Berita

Kemenag Ingatkan Etika Berdakwah Usai Viral Ceramah Habib Alwi Assegaf

kepala-biro-humas-dan-komunikasi-publik-kementerian-agama-thobib-al-asyhar-1771771040891_169
Foto : Michael Gonzalez - beritanew.com
Daftar Isi
  1. Kemenag Tekankan Kesantunan Dakwah di Tengah Polemik Ceramah Viral
  2. Related Reading
  3. Frequently Asked Questions

Kemenag Tekankan Kesantunan Dakwah di Tengah Polemik Ceramah Viral

Beritanew.com – Polemik mengenai rekaman ceramah yang dikaitkan dengan Habib Alwi bin Abdurrahman Assegaf mendorong Kementerian Agama mengingatkan pentingnya etika dalam berdakwah. Perhatian publik menguat setelah isi candaan dalam video tersebut dinilai merendahkan perempuan serta jemaah lanjut usia.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga menyampaikan sikap tegas dengan meminta masyarakat tidak lagi mengundang maupun mengikuti majelis yang dipimpin penceramah tersebut. Bagi MUI, materi yang beredar tidak sejalan dengan sikap yang seharusnya ditunjukkan seorang dai di hadapan umat.

Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik Kemenag, Thobib Al Asyhar, menyatakan dakwah tidak sebatas penyampaian ajaran agama. Cara bertutur dan perilaku penceramah juga menjadi bagian penting dari pesan yang diterima masyarakat.

“Dalam Islam, selain berfungsi menyampaikan pesan keagamaan, dakwah juga memberikan keteladanan melalui tutur kata dan perilaku. Rasulullah SAW adalah rujukan agung bagaimana dakwah Islam dijalankan,” kata Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik Kemenag Thobib Al Asyhar kepada wartawan, Rabu (21/10/2026).

Humor Tidak Boleh Menjatuhkan Martabat

Kemenag menekankan bahwa dai yang berbicara di ruang publik perlu mempertimbangkan dampak setiap penyampaian, termasuk ketika menggunakan humor. Candaan dalam ceramah dapat menjadi bagian dari komunikasi, tetapi tidak semestinya berubah menjadi ucapan yang melukai kehormatan kelompok tertentu.

Pesan keagamaan memiliki posisi yang kuat dalam kehidupan jemaah. Karena itu, keteladanan penceramah bukan hanya terlihat dari tema ceramah, melainkan juga dari pilihan kata, sikap terhadap pendengar, serta kemampuan menjaga suasana majelis agar tetap menghormati sesama.

“Karena itu, setiap penceramah atau dai yang berbicara di ruang publik hendaknya senantiasa menjaga etika dalam menyampaikan materi ceramah, termasuk dalam menggunakan humor agar tidak merendahkan atau melukai martabat orang lain,” ujarnya.

Pengingat tersebut muncul ketika ruang digital membuat potongan ceramah dapat tersebar luas dalam waktu singkat. Ucapan yang disampaikan dalam suatu majelis kini tidak hanya diterima oleh orang-orang yang hadir, tetapi juga dapat dinilai masyarakat yang lebih luas melalui rekaman video dan media sosial.

Dalam situasi seperti ini, penyampaian dakwah yang sejuk dan menghargai pendengar menjadi penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat. Majelis keagamaan diharapkan menjadi tempat belajar, memperoleh tuntunan, dan memperkuat hubungan sosial, bukan ruang yang memunculkan penghinaan atau perdebatan karena perkataan yang tidak pantas.

Kemenag Hormati Peran MUI

Menanggapi seruan MUI agar masyarakat memboikot Habib Alwi, Kemenag menyatakan menghormati posisi organisasi tersebut sebagai mitra pemerintah dalam pembinaan umat. Kemenag juga mencatat adanya aspirasi serta respons publik yang berkembang seiring viralnya video ceramah itu.

“Terkait polemik yang berkembang, Kemenag mencermati aspirasi dan respons masyarakat. Kami pun menghormati peran MUI sebagai mitra pemerintah dalam membimbing umat. Harapannya, ruang dakwah dan majelis keagamaan tetap menjadi ruang yang menyejukkan, mendidik, serta memperkuat penghormatan terhadap sesama,” ungkapnya.

