Internasional

Paus Leo Kunjungi Paris 7 Bulan Sebelum Pemilu, Kandidat Presiden Hadiri Misa

paus-leo-xiv-tengah-berjalan-menuju-kerumunan-setelah-memimpin-misa-khidmat-di-ruang-terbuka-di-place-de-la-concorde-pusat-kot-1790436723633_169
Foto : Michael Gonzalez - beritanew.com
Daftar Isi
  1. Paus Leo XIV Pimpin Misa Besar di Paris Menjelang Pemilu Prancis
  2. Related Reading
  3. Frequently Asked Questions

Paus Leo XIV Pimpin Misa Besar di Paris Menjelang Pemilu Prancis

Beritanew.com – Paris menjadi pusat perhatian umat Katolik pada Sabtu (26/9) ketika Paus Leo XIV memimpin misa terbuka di tengah kunjungannya ke Prancis. Acara tersebut berlangsung tujuh bulan sebelum warga Prancis memilih pengganti Presiden Emmanuel Macron, sehingga kehadiran sejumlah figur politik nasional turut menarik perhatian.

Ratusan ribu orang memadati kawasan pusat kota untuk mengikuti misa yang dipimpin pemimpin Gereja Katolik berusia 71 tahun itu. Paus Leo XIV, paus pertama yang berasal dari Amerika Serikat, menjalani lawatan empat hari ke negara yang menganut sekularisme namun memiliki sejarah Katolik yang panjang.

Kunjungan ini memiliki arti tersendiri bagi Prancis karena menjadi perjalanan kepausan resmi pertama ke negara tersebut dalam hampir 20 tahun. Di tengah suasana politik menjelang pemilu April-Mei, agenda keagamaan itu juga mempertemukan simbol-simbol iman, isu sosial, dan dinamika publik yang sedang berkembang.

Misa di Place de la Concorde

Agenda utama pada hari kedua kunjungan Paus Leo XIV digelar di Place de la Concorde. Sebuah kanopi putih berukuran besar dipasang untuk menjadi altar sementara, sementara puluhan layar ditempatkan di berbagai titik agar jamaah yang berada jauh dari lokasi utama tetap dapat mengikuti jalannya perayaan.

Misa berlangsung sekitar satu setengah jam. Ketika cuaca Paris yang kelabu mulai diterobos cahaya matahari, doa-doa Paus terdengar bersama alunan paduan suara dan organ. Paus Leo mengenakan jubah liturgi putih saat menyampaikan pesannya kepada umat yang hadir.

“Benar-benar baik dan menyenangkan ketika saudara-saudari berkumpul dan memuliakan kebesaran Tuhan,”

Area sepanjang lebih dari dua kilometer hingga melewati Arc de Triomphe dipenuhi kerumunan. Vatikan menyebut jumlah peserta mencapai sekitar 700 ribu orang. Pusat Paris ditutup selama acara berlangsung, dengan pengamanan ketat melalui patroli helikopter dan penempatan penembak jitu di sejumlah bangunan.

Di sepanjang Champs-Elysees, sebagian peserta duduk di trotoar sambil memeluk lutut dan menundukkan kepala dalam doa. Banyak keluarga datang bersama anak-anak mereka. Ada orang tua yang membawa kereta bayi, sementara yang lain mengangkat anak ke pundak demi memberi mereka kesempatan melihat Paus secara langsung.

Sebelum misa, Paus Leo XIV melintasi Champs-Elysees menggunakan mobil kepausan. Sorak-sorai terdengar dari warga yang membawa bendera Prancis dan Vatikan, menciptakan suasana penyambutan yang meriah di salah satu jalan paling dikenal di Paris.

Pengalaman Keluarga dan Semangat Kebersamaan

Jeanne de Montagnac, 29 tahun, hadir bersama suami serta putri mereka yang berusia dua tahun. Anak itu duduk di bahu ayahnya, dengan nomor telepon yang ditulis menggunakan pena di lengannya sebagai langkah pengamanan di tengah lautan manusia.

