Main Agenda: Cegah Keracunan, SPPG Dilarang Masak Mi untuk MBG Tanpa Chef Andal
Main Agenda – Sebagai bagian dari Main Agenda, Badan Gizi Nasional (BGN) memberikan arahan khusus kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk mencegah risiko keracunan makanan. Langkah ini dilakukan setelah ditemukan bahwa masakan mi yang diproses tanpa pengawasan ahli masak memadai menjadi penyebab gangguan pencernaan pada sejumlah peserta Program Makanan Balita Gratis (MBG). Inspeksi yang dilakukan oleh Wakil Kepala BGN, Nanik Sudaryati Deyang, menyoroti ketidaksempurnaan proses pengolahan makanan di Jakarta Timur, yang berdampak pada 147 anak yang mengalami gejala makanan tidak baik.
Kasus dan Menu yang Terlibat
Kasus keracunan makanan terjadi pada Jumat (8/5) dan melibatkan berbagai jenis makanan, seperti bakmie Djawa, ayam suwir, pangsit tahu kukus, tauge rebus, timun, tomat, jamur krispi, dan semangka. Nanik Sudaryati Deyang, dalam unggahan Instagram @nanik_deyang dan @sidakbgn, menjelaskan bahwa kejadian tersebut diduga terkait dengan proses pengolahan mi yang tidak memenuhi standar. “Minggu malam saya melakukan sidak ke dapur MBG dan menemukan penyebab 147 anak mengalami gangguan pencernaan, dari mana 33 di antaranya harus dirawat,” tambah Nanik.
“Karena mi basah atau mi kuning segar rentan mengalami pembusukan karena kadar air tinggi, kami dari BGN pusat telah menyusun surat edaran untuk memastikan SPPG tidak memasak mi tanpa chef andal. Kami juga menyosialisasikan kebijakan ini melalui kepala regional dan koordinator wilayah,”
Menurut Nanik, kejadian tersebut mengingatkan pentingnya Main Agenda dalam menjaga kualitas pangan. Dia menekankan bahwa teknik memasak yang tepat, terutama untuk makanan berbasis mi, harus dipandu oleh tenaga ahli yang kompeten untuk mengurangi risiko kontaminasi mikroba. Selain itu, menu spaghetti juga pernah dikaitkan dengan gangguan pencernaan, menunjukkan bahwa masalah ini tidak hanya terbatas pada satu jenis makanan.
BGN Tegaskan Standar dan Sanksi
BGN menegaskan bahwa keamanan pangan menjadi prioritas utama dalam Main Agenda. Sebagai tindak lanjut, mereka memberikan surat edaran ke seluruh SPPG di Indonesia, termasuk di Jakarta Timur, untuk mewajibkan penggunaan chef andal dalam proses pengolahan makanan. Selain itu, BGN juga menerapkan SLHS (Surat Laporan Hasil Sidak) sebagai langkah mitigasi untuk mencegah Kejadian Luar Biasa (KLB) di program MBG.
“Main Agenda ini mengingatkan kita bahwa setiap langkah dalam program MBG harus didukung oleh standar kesehatan yang ketat. Kami telah melakukan pelatihan kepada 1.800 penjamah makanan di Bogor dan Sukabumi untuk memperkuat tata kelola dan menjaga kualitas pangan,”
Nanik juga mengungkapkan bahwa dampak dari Main Agenda ini tidak hanya mengurangi risiko keracunan, tetapi juga meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap program MBG. “Dengan adanya panduan teknis dari BGN, diharapkan SPPG bisa memenuhi kebutuhan nutrisi balita secara aman dan terjamin,” jelasnya. Langkah ini menjadi bagian dari komitmen BGN untuk menjaga kesinambungan program MBG yang telah dijalankan di berbagai daerah.
Evaluasi dan Langkah Penguatan
Dinas Kesehatan DKI Jakarta menanggapi langsung kasus yang terjadi dan berencana memperkuat monitoring terhadap SPPG. Mereka akan menyediakan pelatihan khusus untuk penjamah makanan, terutama fokus pada proses memasak dan penyimpanan bahan-bahan pangan. Nanik Sudaryati Deyang menegaskan bahwa Main Agenda ini tidak hanya tentang mencegah keracunan, tetapi juga memastikan keberlanjutan program MBG dalam memenuhi target peningkatan gizi anak.
“Selama ini kita sering mengabaikan proses pengawasan teknis dalam MBG, tetapi Main Agenda ini mengingatkan bahwa setiap makanan yang disajikan harus memenuhi standar keamanan pangan. Kami akan terus memperketat pengawasan agar tidak ada lagi kejadian serupa,”
Kebijakan BGN ini juga diterapkan di Papua Pegunungan, di mana 14 dapur MBG aktif telah menyetujui standar pengolahan makanan yang lebih ketat. Nanik menuturkan, keberhasilan program MBG tergantung pada konsistensi penerapan Main Agenda, termasuk penggunaan chef andal dan teknik memasak yang tepat. Dengan demikian, program MBG yang merupakan inisiatif dari Presiden Prabowo diharapkan bisa memberikan manfaat maksimal bagi balita di seluruh Indonesia.