Sikap ini memperlihatkan bahwa pembicaraan mengenai etika dakwah tidak berhenti pada satu tokoh atau satu rekaman. Isunya berkaitan dengan tanggung jawab seluruh penceramah untuk menjadikan mimbar sebagai sarana penyampaian nilai agama yang bermartabat dan tidak memecah penghormatan di tengah masyarakat.

Bagi jemaah, polemik ini juga menjadi pengingat untuk menilai materi ceramah secara kritis tanpa mengabaikan nilai kesopanan. Dakwah yang baik semestinya membantu umat memahami ajaran, membangun akhlak, dan menghadirkan ketenangan dalam kehidupan bersama.

Seruan Tegas dari MUI

Wakil Ketua Umum MUI KH M Cholil Nafis sebelumnya menilai ceramah yang dikaitkan dengan Habib Alwi tidak mencerminkan etika maupun teladan seorang dai. Ia memandang narasi tersebut berisiko memberi dampak buruk terhadap citra dakwah Islam dan moral masyarakat.

“Sodare-sodare, jangan undang lagi dan tak usah diikuti majelisnya orang model gini ya,” tegas Kiai Cholil Nafis melalui unggahan di akun X (Twitter) pribadinya @cholilnafis, dikutip dari laman MUI, Selasa (20/10/2026).

Rais Syuriah PBNU itu menegaskan status sosial maupun latar belakang seseorang tidak dapat menjadi alasan untuk membenarkan ceramah yang melanggar nilai kesantunan. Baginya, seorang penceramah tetap perlu memenuhi standar kepantasan karena membawa pesan agama kepada publik.

“Seperti ceramahnya asli ini. Begini ini mau apapun statusnya tak layak menjadi penceramah. Bikin rusak agama dan manusia dengan ceramah model gini. Boro-boro menyebarkan Islam, malah ini yang merusak Islam,” ujar Cholil.

Isi Video yang Memicu Kritik

Reaksi publik bermula dari video yang tersebar di sejumlah platform media sosial. Dalam rekaman itu, sosok yang dikenali warganet sebagai Habib Alwi bin Abdurrahman Assegaf membicarakan tarif ceramah yang disebut paling rendah mencapai Rp75 juta.

Polemik kemudian menguat saat ia melontarkan kelakar kepada santri perempuan dan jemaah berusia lanjut. Di hadapan peserta majelis, penceramah tersebut menyatakan ingin mencari calon istri keempat di antara santriwati yang diminta untuk dihadirkan.

“Keluarkan santri-santri perempuan. Santri laki-laki gue udah eneg. Perempuan, keluarin ane mau pilih. Mudah-mudahan ada santri perempuan yang mau saya jadiin istri keempat,” kata pendakwah dalam rekaman tersebut.

Ucapan lain yang menjadi sorotan ditujukan kepada ibu-ibu berusia di atas 60 tahun yang hadir dalam majelis. Pernyataan itu dinilai banyak pihak sebagai bentuk candaan yang tidak menghormati perempuan dan lansia.

“Enggak ada pahalanya ceramah depan emak-emak, ngotor-ngotorin mata. Tapi kalau perawan seger. Maaf-maaf nih, ane begini, aye tukang becanda,” kelakarnya.

Perdebatan yang muncul menegaskan kembali kebutuhan akan batas etis dalam mimbar keagamaan. Kebebasan berbicara dan gaya penyampaian seorang dai tetap perlu berjalan bersama tanggung jawab untuk menjaga kemuliaan pendengar, terutama ketika materi ceramah disampaikan kepada jemaah yang beragam usia dan latar belakangnya.

Frequently Asked Questions

What is Kemenag Ingatkan Etika Berdakwah Usai Viral?

Kemenag Ingatkan Etika Berdakwah Usai Viral is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Kemenag Ingatkan Etika Berdakwah Usai Viral matter?

Kemenag Ingatkan Etika Berdakwah Usai Viral matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Leave a Comment