Berita

Serba-serbi Hari Terakhir Stasiun Karet Sebelum ‘Pensiun’

stasiun-karet-1-september-ditutup-padahal-penumpangnya-sebanyak-ini-1788159262089_169
Foto : Anthony Taylor - beritanew.com
Daftar Isi
  1. Stasiun Karet Tutup Layanannya: Ribuan Commuter Jakarta Dialihkan ke BNI City Mulai September
  2. Related Reading
  3. Frequently Asked Questions

Stasiun Karet Tutup Layanannya: Ribuan Commuter Jakarta Dialihkan ke BNI City Mulai September

Beritanew.com – Sebuah era panjang dalam sejarah perkeretaapian Jakarta akan berakhir dalam hitungan jam. Pada Senin, 31 Agustus 2026, Stasiun Karet di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, melayani penumpang untuk terakhir kalinya. Sejak 1 September 2026, seluruh aktivitas naik dan turun kereta komuter yang selama ini berlangsung di peron stasiun tersebut akan dialihkan sepenuhnya ke Stasiun Sudirman Baru, yang juga dikenal sebagai Stasiun BNI City.

Keputusan ini bukan keputusan mendadak. Proses integrasi fisik antara kedua stasiun telah dikerjakan secara bertahap oleh KAI Daop 1 Jakarta bersama KAI Commuter. Tujuannya adalah menyatukan dua titik layanan yang berdekatan menjadi satu sistem yang lebih efisien, sehingga penumpang tidak lagi perlu memilih antara dua stasiun yang jaraknya hanya beberapa ratus meter.

Apa yang Terjadi Secara Operasional

Mulai 1 September, tidak ada lagi layanan penumpang di Stasiun Karet. Petugas KAI Commuter telah menyiapkan seluruh fasilitas penunjang di sisi barat Stasiun BNI City, termasuk gate elektronik, loket tiket, dan ruang tunggu (hall) yang terhubung langsung dengan selasar penghubung dari arah pintu Karet. Artinya, penumpang yang selama ini turun di Karet kini akan melanjutkan langkahnya melalui selasar tersebut menuju area layanan BNI City.

Dalam siaran pers yang beredar, KAI Commuter menegaskan bahwa jumlah perjalanan Commuter Line dari dan menuju lintas Kampung Bandan/Cikarang melalui koridor Karet–Sudirman Baru/BNI City tetap sebanyak 264 perjalanan per hari. Tidak ada pengurangan frekuensi atau perubahan rute. Satu-satunya yang berubah adalah titik naik dan turun penumpang: dari peron Karet menjadi peron Sudirman Baru/BNI City.

Adapun layanan Commuter Line Basoetta yang juga singgah di Stasiun BNI City tidak mengalami perubahan sama sekali selama masa transisi ini. Pola keberangkatan dan kedatangan kereta Basoetta tetap berjalan sesuai jadwal yang berlaku.

Kondisi di Hari Terakhir

Pantauan di lokasi pada Senin pagi menunjukkan bahwa peron Stasiun Karet masih dipadati penumpang. Peron 1, yang melayani kedatangan dari arah Bekasi, Manggarai, dan Cikarang, tampak lebih ramai dibandingkan peron 2. Para pekerja kantoran berbaris panjang untuk keluar dari stasiun setelah turun dari kereta. Frekuensi kedatangan KRL terpantau normal, dengan interval sekitar lima menit antar-kereta.

Kepadatan ini menjadi gambaran nyata betapa besarnya ketergantungan harian ribuan pekerja terhadap titik akses Karet selama bertahun-tahun. Bagi mereka, perubahan ini bukan sekadar soal perpindahan nama stasiun di peta, melainkan penyesuaian rutinitas yang sudah terlanjur mengakar.

Respon Penumpang: Antara Praktis dan Kecewa

Di tengah keramaian peron, para penumpang yang biasa disebut “anker” (anak kereta) menyampaikan pandangan yang beragam soal pengalihan layanan ini.