“Kami bahagia karena meskipun dia tidak akan mengingatnya, kami bisa berbagi pengalaman ini dengannya,”

Jeanne mengenakan sweater putih gading dengan salib emas kecil tergantung di atasnya. Baginya, pertemuan besar tersebut bukan semata kesempatan menyaksikan pemimpin Katolik dunia, melainkan juga pengalaman bersama sesama orang yang memiliki keyakinan serupa.

“Ini adalah momen penting bagi kami untuk dikelilingi orang-orang lain yang juga memiliki keyakinan,”

Antusiasme semacam ini terlihat sejak hari pertama kunjungan. Pada Jumat (25/9), sekitar 300 ribu orang diperkirakan menyaksikan Paus Leo melambaikan tangan dari mobil kepausan saat menuju Katedral Notre Dame. Francois Mabille, direktur Geopolitical Observatory on Religion, menggambarkan suasananya sebagai kebangkitan semangat yang mengingatkan pada kunjungan Yohanes Paulus II lebih dari empat dekade lalu.

Pesan tentang Migran, Perempuan, dan Perdamaian

Sebelum memimpin misa Sabtu, Paus Leo XIV mengunjungi Maison Bakhita, organisasi yang mendampingi para pengungsi, dan bertemu dengan para migran. Dalam pertemuan itu, ia menyoroti kemungkinan untuk membangun kehidupan bersama yang menjunjung nilai kemanusiaan.

“Memungkinkan bagi kita untuk saling bertemu dan hidup bersama dalam martabat dan perdamaian.”

Ia juga menekankan pentingnya perempuan dalam kehidupan sosial.

“Peran fundamental perempuan dalam membangun peradaban cinta.”

Maison Bakhita memandang lawatan Paus itu sebagai sebuah pesan menjelang pemilihan presiden. Waktunya memang berdekatan dengan fase penting politik Prancis, ketika kelompok kanan antiimigrasi menilai pemilu mendatang sebagai peluang besar untuk merebut kursi kepresidenan.

Beberapa nama yang berpotensi maju sebagai kandidat hadir dalam misa Paris, di antaranya tokoh sayap kanan Marine Le Pen dan politikus tengah Edouard Philippe. Emmanuel Macron tidak datang langsung dan diwakili oleh istrinya, Brigitte Macron.

Kehadiran para tokoh tersebut memperlihatkan besarnya perhatian terhadap acara yang pada dasarnya merupakan perayaan keagamaan. Namun, misa tetap berpusat pada pesan iman, perdamaian, serta penghormatan terhadap martabat manusia di tengah perbedaan sosial dan politik.

AI, Ukraina, dan Agenda Lanjutan

Pada Jumat, Paus Leo juga mengangkat persoalan perkembangan kecerdasan buatan. Ia menegaskan pentingnya etika agar manusia tidak terjebak dalam gambaran “surga mesin” yang dipacu oleh AI. Pesan itu menempatkan kemajuan teknologi dalam kerangka tanggung jawab manusia dan nilai moral.

Di tengah perang yang memasuki tahun kelima di Ukraina, Paus meminta Prancis terus mengambil peran sebagai negara yang memperjuangkan perdamaian. Ia menyebut Prancis perlu tetap menjadi “juara perdamaian yang tak kenal lelah”.

Pada malam yang sama di sebuah stadion di luar Paris, Paus menyampaikan pesan khusus kepada kaum muda dan menyebut mereka sebagai “orang-orang kudus Prancis”. Setelah rangkaian kegiatan di Paris, ia dijadwalkan bertolak ke Lourdes pada Sabtu malam.

Lourdes, kota di barat daya Prancis, dikenal luas dalam tradisi Katolik karena dipercaya menjadi tempat Perawan Maria menampakkan diri kepada seorang gadis petani di sebuah gua pada 1858. Pada Minggu (27/9), Paus Leo dijadwalkan berbicara dengan tujuh korban kekerasan seksual yang dilakukan anggota klerus.

Frequently Asked Questions

What is Paus Leo Kunjungi Paris 7 Bulan?

Paus Leo Kunjungi Paris 7 Bulan is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Paus Leo Kunjungi Paris 7 Bulan matter?

Paus Leo Kunjungi Paris 7 Bulan matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Leave a Comment