Dw

Keamanan dan Privasi Perempuan-Anak di Nepal Sangat Rentan Usai Banjir

pascabanjir-nepal-keamanan-dan-privasi-perempuan-dan-anak-begitu-rentan-1790851981267
Foto : David Gonzalez - beritanew.com
Daftar Isi
  1. Pengungsian Pascabanjir di Nepal Menyisakan Ancaman bagi Perempuan dan Anak
  2. Related Reading
  3. Frequently Asked Questions

Pengungsian Pascabanjir di Nepal Menyisakan Ancaman bagi Perempuan dan Anak

Beritanew.com – Sebulan setelah banjir bandang menghancurkan sejumlah wilayah di Nepal, kebutuhan akan tempat tinggal yang aman masih menjadi persoalan mendesak, terutama bagi perempuan hamil, anak-anak, dan keluarga yang terpisah akibat bencana. Di berbagai tenda darurat, keterbatasan ruang pribadi, sanitasi, air bersih, serta penerangan menambah beban para penyintas yang telah kehilangan rumah dan anggota keluarga.

Karishma Tamang, 26 tahun, termasuk di antara warga yang harus menjalani hari-hari penuh ketidakpastian. Perempuan hamil dari Distrik Rasuwa itu kehilangan komunitasnya setelah banjir dan kini menanti kelahiran anak keduanya sambil merawat putrinya yang berusia empat tahun.

Pada awal masa pengungsian, Karishma dan banyak warga lain ditempatkan di sebuah aula beratap milik Pemerintah Kota Bidur di Distrik Nuwakot. Ratusan orang harus menggunakan tempat tersebut secara bersamaan selama beberapa hari, sebuah kondisi yang membuat kebutuhan dasar akan privasi sulit dipenuhi.

“Awalnya, kami ditampung di sebuah aula beratap di Pemerintah Kota Bidur, Distrik Nuwakot.”

Kemudian, ia dipindahkan bersama putrinya ke tenda keluarga darurat berukuran kecil di Barahachaur. Namun, perpindahan itu belum menghadirkan rasa aman yang ia butuhkan. Saat hujan turun pada malam hari, air dapat masuk melalui bagian tenda yang bocor sehingga mereka kesulitan beristirahat. Duka Karishma juga belum mereda karena saudara laki-laki serta dua keponakannya masih belum ditemukan.

“Sekarang kami telah pindah ke tenda keluarga darurat kecil di kawasan Barahachaur yang tak jauh dari sana. Namun, kami tetap tidak bisa tidur pada malam-malam hujan karena tenda bocor saat hujan turun.”

Sanitasi dan ruang pribadi masih terbatas

Di sekitar tempat tinggal sementara itu memang tersedia kakus darurat, tetapi fasilitasnya belum memadai. Bagi perempuan hamil, anak-anak, dan keluarga dengan kebutuhan khusus, keterbatasan toilet serta ruang untuk membersihkan diri bukan hanya soal kenyamanan. Kondisi tersebut berkaitan langsung dengan keselamatan, kesehatan, dan martabat penyintas.

Karishma berharap keluarganya dapat memperoleh hunian yang lebih layak: tempat untuk memasak, menjaga anak, serta menjalani kehidupan sehari-hari tanpa rasa takut. Keinginan itu mencerminkan kebutuhan banyak pengungsi yang tidak sekadar membutuhkan atap, melainkan lingkungan yang memungkinkan mereka pulih dari dampak bencana.

“Akan sangat bagus jika ada tempat tinggal yang mumpuni, di mana saya bisa memasak makanan sendiri, merasa aman, dan sedikit nyaman.”

Banjir pada 26 Agustus dipicu oleh runtuhnya gletser di kawasan perbatasan Nepal-China. Bencana tersebut menewaskan sekitar 1.450 orang dan menyebabkan lebih dari 5.500 orang lainnya hilang. Nilai kebutuhan rekonstruksi diperkirakan mencapai €4,2 miliar, atau sekitar Rp85,2 triliun.

Besarnya angka korban menunjukkan bahwa pemulihan tidak akan selesai hanya dengan menyiapkan penampungan sementara. Keluarga yang kehilangan tempat tinggal juga menghadapi putusnya jaringan sosial, kehilangan sumber pengasuhan, dan tekanan psikologis yang dapat berlangsung lama, terutama ketika masa tinggal di pengungsian berlarut-larut.

