Siswa Kelas 2 SD di Pemalang Tewas Diduga Di-bully Kakak Kelas
Siswa Kelas 2 SD di Pemalang Meninggal, Polisi Dalami Dugaan Perundungan
Beritanew.com – Seorang siswa kelas 2 SD di Pemalang, Jawa Tengah, berinisial A (7), meninggal dunia setelah diduga mengalami perundungan dan kekerasan oleh kakak kelas. Korban merupakan murid SDN 1 Kebondalem. Polisi masih menyelidiki rangkaian kejadian serta penyebab pasti kematian anak tersebut melalui pemeriksaan saksi dan autopsi.
Penanganan perkara ini dilakukan oleh Satreskrim Polres Pemalang bersama Polsek Pemalang Kota. Informasi awal mengenai meninggalnya korban diterima dari masyarakat, kemudian ditindaklanjuti dengan langkah penyelidikan untuk mengumpulkan fakta secara menyeluruh.
Polisi Periksa Saksi dan Lakukan Autopsi
Kasat Reskrim Polres Pemalang AKP M Wildan Umar mengatakan penyidik menerima laporan adanya seorang anak yang meninggal dunia dan diduga berkaitan dengan tindakan kekerasan. Kepolisian kemudian meminta keterangan dari sejumlah pihak, termasuk keluarga korban.
“Ya, kami satreskrim bersama Polsek Pemalang Kota menerima laporan dari masyarakat atau adanya informasi bahwa ada seorang anak meninggal dunia yang diduga akibat adanya tindakan kekerasan,” kata AKP M Wildan Umar, Kamis (1/10/2026).
Sejak Rabu (30/9) malam, penyidik telah melakukan pemeriksaan awal terhadap beberapa saksi. Keterangan yang dikumpulkan diperlukan untuk menyusun urutan peristiwa sebelum korban meninggal, termasuk dugaan kekerasan yang dilaporkan keluarga.
Jenazah siswa kelas 2 SD di Pemalang itu diautopsi di RSUD M Azhari Pemalang. Pemeriksaan medis tersebut didukung tim Bidokkes Polda Jawa Tengah dengan pendekatan scientific crime investigation untuk membantu menentukan penyebab kematian korban.
“Dan hari ini, kami sedang melaksanakan autopsi kepada korban untuk mengetahui penyebab kematian dari korban,” kata Wildan.
Autopsi merupakan bagian penting dalam penyelidikan karena hasilnya dapat menjelaskan kondisi medis korban secara objektif. Polisi belum menyampaikan kesimpulan soal penyebab kematian maupun keterkaitan dugaan perundungan dengan meninggalnya A karena hasil pemeriksaan forensik masih didalami.
“Terkait jenazah nanti kami akan jelaskan, kami akan dalami dengan pihak tim forensik Biddokkes Polda Jateng. Karena saat ini terkait dengan pelaksanaan autopsi kami dibantu oleh Biddokkes Polda Jateng secara scientific crime investigation,” tambahnya.
Keluarga Menyebut Korban Sempat Lebih Pendiam
Ibu korban, Diah Indriyanti (36), mengaku sangat terpukul atas meninggalnya anak ketiganya. Menurutnya, A sempat mengalami perubahan perilaku dan lebih banyak diam. Korban juga disebut tidak berani menceritakan dugaan penganiayaan yang dialaminya kepada keluarga.
Keterangan dari keluarga menjadi salah satu unsur yang akan dipelajari penyidik. Namun, informasi tersebut tetap perlu dikonfirmasi melalui pemeriksaan saksi lain dan temuan medis. Polisi masih mendalami seluruh fakta sebelum mengambil kesimpulan terkait kasus siswa kelas 2 SD di Pemalang tersebut.
Diah mengatakan putranya sempat menjalani perawatan di rumah sakit selama sembilan hari. Setelah diperbolehkan pulang, korban berada di rumah selama tiga hari. Keluarga kemudian berniat membawanya kembali ke rumah sakit, tetapi A meninggal dunia.
“Hari Kamis tanggal 17 kemarin, selama 9 hari dirawat di rumah sakit. Pulang dari rumah sakit 3 hari, kemudian kemarin berniat dibawa ke rumah sakit kembali, tapi seperti itu (meninggal dunia),” kata Diah.
Pentingnya Respons Cepat terhadap Dugaan Kekerasan Anak
Kasus ini menegaskan pentingnya penanganan serius terhadap setiap dugaan kekerasan pada anak, baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah. Perubahan perilaku seperti menjadi lebih pendiam, takut berangkat sekolah, atau enggan berbicara dapat menjadi hal yang perlu diperhatikan oleh orang tua dan pihak sekolah dengan pendekatan yang empatik.
Dalam situasi seperti ini, anak perlu diberi ruang aman untuk bercerita tanpa tekanan atau ancaman. Orang tua juga dapat mencatat keluhan, perubahan kondisi, atau informasi yang disampaikan anak agar dapat membantu saat diperlukan pemeriksaan lebih lanjut oleh tenaga medis maupun pihak berwenang.
Bagi pihak sekolah, setiap laporan dugaan perundungan perlu ditangani secara hati-hati dan berpihak pada keselamatan anak. Komunikasi dengan keluarga serta pendampingan yang sesuai dapat membantu mencegah persoalan berkembang lebih jauh.
FAQ tentang Kasus Siswa Kelas 2 SD di Pemalang
Apa yang sedang dilakukan polisi? Polisi memeriksa saksi, meminta keterangan dari keluarga, dan menunggu hasil autopsi untuk mengetahui penyebab kematian korban serta mendalami dugaan adanya kekerasan.
Apakah penyebab kematian korban sudah dipastikan? Belum. Kepolisian masih menunggu dan mendalami hasil pemeriksaan forensik bersama Bidokkes Polda Jawa Tengah.
Apa yang dapat dilakukan orang tua jika anak diduga mengalami perundungan? Dengarkan cerita anak dengan tenang, perhatikan kondisi fisik dan emosionalnya, cari bantuan medis bila diperlukan, serta sampaikan laporan kepada pihak sekolah atau aparat berwenang sesuai keadaan.
Hingga kini, penyelidikan kematian siswa kelas 2 SD di Pemalang masih berlangsung. Keluarga menanti kejelasan atas peristiwa tersebut, sementara kepolisian berupaya mengungkap fakta berdasarkan keterangan saksi dan hasil pemeriksaan forensik.