Key Strategy Prabowo Setujui Family Office, Siap Rekrut Tokoh Senior Inggris
Key Strategy – Presiden Prabowo Subianto menyetujui pembentukan family office sebagai bagian dari Key Strategy untuk meningkatkan daya saing investasi Indonesia di tingkat global. Luhut Binsar Pandjaitan, Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), mengungkapkan bahwa langkah ini tidak bergantung pada dana APBN, melainkan menarik sumber dana dari pasar internasional. “Key Strategy ini bertujuan mengelola aset dan investasi keluarga besar secara profesional, serta meningkatkan kredibilitas Indonesia sebagai destinasi investasi,” jelas Luhut di Jakarta, Senin (25/5/2026).
Menurut Luhut, family office akan berperan sebagai wadah pengelolaan keuangan yang menarik bagi investor global. Ia menekankan bahwa lembaga ini akan beroperasi secara mandiri, dengan skala pendanaan yang menyesuaikan kebutuhan pasar. “Kita berharap family office bisa menjadi jembatan untuk mengakuisisi dana besar dari Timur Tengah, khususnya USD 100-200 miliar yang terkumpul di sana,” ujarnya. Strategi ini juga diharapkan mendorong pemerintah menarik modal asing lebih efektif dengan membangun ekosistem keuangan yang kompetitif.
Den Mengusulkan Model Pusat Keuangan Global
Luhut menambahkan bahwa DEN merancang model family office yang mengacu pada pengalaman pusat keuangan internasional seperti Dubai dan Singapura. “Key Strategy kami mengambil inspirasi dari pengelolaan keuangan global yang efisien dan terstruktur,” kata Septian Hario Seto, anggota DEN, dalam wawancara beberapa waktu lalu. Menurut Septian, family office akan fokus pada sektor pariwisata, khususnya Bali, sebagai pusat baru untuk menarik modal asing.
Model ini menekankan keberlanjutan kebijakan yang menjaga transparansi dan kepercayaan investor. “Kita tidak hanya ingin menarik uang masuk, tetapi juga memastikan dana yang sudah ada tidak terbuang begitu saja,” imbuhnya. Den menyatakan bahwa kebijakan family office akan diintegrasikan ke dalam regulasi nasional agar lebih mudah diterima oleh pihak internasional. Pada tahap awal, lembaga ini akan mengelola kekayaan pribadi dan keluarga besar, kemudian berkembang menjadi penyedia layanan keuangan untuk investor lain.
Kemitraan dengan Tokoh Senior Inggris Jadi Prioritas
Luhut menegaskan bahwa pihaknya sedang menjajaki kemitraan dengan tokoh senior dari Inggris untuk bergabung sebagai penasihat atau mitra. “Key Strategy ini membutuhkan keahlian internasional, terutama di bidang investasi dan pengelolaan keuangan,” tambahnya. Menurut Luhut, tokoh Inggris akan membawa pengalaman dalam membangun ekosistem keuangan yang atraktif, serta memperkuat hubungan diplomasi ekonomi antara Indonesia dan negara-negara anggota G7.
Menurut Luhut, langkah ini bertujuan mengatasi keterbatasan kinerja keuangan nasional dalam menarik dana asing. “Kita ingin membangun sistem yang lebih cepat dan akurat, mirip dengan pendekatan yang digunakan di Dubai,” ujarnya. Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan, mengakui bahwa family office akan menjadi inisiatif khusus, tetapi dana APBN tetap dialokasikan untuk mendukung pengembangan infrastruktur pendukung. “Key Strategy ini bukan hanya tentang menerima dana, tetapi juga menciptakan lingkungan investasi yang stabil,” pungkas Purbaya.
Dalam konteks global, family office diharapkan menjadi salah satu alat untuk memperkuat posisi Indonesia dalam persaingan ekonomi. “Key Strategy ini sejalan dengan visi pembangunan ekonomi yang berkelanjutan, dengan fokus pada keberagaman dan transparansi,” terang Luhut. Menurutnya, kehadiran tokoh senior dari Inggris akan membantu membangun hubungan strategis, terutama dalam hal pemasaran produk keuangan dan jasa di pasar internasional.
Proyek ini juga diharapkan menjadi contoh keberhasilan bagi negara-negara lain yang ingin mengembangkan kebijakan serupa. “Key Strategy ini akan menunjukkan bahwa Indonesia mampu menawarkan solusi keuangan yang inovatif,” tambah Septian. Den menyatakan bahwa family office akan dipandu oleh regulasi yang fleksibel dan didukung oleh kemampuan teknis yang tinggi. “Kita perlu menyamakan langkah kebijakan dengan standar internasional agar bisa menarik investasi besar,” ujarnya.