Perjalanan mencari air menambah kerentanan

Sabita Tamang, 24 tahun, tinggal di tenda darurat di Barahachaur setelah kehilangan putrinya yang berusia lima tahun, seorang keponakan laki-laki, dan seorang keponakan perempuan. Dalam kesehariannya, ia harus berjalan cukup jauh menuju sumber air terdekat untuk mengambil air dan mandi.

Aktivitas yang seharusnya sederhana menjadi sulit karena keterbatasan fasilitas mandi yang tertutup. Perempuan dan anak perempuan menghadapi rasa tidak nyaman ketika harus membersihkan diri di area terbuka bersama orang asing maupun warga setempat yang belum mereka kenal.

“Kami merasa tidak nyaman mandi di tempat terbuka di antara orang asing dan penduduk setempat yang tidak kami kenal.”

Sabita juga menaruh perhatian pada anak-anak yang menyaksikan anggota keluarga, teman, atau tetangga terseret banjir. Pengalaman kehilangan dan kekacauan setelah bencana dapat mengganggu rasa aman anak, sementara akses pendidikan berisiko terhambat ketika keluarga masih harus berpindah-pindah atau bertahan di tenda darurat.

“Banyak anak-anak yang menyaksikan anggota keluarga, teman, dan tetangga mereka tersapu banjir.”

Kekhawatiran akan eksploitasi dan pernikahan anak

Save the Children Nepal menekankan perlunya penguatan perlindungan bagi anak-anak dan keluarga di seluruh kawasan terdampak. Organisasi tersebut menyoroti risiko perdagangan manusia, kekerasan, eksploitasi, dan pernikahan anak dalam situasi ketika keluarga kehilangan rumah, sumber dukungan, dan pengawasan yang biasanya tersedia di lingkungan asal mereka.

Sejumlah keluarga telah berpindah ke kamar sewaan, tetapi ratusan orang masih menetap di kamp pengungsian dan penampungan sementara di distrik Nuwakot serta Dhading. Ruang bersama yang dapat diakses tanpa batas oleh orang tidak dikenal menjadi perhatian khusus bagi keselamatan perempuan dan anak perempuan.

Ayush Joshi, direktur advokasi, kampanye, komunikasi, dan media Save the Children Nepal, menjelaskan bahwa penilaian organisasi itu melibatkan penyintas, termasuk perempuan dan anak-anak, serta relawan di wilayah banjir. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa banyak lokasi pengungsian didirikan dalam kondisi mendesak tanpa perencanaan memadai.

“Banyak tempat penampungan sementara dibangun tanpa perencanaan. Kamp-kamp di pinggiran kota memiliki penerangan yang tidak memadai pada malam hari serta kurangnya kamar mandi terpisah dan ruang pribadi.”

Kurangnya pencahayaan setelah gelap, toilet yang tidak dipisahkan, dan absennya ruang privat membuat lingkungan pengungsian lebih rentan terhadap rasa takut maupun kemungkinan pelecehan. Risiko itu dinilai lebih besar bagi remaja perempuan dan anak-anak, yang sering kali memiliki kemampuan terbatas untuk mencari bantuan sendiri.

“Situasi seperti itu meningkatkan risiko ketidakamanan, potensi pelecehan, dan eksploitasi, terutama bagi remaja perempuan dan anak-anak.”

Dalam banyak keluarga, bencana memisahkan orang tua dan anak atau membuat anggota keluarga yang lebih tua mengambil peran pengasuh bagi adik-adiknya. Ketika kebutuhan hidup mendesak belum terpenuhi, anak-anak dapat terdorong meninggalkan sekolah, sementara tekanan ekonomi dan sosial dapat meningkatkan kerentanan terhadap pernikahan usia anak.

Pemulihan pascabanjir di Nepal karenanya perlu mencakup lebih dari pembangunan kembali rumah dan infrastruktur. Penampungan yang aman, toilet terpisah, akses air, penerangan, perlindungan anak, serta ruang yang menjaga privasi perempuan merupakan bagian penting dari upaya memastikan para penyintas dapat memulai kembali kehidupan mereka dengan lebih aman.

Frequently Asked Questions

What is Keamanan dan Privasi Perempuan Anak di Nepal?

Keamanan dan Privasi Perempuan Anak di Nepal is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Keamanan dan Privasi Perempuan Anak di Nepal matter?

Keamanan dan Privasi Perempuan Anak di Nepal matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Leave a Comment