Program Anyar BUMN Peruri Dorong Kemandirian Penyandang Disabilitas
Special Plan – Dalam rangka meningkatkan kemandirian penyandang disabilitas, Peruri, salah satu perusahaan BUMN, meluncurkan Special Plan yang bertujuan memberikan pelatihan keterampilan dasar ke berbagai daerah. Pelatihan cetak sablon yang diadakan di Rumah BUMN Karawang menjadi bagian dari upaya ini, dengan partisipasi peserta dari berbagai latar belakang. Kemitraan antara Peruri dan Kreasi Tuli Indonesia (KTI) Foundation memperkuat komitmen perusahaan dalam memperluas akses pemberdayaan ekonomi inklusif. Special Plan ini diharapkan menjadi pintu masuk bagi penyandang disabilitas untuk terlibat secara aktif dalam kegiatan ekonomi, terlepas dari hambatan yang mereka hadapi.
Komitmen BUMN dan Keterampilan Berbasis Teknologi
Adi Sunardi, Head of Corporate Secretary Peruri, menegaskan bahwa Special Plan ini selaras dengan visi perusahaan dalam menciptakan masyarakat yang terampil dan kompetitif. Program ini tidak hanya fokus pada pengembangan keterampilan praktis, seperti cetak sablon, tetapi juga mendorong peningkatan kepercayaan diri peserta. “Dengan Special Plan, kami ingin memastikan bahwa penyandang disabilitas memiliki peluang yang sama untuk berkarya dan berkontribusi secara nyata di sektor ekonomi,” jelas Adi. Pelatihan ini dirancang agar peserta bisa memanfaatkan teknologi modern dalam memperluas usaha mereka, termasuk melalui media digital dan platform e-commerce.
Inaraya, pendiri KTI Foundation, menyoroti bahwa pelatihan menyablon dipilih karena tekniknya mudah dipelajari dan memiliki peluang pasar yang luas. “Banyak penyandang disabilitas memiliki semangat tinggi dan potensi unik, tetapi belum mendapat pelatihan yang sesuai. Keterampilan ini bisa menjadi bekal penting bagi mereka, baik untuk memulai usaha sendiri maupun bekerja di bidang percetakan,” tambah Inaraya. Special Plan ini juga diharapkan memperkuat kerja sama antara lembaga swadaya masyarakat dengan BUMN, sehingga mampu memberikan solusi berkelanjutan bagi penyandang disabilitas.
Kebijakan Ekonomi Inklusif dan Partisipasi Pemerintah Daerah
Dalam rangka mendukung Special Plan Peruri, Pemerintah Daerah Cianjur juga memberikan perhatian khusus melalui program Unit Layanan Disabilitas (ULD). Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi setempat menegaskan bahwa kebijakan ini bertujuan memperluas peluang kerja penyandang disabilitas, termasuk melalui pelatihan kewirausahaan. Special Plan ini sejalan dengan upaya pemerintah daerah dalam mewujudkan ekonomi inklusif, di mana penyandang disabilitas diberikan kesempatan kerja yang setara.
Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) turut berperan dalam memperluas akses kerja penyandang disabilitas melalui berbagai pelatihan. Sebagai contoh, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta sukses menggelar Pelatihan Grafir Kayu Disabilitas tahap kedua, yang menjadi bagian dari Special Plan nasional. Program serupa juga dilakukan oleh Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Barat, yang memberikan pelatihan seni kriya bagi 50 peserta, termasuk kelompok rentan seperti ibu rumah tangga dan perempuan putus sekolah. Special Plan ini memperlihatkan peran kolaboratif antara pemerintah pusat dan daerah dalam menghadirkan kesempatan kerja yang inklusif.
Sebagai bagian dari Special Plan, Peruri juga menyoroti pentingnya pendidikan vokasional bagi penyandang disabilitas. Melalui pelatihan cetak sablon, peserta diberikan kesempatan untuk menguasai teknik-teknik dasar yang bisa diaplikasikan langsung dalam bisnis mereka. Adi Sunardi menekankan bahwa program ini diharapkan menjadi pengingat bahwa penyandang disabilitas tidak hanya mampu berkiprah di sektor sosial, tetapi juga dalam bidang teknologi dan inovasi. “Kami ingin menunjukkan bahwa Special Plan tidak hanya tentang keberlanjutan, tetapi juga tentang transparansi dan tanggung jawab sosial yang nyata,” ujar Adi.
Manfaat Program dan Harapan Masa Depan
Program Special Plan yang diinisiasi Peruri dan KTI Foundation diharapkan tidak hanya meningkatkan kemandirian ekonomi penyandang disabilitas, tetapi juga menciptakan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan pasar. Inaraya menambahkan bahwa keterampilan cetak sablon bisa menjadi salah satu pintu masuk bagi peserta untuk memasuki dunia kerja atau usaha mandiri. “Ini adalah langkah awal, tetapi kami ingin Special Plan ini menjadi gerakan yang berkelanjutan, sehingga peserta bisa terus berkembang dan menjadi pelaku ekonomi yang mandiri,” jelas Inaraya.
Kemitraan BUMN dengan organisasi sosial seperti KTI Foundation menjadi strategi penting dalam Special Plan ini. Dengan kolaborasi yang lebih erat, program pelatihan bisa diperluas ke daerah-daerah lain yang masih kurang mendapat perhatian. Selain itu, Special Plan ini diharapkan menjadi contoh bagi perusahaan-perusahaan lain untuk terlibat dalam pemberdayaan penyandang disabilitas. “Kami ingin melibatkan lebih banyak BUMN dalam Special Plan ini, agar lebih banyak orang disabilitas bisa merasakan manfaatnya,” tambah Adi.