Aca, seorang pekerja asal Tangerang yang setiap hari menggunakan Stasiun Karet sebagai titik turun menuju kantornya, menyambut perubahan tersebut dengan sikap terbuka. Baginya, skala Stasiun Karet yang relatif kecil justru membuat mobilitas penumpang menjadi terbatas.

“Sebenarnya mungkin karena Karet ini kecil ya stasiunnya. Jadi kalau misalnya dipindahkan di BNI City itu buat mobilisasinya lebih mudah aja buat penumpang-penumpangnya gitu.”

Ia berharap integrasi ini pada akhirnya membuat perjalanan harian lebih efisien bagi seluruh pengguna, bukan hanya dirinya.

“Ya semoga dengan pemindahan aja ya, berarti kalau misalnya itu semoga mobilisasinya lebih mudah buat penumpang yang lainnya juga nggak menyulitkan lah gitu, lebih efisien juga nanti.”

Sebaliknya, Nadia, penumpang asal Bekasi, menyampaikan keberatan. Baginya, Stasiun Karet selama ini menjadi titik yang sangat praktis karena kedekatannya dengan berbagai tujuan di sekitar Menteng dan Sudirman. Perpindahan ke BNI City, menurutnya, akan menambah jarak tempuh berjalan kaki secara signifikan.

“Jujur kalau dari aku nggak setuju ya. Dari aku nggak setuju karena aku dari Stasiun Karet tuh dimudahkan banget karena ke mana-mana tuh dekat. Jadi aku ke kantor juga dari Stasiun Karet tuh jalan. Pun kalau misal jadi ke BNI City tuh jadi jauh banget jalannya gitu.”

Nadia juga menyoroti minimnya sosialisasi terkait perubahan ini. Ia menyebut bahwa selasar penghubung tidak dilengkapi panduan video, tutorial, maupun petunjuk visual yang memadai bagi penumpang yang belum pernah menggunakannya.

“Mungkin yang pertama sosialisasinya ya ditingkatkan, itu gimana. Karena kita juga lewat selasar itu nggak ada videonya, nggak ada tutorialnya, segala macamnya tuh nggak ada. Terus yang kedua mungkin bisa dibantu ya transumnya dimudahkan atau gimana.”

Persiapan Infrastruktur dan Aksesibilitas

Tim KAI telah memastikan bahwa jalur pejalan kaki dari Stasiun BNI City menuju arah Karet dan sebaliknya sudah tersedia. Papan penunjuk arah terpasang di sepanjang jalur keluar penumpang, sehingga pengguna yang belum familiar dengan rute baru dapat menemukan arah dengan lebih mudah. Gate elektronik, loket, dan hall di sisi barat BNI City telah tersambung langsung ke selasar, menciptakan satu alur pergerakan yang terpadu.

Langkah ini sejatinya merupakan bagian dari strategi jangka panjang KAI Commuter untuk mengonsolidasikan titik-titik layanan yang berdekatan menjadi satu pusat transit yang lebih besar, lebih terkelola, dan lebih mudah diintegrasikan dengan moda transportasi lain di kawasan Sudirman–Menteng. Dengan skala yang lebih besar, stasiun hasil integrasi diharapkan mampu menampung volume penumpang yang terus tumbuh seiring ekspansi kawasan perkantoran di jantung ibu kota.

Bagi ribuan commuter yang selama ini menjadikan Stasiun Karet sebagai gerbang harian mereka, transisi ini menandai akhir sebuah kebiasaan yang telah berlangsung puluhan tahun. Namun bagi sistem perkeretaapian Jakarta secara keseluruhan, langkah ini merupakan bagian dari upaya menyederhanakan koridor, meningkatkan kapasitas, dan memastikan bahwa pertumbuhan penumpang tidak lagi terhambat oleh keterbatasan infrastruktur titik-titik layanan kecil yang tersebar di sepanjang jalur.

Frequently Asked Questions

What is Serba serbi Hari Terakhir Stasiun Karet?

Serba serbi Hari Terakhir Stasiun Karet is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Serba serbi Hari Terakhir Stasiun Karet matter?

Serba serbi Hari Terakhir Stasiun Karet matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Leave a Comment