memperluas jaringan pemasaran dengan memanfaatkan platform digital dan kerja sama internasional, sekaligus meningkatkan promosi destinasi Bali sebagai pusat pariwisata premium.
Pengembangan Proyek Banyan Tree dan Strategi Pemasaran
Sebagai bagian dari Latest Program, GOLF telah mengalokasikan anggaran belanja modal (capex) sebesar Rp300 miliar untuk proyek Banyan Tree di New Kuta Golf, Bali. Proyek ini diharapkan menjadi ikon pariwisata berkelas dunia, dengan 70 vila eksklusif yang dibangun di atas lahan seluas 5,1 hektare. Selain fasilitas golf, vila tersebut juga dilengkapi dengan restoran bintang, spa, dan area komersial yang menarik bagi pasar internasional.
Dalam konteks Latest Program, GOLF memperkuat strategi pemasaran melalui inovasi layanan dan pengembangan kota wisata yang terpadu. Perusahaan menyatakan bahwa proyek ini tidak hanya menawarkan pengalaman menginap mewah, tetapi juga memastikan harga yang kompetitif bagi wisatawan asing. “Kami berharap Latest Program ini bisa menjadi bahan untuk membangun hubungan jangka panjang dengan investor internasional,” jelas Ravenal, yang juga menyebutkan bahwa proyek Banyan Tree akan meningkatkan nilai investasi di sektor properti Bali.
Kinerja Perusahaan dalam Konteks Pelemahan Rupiah
Dalam laporan kuartal pertama 2026, GOLF mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 20,6% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Laba bersih meningkat menjadi Rp1,595 miliar dari Rp1,323 miliar di kuartal I-2025. Kenaikan ini didorong oleh peningkatan pendapatan sebesar 1,3% menjadi Rp28,824 miliar dan kenaikan laba kotor sebesar 5,4% ke Rp15,356 miliar. Ravenal mengungkapkan bahwa Latest Program berperan penting dalam menggerakkan kinerja perusahaan, terutama melalui pengembangan segmen pasar yang lebih luas.
Perusahaan juga berharap pertumbuhan ini bisa terus berlanjut hingga akhir tahun 2026, dengan proyek Banyan Tree sebagai pendorong utama. Ravenal menekankan bahwa pelemahan Rupiah menjadi bagian dari upaya menyelaraskan bisnis GOLF dengan kebutuhan pasar global. “Dengan Latest Program, kami bisa menawarkan paket wisata yang lebih murah bagi turis mancanegara, sekaligus meningkatkan kualitas layanan,” jelasnya. Hal ini mencerminkan adaptasi perusahaan terhadap dinamika ekonomi yang terus berubah.
Perspektif Investor dan Dampak Ekonomi
Latest Program juga menarik minat investor yang memperhatikan potensi pertumbuhan sektor pariwisata dan properti. Ravenal Arvense menilai bahwa pelemahan Rupiah membuka peluang ekspor dan pendapatan dari luar negeri, yang bisa memperkuat nilai saham perusahaan. “Investor sangat tertarik melihat perusahaan seperti GOLF yang mampu memanfaatkan situasi ekonomi nasional secara efektif,” tutur Ravenal dalam Public Expose GOLF, Jakarta, Rabu (3/6). Namun, ekonom dari Permata Bank menyoroti bahwa pelemahan Rupiah tidak selalu berdampak positif, terutama jika tidak diiringi strategi pemasaran yang tepat.
Di sisi lain, pergeseran preferensi investor terhadap aset yang lebih stabil menjadi tantangan. Situasi saat ini menunjukkan bahwa kebijakan moneter dan ekonomi global tetap menjadi faktor utama. Meski demikian, Ravenal yakin bahwa Latest Program bisa menjadi solusi untuk mengatasi ketidakstabilan tersebut. “Kami percaya bahwa Latest Program ini akan menjadi jembatan antara bisnis lokal dan global,” katanya, menegaskan bahwa proyek Banyan Tree akan menarik minat investor untuk berpartisipasi dalam pertumbuhan jangka panjang.
Kesimpulan dan Harapan Masa Depan
Latest Program terus menjadi pusat perhatian bagi Emiten seperti GOLF yang berupaya memanfaatkan pelemahan Rupiah sebagai peluang bisnis. Dengan strategi yang tepat, perusahaan bisa meningkatkan pendapatan dan memperluas pasar, sekaligus memperkuat citra destinasi Bali. Ravenal Arvense menambahkan bahwa keberhasilan ini tidak hanya tergantung pada kinerja ekonomi nasional, tetapi juga pada kolaborasi dengan pihak eksternal. “Kami berharap bisa melanjutkan keberhasilan Latest Program ini hingga 2027, ketika proyek Banyan Tree beroperasi penuh,” tuturnya.
Dengan berbagai strategi yang diimplementasikan, GOLF menunjukkan bahwa pelemahan Rupiah bisa menjadi peluang bisnis yang berkelanjutan. Perusahaan juga berharap kondisi ini bisa memperkuat pertumbuhan di sektor properti dan pariwisata, sekaligus menarik investor baru yang tertarik pada risiko dan keuntungan yang lebih tinggi. “Latest Program ini adalah bagian dari rencana jangka panjang kami untuk menjadi salah satu emiten terbaik di sektor pariwisata Indonesia,” pungkas Ravenal, menegaskan komitmen terhadap keberlanjutan bisnis di tengah ketidakpastian pasar.